-->

Malam ini ….

| 8:43 AM |

 Di atas ayunan bawah rembulan aku mencoba menahan tiap tetes air mata yang memaksa untuk berjatuhan. Dingin angin malam menyeruak di sela pori-pori tubuhku, begitu merasuk dalam tulang-tulangku. Ngilu, entah angin malam atau suasana hancurnya hatiku yang membuat ku gemetar. Gigiku gemeretak dan badanku menggigil kedinginan. Apa yang terjadi dengan diriku Ya Tuhan? Mengapa aku merasa sesakit ini? Ahh, biarlah aku sakit, toh tak ada yang peduli dengan hidupku, lagipula hatiku juga sudah terlebih dahulu sakit dan perih.

Sendiri.. Ya aku selalu saja sendiri begini. Sepi yang selalu menggelayuti hidupku, sepertinya enggan beranjak pergi dari sisiku. Hatiku bergejolak, apakah sepi ini membuatku senang atau sedih. Akan tetapi  rasa sedihlah yang menguasai hatiku saat ini. Meratapi betapa hancur dan terpuruknya aku. Aku takut jika kesepian dan kesendirianku ini bertahan lama. Aku ingin ada seseorang yang mampu mewarnai hari-hariku dengan ketulusan hatinya. Mampu membuatku selalu tersenyum dan bahagia. Selalu nyaman saat bersamanya. Tapi, kapankah itu akan terjadi padaku? Apakah mungkin dia ada untukku?

Doa dan harapan selalu ku lantunkan bersamaan dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Aku panjatkan doa kepada Tuhanku. Meminta ketabahan dan ketenteraman hati, agar aku sanggup menghadapi rumitnya persoalan ini. Aku sakit. Ku tau Engkau pasti mendengar rintihan hati jauh dalam hatiku. Kau tahu, dia adalah orang yang ku sayang, selalu ku nantikan kehadirannya. Dia yang dulu juga menyayangiku. Tapi itu semua tinggal kenangan….

***

Musim telah berganti, aku masih terpuruk dan hatiku sakit karena merindukanmu, tentu saja. Kenangan-kenangan bersamamu, silih berganti muncul dalam benakku, seperti rekaman yang menampilkan setiap kejadian secara acak. Tapi tiba-tiba berhenti disaat kita bertemu untuk pertama kali.

“Hey, aku sudah memesan meja ini!” ucap seorang laki-laki yang berdiri dihadapanku, dia terlihat rapi dengan kemeja yang ia pakai. Aku hanya meliriknya dan mulai bangkit dari tempat dudukku, tidak, bukan untuk meninggalkan meja ini.

             “Maaf, tapi tidak ada yang memberitahuku kalau meja ini sudah dipesan,” bantahku dengan cukup tenang. Tak ada bantahan yang keluar dari mulutnya, ia malah mendelik dan terus menatapku.

* * *

             Mengingat kejadian itu, membuat bibirku perlahan mulai tertarik, dan nampaklah senyum yang telah lama tak kutunjukkan pada orang-orang di sekitarku.

             Perlahan kenangan itu mulai memudar dan digantikan oleh kenangan lain, saat aku melihatmu duduk sendiri di taman bunga. Aku tidak bisa menebak perasaanmu saat itu. Kau menampilkan kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan di waktu yang sama.

             Seikat bunga mawar dan sebuah kotak kecil yang ada ditanganmu perlahan merosot. Genggaman tanganmu tak sekuat tadi, dan kedua benda itu pun jatuh. Tiba-tiba air mata membasahi pipimu. Entah apa yang membuatmu seperti itu.

* * *

Aku mendekatimu. Kusentuh bahumu dengan lembut, kuharap kemarahan tidak sedang menguasaimu saat ini. Perlahan kau menoleh dan menatapku dengan tatapan bingung. Tapi kamu hanya mengangkat alis tanpa mengalihkan pandanganmu dariku. Aku tersenyum, dan kau mulai mengerjapkan kedua matamu.

             “Bukankah kau. . .”

