-->

Senja Oranye

| 9:23 AM |

Harapan Eli dan Rakhma 

Selamat pagi dunia....

Salam hangat dari Tuhan buat para pelaku hidup melalui sinar sang surya. Tak mau kalah pagi ini kita juga disambut oleh kerajaan awan yang begitu memukau. Rupanya kerajaan awan begitu sibuk pagi ini. Terlihat dari balik kaca mataku sosok ibu-ibu ayu bersanggul, kelinci yang sedang berkejaran, beberapa potong arumanis sampai model rambut hakim di kerajaan inggris. Mungkin mereka akan menyelenggarakan pesta musim kemarau tahun ini. Sekarang kita beralih dari kerajaan awan. Mulailah pejamkan matamu. Mari kita nikmati angin akhir Juli pagi ini. Rasakan setiap belaian angin yang menyentuh wajah kita, dengarkan iramanya yang mulai menggugurkan daun jati satu persatu, dan ciumlah wangi sisa-sisa embun paginya. Dan semua sambutan alam pagi ini adalah awal harapan manusia hari ini.

Kriiing....

Jam wekker menyadarkankanku, yeah it’s time to journey in the life. Hidup adalah petualangan, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita besok, satu jam, satu menit bahkan satu detik yang akan datang. Karena jika tuhan menghendaki, seketika itu juga...cling... semua bisa berubah sesuai dengan keinginan-Nya. Semua mimpi, cita-cita, cinta dan setiap harapanmu ada di pelukan-Nya. Jadi ya, nikmati saja setiap kejuatan yang diberikan-Nya karena Tuhan lebih tahu segalanya.

***

Jam menunjukkan pukul 06.57. Oke satu menit saja aku terlambat aku akan ketinggalan kereta. Langkahku ku percepat menuju stasiun. Seperti biasa jutaan manusia terlihat lalu lalang dengan tujuan masing-masing. Percaya atau tidak jika kamu mau memperhatikan dengan cermat wajah mereka masing-masing, kamu akan melihat ada banyak notes pada jidat mereka. Seperti notes yang aku temukan pada tiga orang yang berdiri didepanku.

“mampus gue pasti mampir ke BK lagi!”,

“santai, buat apa terburu-buru toh si bos paling terlambat”,

“bismillahirrohmanirrohimm...semoga hari ini dagangan laris manis ya Allah”,

Mereka memiliki harapan yang berbeda-beda terhadap keberadaan mereka sendiri di dunia ini. Dimana nantinya harapan itu akan membawa mereka pada dua hal, ‘berarti’ dan tidak ‘berarti’. Seperti note terakhir yang aku baca pada jidat bapak penjual kerupuk, terlihat sebuah harapan sederhana. Di mana dengan bacaan basmalah tersirat kepercayaan yang besar akan laris manisnya dagangannya yang diharapkan dapat menafkahi keluarganya. Iseng saja, mungkin seperti itulah beberapa notes yang kutebak. Karena manusia itu ‘unik’. Dalam diri manusia, tidak selamanya sesuatu yang tampak mampu menjelaskan sesuatu yang tidak tampak, yaa hati. Dalam hati manusia secara tidak sadar terdapat  pengharapan atas diri mereka masing-masing. Mungkin kalau aku kumpulin setiap harinya akan menjadi sebuah cerita bersambung seperti di koran yang kita tidak pernah tahu kapan akhirnya. Oh yaa, mungkin ada yang berminat membaca note pada jidatku???

Tet tot tet tot, suara penjual balon lewat..upss ternyata sms dari kakak ku.

From Kak lily:

Sa, di tunggu klien di kafe biasa. BURUAN!!!

