-->

Semut pengganti Ayah

| 9:24 AM |

Oleh Hesti Jamiliyah  

Arif duduk terdiam di depan meja belajar sambil memandangi laptop pemberian almarhum sang ayah.   Tik.. tik..tik..tik suara jam  yang tiba-tiba mengusik keheningannya.

 “ Astaghfirullah, sudah jam 4 sore, aku belum shalat ashar “. Terkejutnya saat melihat jarum jam.

            Seperti kebiasaan orang muslim sebelum menunaikan shalat, Arif berwudlu dengan syarat dan rukun dalam berwudlu. Dia tunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk beribadah kepada sang Pencipta. Sembari berdo’a setelah shalat, terdengar suara memanggilnya “ Mas Arif..  mas ..  kesini sebentar“ panggil Moham adiknya.

            Dari kejauhan terlihat adiknya sedang bermain ular tangga sendiri diruang tamu. Dia mengetahui maksud mengapa adiknya memanggilnya, itu karena ingin mengajak bermain bersama. Di sela permainan, tiba-tiba adiknya menanyakan sosok tentang ayah.

“Mas... ayah kita dimana sih ?”

“Moham.. tidak pernah melihatnya ?”

Anak kecil yang masih berumur 5 tahun itu sudah menanyakan pertanyaan yang mungkin dia belum mengerti maksud yang dia tanyakan. Ekspresi yang awalnya senang, kini berubah menjadi  keheningan karena pertanyaan adiknya. Arif seorang kakak yang masih duduk di bangku perkuliahan itu bingung untuk menjelaskan jawaban dari pertanyaan adiknya. Perlahan dia mulai mengalihkan situasi agar adiknya lupa dengan pertanyaan yang diajukan itu.

“ Moham, ternyata sudah mahir ya.. bermain ular tangganya ?”

“wah... pantasan mas Arif kalah terus. “

Ternyata arif berhasil menglabuhi adiknya tentang pertanyaan itu. Bahkan Moham tidak menanyakan lagi tentang ayah karena dia sudah asyik sendiri bermain ular tangga.

            Tak beberapa lama, ibu mendatangi mereka sambil membawakan cemilan kue keju kesukaan Moham. Biasa anak kecil kalau ada makanan pasti maunya duluan dan ngrebut.. wah..wah nalurinya masih pengen main. Dua kue sudah habis dimakannya dan masih ada sisa-sisa kue yang menempel di pinggir bibir dan potongan kecil-kecil kue yang jatuh dibajunya. Dua buah bola mata selalu mengamati gerak gerik tingkah moham yang gemesin itu. Ibu.. orang pertama yang akan memandangi apapun yang dilakukan anaknya karena rasa cinta dan kasih sayang yang tulus kepada buah hatinya.

“ Moham.. sayang, makannya pelan-pelan ya ?”

“ Nanti tersedak lho ?”

 Perhatian ibu kepada Moham membuat bahan perhatian remaja dewasa berumur 19 tahun itu. Senyum bahagia mulai terbentuk dalam raut wajah putihnya yang menggambarkan betapa bahagianya Arif sebagai seorang kakak yang memiliki seorang adik laki-laki yang super gemesin dan seorang ibu yang begitu perhatian kepada dirinya dan adiknya dengan penuh kehangatan cinta dan kasih sayang yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun di dunia. Bahkan rasa kebahagiaan itu telah melupakannya tentang sebuah pertanyaan sosok ayah.

            Detik berubah menjadi menit dan menit kini berubah menjadi jam. Sore ini begitu indah dan mungkin yang paling indah dirasakan oleh Arif. Tangan kecil moham tiba-tiba menghamburkan bayangan indah dalam pikiran arif.

“aduh... geli. “ suara secara spontan keluar dari mulut Arif

“siapa ya... yang jail menggelitikki kaki ku ini ?”

“ he.. he.. he...” moham tertawa kecil seolah memberi isyarat dia yang jail itu.

Kemudian kakak beradik itu kembali bercanda, namun tiba-tiba  krik... Krik... Krik suara nada dering handphone Arif berbunyi, itu pertanda ada pesan sms masuk dalam inboxnya. Tangan arif dengan otomatis mengeluarkan handphone yang ada di saku celananya dan membuka sms itu sambil membaca dalam hati.

“Rif. Segera ke kampus. Kamu sudah ditunggu pak Joko di ruangannya.”

“Dari Santoso, teman FIK UDINUS ”

            Suasana yang awalnya damai bersama ibu dan adiknya, kini berubah menjadi panik. Perasaan terburu-buru, gugup dan bingung mengikat pikirannya sekarang. Keterpaksaan untuk melepaskan semua kegembiraan bersama adiknya harus dia relakan karena suatu tugas penting. Dong.. dong.. dong. .dong. . dong  suara langkah yang tergesa-gesa menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya seraya menyiapkan diri untuk pergi ke kampus. Waktu menunjukkan pukul 6 petang dia cepat-cepat mandi dan berganti pakaian.

Ransel yang biasanya sudah ia persiapkan jika mau berangkat kuliah, kini terasa ringan karena hanya satu buku yang ia bawa, bahkan dia dengan gegabah dan dikejar waktu sampai lupa membawa tugas dari pak Joko yang paling penting.

“ Bu... Arif berangkat dulu ya.”

“Assalamu’alaikum.”

Langkah arif sudah cepat menjauhi rumah sampai ucapan balik salam dari ibunya hanya terdengar samar-samar.

Brem.. brem.. bunyi sepeda motor yang biasa menemaninya ke kampus, kini sudah melaju jauh dari rumah. 90 KM/jam kecepatan yang ditunjukan dalam angka spedometer , menandakan arif sangat terburu-buru dalam berkendara. Beberapa mobil, truk, bus dan alat transportasi darat lainnya berhasil ia dahului. .. wah memang kalau sedang dalam situasi kepepet di kejar waktu, pasti tidak akan peduli dengan apapun karena yang ada dalam pikiran arif saat ini hanya  kampus dan pak joko. Beberapa kali handphonenya berdering terus, namun dia hiraukan. Bak motor JP milik valentino rossy yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba di rem mendadak sehingga ban depan bergesek dengan aspal berbunyi. Siitttzz.... .Postur tubuh yang gagah dengan gesit turun dari motor yang telah terpakir. Berlari kencang melewati teman-teman se fakultasnya sambil mengendong ransel hitamnya. Bahkan suara merdu yang memanggilnya

“ Kak .. Arif “

 iapun hiraukan seolah suara itu di terbangkan angin.

Rasa lelah dan ketakutan perlahan mulai merasuk dalam tubuhnya. A 105 nomor ruangan yang sekarang didepannya.

“tok.. tok.. permisi”

suara lelah yang terdengar dari luar ruangan itu. Tangannya yang gemetar memegang ganggang pintu ia dorong kedalam, lagi-lagi masih ada perasaan takut, udara dingin diruangan itu perlahan ia hirup pelan-pelan seraya merelaksasikan diri agar tidak gugup didepan pak joko, beginilah ruangan dosen serba di design berAC... wah jadi membuat mahasiswa betah di dalamnya walaupun menghadapi dosen sekiler mungkin, tapi kalau berAC dosennya tidak akan marah karena suhu kemarahan dosen yang bertanda negatif sudah dinetralkan dengan dinginnya AC yang bertanda positif.

Wajah yang ketakutan kini berubah sejuk, mungkin dampak AC diruangan ini sangat ya.. hehehe. Sambil mengeluarkan jurus memikat seperti kebanyakan mahasiswa jika bertemu dosen pasti hal terpenting adalah memberikan senyuman di depannya. Senyumannya jangan terlalu lebar ya... nanti malah dosennya curiga, ini mahasiswa lagi kehabisan batrey atau belum minum obat.. hehehe. Ya senyumnya standar saja 3x4, atau 4x6 . ooo .. memangnya ukuran foto.

            Masih dalam ruangan A 105. Arif memberanikan diri menyapa pak dosen.