Yup, kakak ku super duper perfeksionis. Tak perlu dijabarkan seperti apa sosok perfeksionis, bayangkan sendiri bagaimana seseorang yang mampu menghitung jumlah debu yang menempel pada guci kesayangannya. Aku sendiri tak habis pikir bagaimana bisa memiliki partner kerja se ‘unik’ dia. Tapi bagaimanapun pelangi tidak akan “mejikuhibiniu” jika kuning tidak ada. Dan aku juga tidak pernah bisa membayangkan bagaimana mas anton yang setenang malam bisa manampung jutaan gemebyar hebohnya kakaku yang seperti bintang. Tak mampu terhitung “ini itunya” kak lily. Saling melengkapi, mungkin itu harapan awal pernikahan mereka. Sehingga Tuhan pun juga menghadiahi mereka gendis untuk melengkapi keluarga kecil mereka. Sampai sekarang aku selalu salut pada perpaduan unik dua manusia ini. Yah..keadilan Tuhan memasangkan manusia yang terkadang kalau di logika dengan otak normalnya manusia tidak ada jawaban rasionalnya, karena itulah takdir. 

***

“selamat pagi mas, mbak. Maaf membuat menunggu. Perkenalkan nama saya Senja Oranye panggil saja Sasa. Saya dari Wedding Organizer Rainbow. Baik ada yang bisa saya bantu?”

Hahaha, sudah bukan hal baru lagi seseorang meluangkan waktunya untuk “mlongo” meski sedetik ketika mendengar namaku. Tapi inilah kenyataannya, namaku Senja Oranye dan nama kakak ku lily putih. Jangan tanyakan kenapa seperti itu, karena apalah arti sebuah nama. Seperti itulah jawaban dari bapak dan ibu kami. Tapi aku yakin ada doa dan harapan tersembunyi dibalik nama kami. Seorang anak terlahir ke dunia adalah atas doa-doa dari kedua orang tuanya. Tentunya dengan izin-Nya. Lily Putih dan Senja Oranye adalah jawaban atas doa dan harapan mereka kepada Tuhan.

To Kak Lily:

Okee, deadline akhir september. Garden party J

Satu petualangan selesai, bersiap petualangan berikutnya. Satu alasan mendasar mengapa memilih berpetualang di Wedding Organizer; mengantarkan kebahagiaan. Pernikahan adalah gerbang kebahagiaan. Pernikahan adalah sebuah kehidupan baru bagi manusia. Pernikahan merupakan momentum bersatunya dua anak manusia yang melebur menjadi satu dalam sebuah ikatan suci agama. Mungkin tak pantas rasanya jika seseorang yang belum menikah berfilosofi detail tentang pernikahan, yang kuketahui sederhananya pernikahan adalah rumah harapan. Dan pesta pernikahan yang berkesan dan indah ibarat pintu masuk rumah harapan tersebut. Di mana melalui pintu itu akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang ada dalam rumah harapan tersebut. Di dalamnya berjuta harapan dapat kita tulis pada setiap dindingnya tentang cinta, kebahagiaan, anak dan sebagainya yang menjadi harapan setiap pasangan yang menikah.

Okee sekarang tinggalkan filososi yang amburadul ini. Aku beranjak untuk mengecek catering pernikahan klienku minggu depan. Melangkah menyusur panasnya Jakarta siang ini. Sepertinya Ibu Kota kini mulai gerah menampung milyaran manusianya. Sebenarnya tak pernah ada yang Ibu Kota janjikan pada mereka, tapi sekali lagi harapan lah yang membuat mereka sampai di sini. Tentunya harapan akan kehidupan yang lebih baik, meski tak sedikit dari mereka yang malah menjadi ‘anak tiri’ Ibu Kota. Inilah hidup, dan setiap jiwa-jiwa yang ada disekitarku kini memiliki hak atas hidup mereka masing-masing.

***

“Assalamu’alaikum bu Aisyah.. haloo gilang..”