“selamat malam pak.. maaf, apakah bapak memanggil saya ?”.

Mata berlensa coklat itu memandangi dosen yang sibuk bermain hape. Maklum handphonenya baru, touchscreen lagi. Masih asyik bermain hape, perlahan kacamata berframe biru yang pak dosen pakai mulai turun tidak sesuai posisi dan diangkat kembali keatas agar sesuai posisi mata.

“siapa kamu ?”

Pertanyaan yang tak terduga sebelumnya oleh Arif, wah.. ini dosen benar-benar tidak mengenali mahasiswanya padahal sudah 2 tahun mengajar. Ini membuat arif jengkel, tapi apa daya dia hanya seorang mahasiswa yang tidak mampu berbuat apapun untuk menghadapi situasi. Perlahan ia hirup oksigen di ruangan itu untuk merelaksasi dirinya.

“ saya Mohammad Arif Noor, dari Fakultas Ilmu Komputer.”

Seperti memperkenalkan diri pada seorang presiden dengan bahasa yang lembut dan malu-malu serta tidak lupa menabur senyuman manis yang mungkin bisa  meluluhkan hati dosennya.

“jadi kamu. Si Arif itu ?”

“silahkan duduk.”

“Ini ditanda tangani ya”

Sambil menyodorkan selembar kertas berisikan tulisan berfont Times New Roman. Mahasiswa kelahiran kudus itu bertanya-tanya, maksudnya apa dan ada angin apa. Tiba-tiba dosen yang ditakuti para mahasiswa itu tersenyum sambil menunjukkan bagian mana yang harus di tanda tangani.

Arif yang tidak mengerti apa-apa seperti terhipnotis langsung saja menuruti perintah pak joko. Setelah selesai menanda tangani, pak joko menjelaskan bahwa ini sebuah surat penting untuk mengantarkannya menuju masa depan. Masih seperti awal rasa takut itu mulai muncul lagi. Dia berpikir aneh-aneh.

“ masa depan ?” Maksudnya apa.

Apakah masa depan yang mengantarkannya bertemu dengan sang ayah.... wah sekarang yang ada dipikirannya sosok ayah kembali muncul dan pertanyaan yang diajukan adiknya sore tadi ternginyang kembali. Dinginnya AC dan suara berising yang tiba-tiba terdengar ditelinganya menambah lengkap sudah kekacauan di memori otaknya. Tubuh lemas dan gemetar memaksanya untuk segera meninggalkan ruangan ini.

 “ pak .. saya permisi dulu .” kata Arif sambil bangkit dari kursi

“ Sudahkan tanda tangannya ?” jawab pak dosen dengan wajah tanpa ekspresi

“iya pak” suara lemas dari jawaban Arif.

            Keluar dari ruangan, Arif kembali melihat jam yang ada di handphonenya. 18.45 waktu hampir menunjukkan persiapan shalat isya’, namun sejak tadi dia belum shalat magrib. Mushola oh mushola yang sekarang ini dalam pikirannya. Karena sudah 1 tahun setengah ia belajar di kampus ini, maka secara otomatis ia sudah paham denah-denah dalam kampus. Sambil berlari, langkah kakinya sudah berbelok sendiri mencari arah mushola berada. Tepat di samping kantin, bangunan beribadah yang berdiri kokoh dengan cat warna biru itu terletak.

Setelah masuk mushola, langsung saja dia meletakkan ransel di dekat tembok dan menuju tempat wudlu. Setelah selesai berwudlu ia melakukan shalat magrib. Walaupun waktunya hampir habis namun dia tetap menjalankan shalat dengan khusyuk. Inilah sosok seorang muslim sejati yang benar-benar menjalankan kewajiban dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab.

Beberapa doa sesudah shalat ia pun sampaikan kepada sang pencipta, tidak lupa doa untuk keluarganya. Ibu, adik, dan sang ayah yang sudah mendahuluinya. Arif adalah sosok laki-laki yang disukai banyak orang karena dia ringan tangan pada siapapun tidak pilih kasih. Selain  parasnya ganteng, dia juga ahli ibadah, tidak pernah dia meninggalkan shalat, walaupun dalam keadaan terhimpit masalah dan waktu.