Bu Aisyah adalah catering di WO ku. Tak perlu diragukan lagi mengenai masakan janda beranak satu ini yang 1000 % yummy. Beliau adalah ibu yang tangguh dan penuh kasih sayang. Bu Aisyah, selalu membuatku rindu pada ibuku ketika aku melihat beliau. Dan Gilang, dia adalah anak satu-satunya bu Aisyah. Dia menjadi anak satu-satunya karena setelah melahirkan Gilang,  rahim bu Aisyah terpaksa harus diangkat karena ternyata ada tumor pada rahimnya. Gilang adalah anak yang istimewa, jika kita punya dua kaki sehat yang masih bisa berjalan tetapi sering mengeluh padahal kita bepergian naik mobil mungkin kita akan segera memasukkan muka kita pada plastik bekas gorengan jika kita melihat gilang. Anak laki-laki tampan berumur 12 tahun itu menderita lumpuh layu sejak kecil yang membuatnya tubuhnya terkotak dengan kursi roda. Tetapi jika kita lihat pada kedua matanya yang bening, dapat kita lihat betapa berwarnanya hidupnya. Dia istimewa, dalam keterbatasan di menuangkan semua warna perasaananya pada kanvas. Selain itu musik kehidupan yang sesungguhnya dapat kita dengar melalui setiap alunan lagu yang ia nyanyikan. Yaa, Gilang sangat istimewa. Semua lukisan dan nyanyiannya adalah ketulusan harapan. Yaa harapan terhadap dirinya pada kehidupannya sendiri dan tentunya sang ibu.

Oke katering kelar. Lanjut ke petualangan berikutnya. Sambil terus berjalan ditemani bayanganku yang selalu setia kususuri trotoar Jakarta siang ini. Aku sedang malas menunggu bus yang kedatangannya kerap tidak pasti. Kuputuskan untuk berjalan. Melihat bayanganku aku berpikir entah sudah berapa kali ya bayanganku habis termakan senja tanpa jejak keberartian yang kutinggalkan.

Manusia memang mendapatkan jatah waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari. Tetapi mereka kerap tidak sadar ternyata telah melewatkannya tanpa keberatian apapun. Memang semua itu adalah pilihan mereka, pilihan untuk memilih perjalanan seperti apa yang akan mereka lakukan untuk menghabiskan 24 jam mereka. Berjalan mengikuti peta kehidupan yang sudah disediakan Tuhan, berjalan mencari jalan pintas atau hanya sekedar berjalan mengikuti trotoar dan semau kaki melangkah. Manusia bebas memilih. Tapi perlu diingat cepat sampai atau tidaknya kita dalam sebuah perjalanan tidak selamanya membawa kita pada keberartian. Lebih dari pada itu bagaimana kita menikmati setiap perjalanan yang kita lakukan adalah yang akan membawa kita pada keberartian melewati 24 jam dalam hidup kita dan membuat kita berbeda dari manusia lain.

Aku masih terus berjalan menuju tempat florist langgananku. Aku memang lebih banyak  “wara-wiri” dibanding kakak ku yang lebih sibuk berkutat di balik laptop dan buku sketchnya. Sejak kecil kami berdua memang berbeda, tapi saling melengkapi satu sama lain. Ibaratnya kami ini mozaik yang saling menutupi dan melengkapi agar gambar yang kita harapkan dapat terbentuk dengan jelas. Kak lily yang cantik, pintar dan perfeksionis dan aku yang... beginilah. Santai, terserah menilai seperti apa. Kubenarkan letak kaca mataku yang kerap melorot akibat efek hidungku yang pesek. Dan tanpa terasa aroma semerbak mawar, melati, sedap malam, crysan dan teman-temanya memenuhi penciumanku.

“siang Alex, gimana bunga buat acara wedding lusa?”

Dengan senyum lebar, kerlingan mata dan acungan jempol Alex aku sudah bisa menangkap bahwa semua sudah beres. Aku berkeliling mengecek lagi bunga-bunga yang sudah dipersiapkan Alex. Satu pemandangan yang selalu membuatku iri ketika berada di florist ini yaitu kemesraan kakek frans dan nenek joice yang tengah merawat kebun bunga mereka. Yaah, satu pasangan ini membuatku lebih iri dari pada semua klien yang pernah aku tangani pernikahannya. Sungguh romantika yang tak pernah berakhir meski senja telah memakan usia mereka. Layaknya memelihara bunga, mereka saling menyemai, memupuk, menyirami dan merawat cinta mereka berdua. Hingga tumbuh, bersemi, berbunga dan terus berbunga sebisa mungkin. Meski pada akhirnya hukum alam tak dapat di tolak, kalau tiba saatnya mereka akan layu dan mati. Namun terlepas dari itu semua, setidaknya mereka pernah menjadi bunga yang indah untuk dikenang.

Tidak munafik, pasti setiap insan yang bercinta di dunia ini ingin seperti kakek dan nenek Alex ini. Berharap akan cinta abadi yang tidak hanya berhenti pada satu masa tetapi senantiasa bersemi dari masa ke masa sampai maut memisahkan.

***

Sejenak beristirahat dalam berpetualang. Ku belokkan kakiku ke coffe shop langgananku. Secangkir kopi dan pie apel cukup untuk mengganjal perut dan pikiran yang rasanya ingin bertualang kemana-mana agar “anteng” sebentar. Di tengah menikmati harumnya kopi yang menenangkan dan manisnya pie apel yang menggigit, mataku menangkap sosok yang kata memori dalam otakku bukanlah orang asing. Yaa... dia adalah Marni teman kuliahku dulu.

Sekelebat, memoriku menuju ke lima tahun silam ketika aku duduk di bangku kuliah. Marni. Seorang mahasiswi kedokteran yang Jawa “medhok” dan juga penjaga perpustakaan kampus karena saking seringnya dia mengunjungi perpustakaan. Dan perpustakaanlah yang juga menjadi tempat perkenalanku dengan Marni. Dari situlah aku mengetahui bagaimana mimpi seorang bocah desa yang ketika ditanya guru SD ataupun orang tuanya “kalau besar mau jadi apa?”.... “Dokteer” menjadi nyata. Tak pernah sama sekali terbayang olah Marni kalau kata-kata polosnya dulu kini menjadi nyata, melihat Marni adalah bocah “ndeso” yang berasal dari keluarga pas-pasan di desa pelosok daerah Kendal, Jawa Tengah. Orang tuanya hanyalah buruh tani. Tapi untuk kesekian kalinya, kepercayaan akan mimpinya dan harapan mulia untuk memperbaiki pelayanan kesehatan di desanya adalah yang membawanya sampai pada langkah dimana Ia sekarang berpijak. Marni selalu percaya, bahwa tidak ada yang tidak mungin kalau kita mau berusaha dan hasilnya kesempatan menjadi dokterpun terbuka melalui beasiswa kedokteran yang diperolehnya.

Jelaslah, kesempatan sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Tapi disempatkan oleh diri kita sendiri dan ketika kita tengah menyempatkan diri kita untuk berproses kreatif, ‘Tangan Tuhan’ mengambil alih kendali dan mengubahnya menjadi “kesempatan” yang akan mengubah jalan hidup kita jika kita mau cermat memanfaatkannya.

Sayang kami hanya sempat berbincang sebentar, Marni harus langsung pergi mengejar kereta ke Semarang karena dia harus segera pulang ke Kendal. Marni ke Jakarta untuk mengurus beasiswa S2 kedokterannya yang rencananya akan dia lanjutkan ke Negeri Paman Sam. Wow... salut aku dengan gadis jawa itu.