Kelebihan yang dimilikinya adalah suatu anugrah yang di berikan tuhan kepadanya. Kecerdasan dalam mencerna pelajaran dan bakatnya dalam berbicara bahasa inggris, itu semua tidak luput dari bimbingan almarhum sang ayah. Ayah yang bekerja sebagai penjual makanan tradisional lentog, dulu beliau dikenal sebagai seorang penjual yang jujur dan dermawan, kerja keras dan kegigihan beliau dalam mencari nafkah untuk keluarganya patut diberi dua jempol karena hanya sebagai penjual lentog, beliau mampu membuka cabang dibeberapa tempat di daerah Kudus. Bahkan beliau mampu menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perkuliahan dan tidak tanggung-tangung universitas yang terkenal mahal di provinsi semarang yaitu Universitas Dian Nuswantoro. Itu semua demi kebahagiaan anaknya kelak. Subhanaallah jika kita mengingat orang tua, betapa besar perjuangan mereka demi anaknya. Namun kini semua hanya tinggal kenangan indah bagi Arif dan keluarganya.

Air mata Arif mengalir jatuh membasahi sajadah. Kenangan saat masih bersama sang ayah membuatnya semakin lemas. Tiba-tiba semua kenangan itu kabur ketika ada yang menepuk bahunya dari belakang.

“Nak....sudah masuk waktu Magrib.”

“Mau ikut jamaah.”

Seorang laki-laki tua yang samar-samar memaksanya untuk bangkit berdiri. Berkali-kali Arif mengedipkan mata agar penglihatannya jelas. Terkejut ia saat orang yang di depannya adalah pak joko, dosen yang ditemuainya sejam lalu. Bergegaslah ia mengambil air wudlu dan menjalankan shalat magrib secara berjamaah. Usai menjalankan shalat tak lupa ia berdoa kepada sang penguasa alam. Beberapa menit kemudian pak joko yang telah selesai shalat mendekati Arif. Akhirnya terjadilah obrolan panjang yang menceritakan semua kejadian tadi sore yang dialaminya. Mulai dari dipanggil menghadap beliau sampai disuruh tanda tangan.

Dari cerita pak dosen itu, ternyata Arif mendapatkan Beasiswa untuk belajar ke Tokyo Jepang setelah ia lulus S1 dari FIK UDINUS nanti. Sedih, senang dan takut bercampur aduk perasaannya saat ini. Dia tidak mengira bahwa dirinya akan mendapatkan Beasiswa.

Dalam perjalanan pulang ia terus membayangkan apakah akan diambil atau tidak beasiswa itu, tapi di lain sisi ia belum bisa meninggalkan ibu dan adiknya yang sendiri dirumah.

Sampai dirumah, saat ia membuka pintu ternyata ibunya masih menunggu kedatangannya. Jatuhlah air mata arif dengan senang sampai memeluk ibunya. Ibu yang merasa bingung dengan tingkah laku anaknya yang tiba-tiba manja tanpa ada angin hanya suara nyamuk yang terbang disekelilingnya.

“Bu.. Arif sayang banget sama ibu.”

“Arif janji akan selalu membahagiakan ibu.”

Mendengar perkataan anaknya yang sulung itu, membuat ibu terharu dan meneteskan air mata. Senyuman kebahagiaan nampak pada raut wajah sang ibu. Betapa bahagianya telah memiliki dua anak laki-laki yang penurut, semakin membuat ketentraman hidup ibu yang harus menjadi tulang punggung keluarga.

Hari demi hari, bulan demi bulan, waktu semakin cepat berubah. Tak terasa Arif kini berhasil lulus tepat waktu dengan gelar sarjana muda dari FIK UDINUS. Sorak gembira dari teman sejawat dan para dosen yang bangga dengan predikatnya sebagai mahasiswa berprestasi dengan IPK 3,98. Berkat do’a dari keluarga, teman dan para dosen serta kerja kerasnya menjadi ia semakin dewasa dan kini saat yang telah di tunggu. Negeri Sakura telah merindukan kedatangannya seseorang yang genius dari negeri jamrut katulistiwa .