Astaga, aku lupa harus bertemu dengan klien untuk fitting gaun pengantin mereka. Sesegera mungkin aku meluncur dari keberadaanku sekarang. Pasangan yang akan kutemui kali ini sangat spesial. Yaa...mereka adalah sahabatku sejak SMP. Dan sejak SMP pula mereka terjebak dalam hal terabstrak tapi sangat konkrit di dunia ini... cinta. Mereka adalah pasangan yang berani kalau menurutku. Mereka berani menentang perbedaan yang ada. Kata mereka “hidup itu memang pilihan, tapi kalau cinta kita nggak bisa milih. Jadi kalau memang dirasa benar cinta, perjuangin terus sampai dapat”. Perbedaan yang mereka alami ibarat kata memang menjadi jurang pemisah. Karena perbedaan ini menyangkut sebuah keyakinan, kepercayaan akan apa yang diyakinnya. Agama. Manusia tidak bisa bermain-main dengan agama, karena agama merupakan hubungan yang paling intim dari sebuah kehidupan. Yaa..hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Tapi sekali lagi cinta dan takdir mampu bekerja sama dengan baik untuk mereka. Dengan kegigihan sang pria, Ia mampu meyakinkan dan membangun jembatan yang kokoh sehingga mampu membawa sang perempuannya ke tempat yang sama dengannya dan menghapus perbedaan yang ada. Kini perempuan chines itu berada dalam dekapannya, pada jalan cinta ‘rahmatan lil alamin’. Sederhana saja harapan dari cinta ini adalah dapat berpijak pada pijakan yang sama dan saling membahagiakan satu sama lain, tentunya dengan cintaNya. Kata mereka.

“hei ekor kuda, kapan kau menyusul kami menikah. Lekas ganti kaos oblong, rompi jeans, juga celana jeansmu yang sudah terluka itu. dan satu lagi sepatu ketsmu yang warnanya bimbang itu dengan pakaian pengantin seperti yang kukenakan kini? Hahaha”

***

Sampai markas. Seperti biasa selang lima menit tiba kakak ku langsung “bla bla bla bla bla bla...”. Dan cukup satu kata dariku “okee”. Kelar. Sekarang saatnya bobok cantik. “kreek” pintu terkunci.

Aku hanya bisa tertawa mengingat gurauan liana tadi. Hmm...menikah. “ Ahh kapan pulang jelek, aku benci selalu rindu padamuL”.

Dan saat seperti ini aku rindu pada satu sosok. Bahkan terkadang hingga rindu dendam. Yaa pangeranku. Jojo. Tapi sudahlah, aku mengerti dia tengah sibuk dengan kerajaan barunya. Dan ketika rindu itu mulai menjadi, menari dengan waktu bersama bayangannya adalah obatnya. Jojo... dia tak cukup terwakilkan oleh hanya sebuah kata. Karena dia adalah wujud dari semua kata dalam hati dan pikiranku saat ini.

Aku rindu. Begitu rindu. Dan sangat merindu.

Aku rindu. Benar-benar rindu. Dan sungguh merindu.

Aku rindu. Rindu padamu. Padamu kekasihku.

Aku rindu!

Jojo. Rinduku adalah pengharapan keberadaanmu di sini. Aku percaya kerajaan yang sekarang kau bangun adalah untukku. Tapi, senja tetap akan kehilangan keindahan oranyenya jika matahari meninggalkannya.

Aku selalu bermimpi layaknya seorang putri, bisa berdansa dengan pangeranku. Dimana, pangeranku terlihat gagah dengan setelan jas dan kuda putihnya datang menghampiriku yang telah siap dengan gaun putih dan mahkota bunga di kepalaku. Dengan iringan musik romantis, kita berdansa. Menikmati setiap alunan nada-nada cinta. Dan di bawah lampu kota kerajaan,  pangeran memintaku untuk menjadi satu-satunya tuan puteri pada kerajaan hatinya. Hahaha. Mimpiku memang terlalu picisan, efek dari kerap mendongeng untuk gendis, keponakanku. Tapi aku berharap mimpi itu akan menjadi nyata, bahwa kelak memang akan ada sesorang yang benar-benar menjadi satu-satunya cinta untukku dan menjadikan aku satu-satunya cinta untuknya. Aku percaya itu dan aku terus berharap pada mimpi-mimpi itu.

“Oh...senja oranye, lekas bangun, cepat bangun dari mimpimu, bangun, bangun, bangunlah jojo ada di sini”

Jojo. Ada di sini. Jojo....astaga aku tertidur lagi. Sesegera mungkin ku kumpulkan nyawa dalam tubuhku. Dan sekarang Jojo ada di depan mataku, yaa dia pulang. Dia ada di sini...

“ Sasa, sadarlah. Bengong aja. Lekas berbenah, tidak malukah kau bertemu dengan tamu agungmu dengan tampang kucelmu itu?” ledek kak Lily padaku.

“Jojo, pangeran jelekku” tanpa basa-basi kupeluk jojo. Yaah aku begitu rindu pada manusia yang satu ini. Tatapan hangat matanya, senyum misteriusnya, benar-benar aku merindunya. Setelah 2 tahun lamanya Eiffel telah menahan Jojo ku disana. Rinduku tak sia-sia. Karena rinduku kini menjadi nyata. Jojo ada disini. Dipelukanku. Dan kau adalah harapan dari rindu-rinduku selama ini.

Untuk kesekian kalinya, harapan adalah kekuatan terbesar manusia untuk meraih apa yang diimpikanya, sehingga mimpi mereka bukan hanya sekedar mimpi. Lebih dari pada itu harapan akan mimpi-mimpi akan membangun kepercayaan pada diri manusia secara tidak langsung. Karena harapan adalah dasar kepercayaan manusia akan sesuatu yang diimpikannya akan terwujud dan didapatkannya. Harapan memang berbentuk abstrak, tapi sebagian manusia meyakininya dengan penuh dan membuatnya nyata melalui usaha dan doa.

“dan sejatinya harapan dasar dalam kehidupan manusia adalah bahagia”

(Eli Hidayati)

 

 

 

 

 

 

Mimpiku Bersamamu

Berdiri kudisini                                                                                                                

Menikmati indahnya sang mentari

Menyambut hariku pagi ini

Membawa semangat dalam diri

 

Berdiri kudisini

Menatap indahnya  hari ini

Teringat pada harapan diri

Yang kutulis pada pohon mimpi

 

Sinarnya mengingatkanku akan dirimu

Sosok kawan yang slalau ada untukku

Memberikan dukungan dan semangatmu

Dalam senang maupun dukaku

 

Mengenalmu adalah kekuatan bagiku

Kekuatan untuk bermimpi setinggi langit biru

Memilikimu memberikan harapan bagiku

Harapan mewujudkan mimpiku bersamamu

 

Alur cerita kita membawaku pada mimpiku

Mimpi yang sama sepertimu mengukir cerita cintamu

Berharap itu dapat menjadi satu

Dalam perjalanan cerita yang baru

 

Banyak mimpi yang kuciptakan

Banyak cerita cinta pula yang kau ukirkan

Dalam diri yang menjadi sebuah harapan

Harapan yang slalu ingin kuwujudkan

 

Menyusuri putihnya pantai Bandengan

Menyusuri Dieng dan Bromo dengan eksotisnya pemandangan

Mendaki lawu dengan tanah tandus berbatunya

Tersaji pula alam mistis yang siap menunggu kita

 

Di Semeru dengan tanjakan cintanya

Keindahan danau ranukumbolo yang ingin menjadi saksi kehadiran kita

Bukit penyesalan Rinjani yang menunggu kita

Danau Segara anak yang menunggu sapaan dari kita

Sampai merbabu dengan tanjakan frustasinya

 

Satu mimpi menjadi nyata

Dengan segala kemungkinan yang ada

Berharap tak terhenti disana

Untuk menggapainya dengan penuh asa

(Nurrakhma Dwiyani)




ANTOLOGI CERPEN : wishful story
PRAKTEK MENULIS WORKSHOP AFSOH PUBLISHER 2013
MAHASISWA UNNES

DAFTAR ISI ANTOLOGI :

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top