Tepat pukul 05.00 pagi usai shalat subuh. Arif mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. Di antar oleh ibu, adiknya muham , santoso dan pak joko menuju ke bandara ahmad yani semarang. Wajah kegembiraan dan sedikit kesedihan berat meninggalkan sang ibu dan adik, namun demi cita-cita ia harus kuat dan ikhlas dengan takdir tuhan yang telah di gariskan kepadanya.

“Bu... Arif berangkat dulu ya.”

“Arif akan selalu kirim surat ke Ibu.”

“Ibu jangan sedih... do’akan yang terbaik untuk Arif disana.”

“Arif sayang ibu dan Moham.”

Ucapan perpisahan seorang anak kepada ibunya yang hendak pergi jauh untuk meraih cita.

Senyuman dan lambaian tangan sang ibu yang ikut mengantarkan keberangkatan anaknya

Dengan do’a yang selalu ibu panjatkan demi keselamatan dan kesuksesan anak sulung tercintanya.

Tahun demi tahun telah berlalu, rumah bercat hijau yang berdiri di samping mushola tak pernah pindah dari barisannya. Udara pagi yang sejuk berhembus masuk melewati jendela rumah. Seorang anak berseragam SMP terlihat sedang menyantap sarapannya. Moham adik Arif yang dulu masih kecil sekarang sudah menjadi remaja yang tampan dan pintar.

“Tok.. tok.. tok.. Assalamu’alaikum.”

Mendengar suara orang datang, moham menghentikan sarapannya dan menuju ke pintu. Perlahan iya membuka pintu dan menjawab salam.

“Iya. Wa’alaikumussalam”

Sepatu vantofel berkilap yang pertama terlihat di matanya. Perlahan ia mengangkat pandangannya ke atas agar wajah tamu itu terlihat.

“Subhanaallah.”

“Mas Arif..”

Kaget dan senang spontan merasuk pada diri moham. Kerinduannya tak bisa menutupi dan langsung ia peluk erat seorang laki-laki dewasa berjas hitam yang berdiri dihadapannya.

Kerinduannya selama ini telah terobati. Namun mata Arif masih mencari sosok yang ia sangat rindukan.

“Moham. Ibu dimana ?”

pertanyaan yang wajar diajukan oleh seorang anak yang sudah lama tidak bertemu sang ibu.

“Ibu sudah ke warung. Sejak tadi.”

Perasaan senang membuat arif untuk melaju menuju ke warung ibu tercintanya dengan naik sepeda motor yang sudah lama ia tinggalkan.

“Bu... Ibu “

Suara teriakan kebahagiaan membuat suasana warung yang ramai menjadi hening.

“Bu.. Arif pulang.”

Piring yang hendak dibuat wadah untuk menaruh lentog kini ditinggalkan sendiri. Kerinduan yang lama kini telah terobati semua.

Arif kini kembali ke kampung halamannya dan membantu sang ibu melanjutkan bisnis lentog yang lebih inovatif dan kreatif. Kesuksesannya dalam berbisnis membuatnya semakin meningkatkan ketakwaannya kepada sang Pencipta. Kemapanan arif sekarang tak perlu diragukan lagi. Dua buah restoran lentog dia kelola sendiri dan hasilnya dia gunakan untuk pergi haji bersama sang Ibu dan adiknya tercinta. Itulah cia-citanya sejak dulu untuk menaikkan haji kedua orangtua dengan hasil kerja sendiri. Walaupun sekarang ayahnya tidak bisa hadir disampingnya, namun dia percaya bahwa ayahnya selalu mendo’akannya di atas sana dan selalu ada dalam hatinya.             




ANTOLOGI CERPEN : wishful story
PRAKTEK MENULIS WORKSHOP AFSOH PUBLISHER 2013
MAHASISWA UNNES

DAFTAR ISI ANTOLOGI :

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top