             “Ya, ternyata kau masih mengingatku,  jawabku dengan tersenyum. “Aku Victoria, kau siapa?”

             “Kris. Kau mengukutiku ya? Kau suka padaku?” ucap Kris percaya diri.

             Sejak saat itu kami mulai dekat, kami sering menghabiskan waktu bersama. Sampai suatu hari Kris mengajakku makan malam di Restoran Arirang, di meja no. 3, dimana kami pernah berebut tempat duduk di sana.

“Aku mencintaimu Victoria. Aku mau kau menjadi kekasihku. Apakah kau mau?,” ucap Kris dengan tulus. Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya. 

* * *

             Saat itu yang ada dipikiranku hanyalah bahwa aku terlahir untuk bertemu denganmu, dan aku mencintaimu sampai mati.

             Kini, kita di bawah langit yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Kau bersembunyi karena menganggapku tak pantas bersanding denganmu. Seperti inikah akhir perjalanan cinta kita?

             Mataku masih terpejam, aku terus berusaha membuat otakku memutar kembali memori yang sebenarnya tak ingin aku ingat lagi.

***

             “Apa kau sudah lama?” mataku masih terpejam, tapi aku bisa merasakan senyum mulai menghiasi wajahku ketika kudengar suara yang telah kurindukan itu.

             “Aku bisa mendengar suaramu, ini sangat nyata,” gumamku tanpa mencoba membuka mata.

             Aku merasa keanehan mulai menyelimutiku. Tanganku terasa hangat. Kehangatan yang selama ini kurindukan, kehangatan yang kuharapkan segera kembali padaku. Perlahan kucoba membuka kedua mataku. Aku terkejut, ternyata Kris sudah di depan mataku.

             “Aku sudah memesan meja ini,” suara itu berhasil membuatku terlonjak. Aku baru sadar sedari tadi ada seseorang yang duduk di depanku. Ia terus memperhatikanku, dan masih menggenggam tanganku.

             “Kris,” bisikku. Ia pun tersenyum dan masih terus menatapku.

             Hening, itulah yang terjadi selama beberapa menit, sampai akhirnya seseorang memecahkan keheningan diantara kami. Aku mengenalnya, tentu saja, karena ia adalah sahabatku dari kecil, tapi kini kami sedikit menjaga jarak. Sesuatu telah membuatnya mulai menjauhiku.

             “Kau juga di sini ya?” Jennifer bertanya padaku, dengan keramahan palsu, aku tahu itu, karena itu nampak sangat nyata.

             “Aku akan pulang,” jawabku dengan setenang mungkin. “Thanks, karena kau telah merebut pacar sahabatmu sendiri,” bisikku saat kuberlalu di sampingnya. 

             Aku terus berjalan menjauhi mereka, menahan butiran-butiran sebening kristal yang siap jatuh membasahi pipiku. Aku tak peduli, entah mereka masih memperhatikanku, ataukah mereka telah sibuk dengan urusan mereka. Yang ada dipikiranku hanyalah menjauh, menjauh dari orang yang kucintai, dan menjauh dari sahabat yang telah mengkhianatiku.

             “Victoria!” seseorang mencengkeram pergelangan tanganku, suara itu tak asing lagi di telingaku.

Perlahan aku berbalik, menatap kedua matanya yang sayu. Aku benar-benar merindukan tatapan itu, sungguh aku merindukannya.

             “Tersenyumlah, aku hanya bisa tersenyum kalau kau juga tersenyum, percayalah kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku,Kris diam dan terus menatapku dengan khawatir. “Kau gadis yang baik, cantik, dan begitu sempurna dimataku. Percayalah bahwa kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan.

             “Terima kasih untuk semuanya, tapi tak ada kata yang bisa menghiburku saat ini.

             “Hey, aku tidak berusaha menghiburmu, aku mengatakan yang sebenarnya, dan maaf karena aku sekarang telah bersamanya.

             “Sudahlah, kembalilah pada kekasihmu, kuharap ini adalah sandiwara kesedihan terakhir dalam hidupku.

Kris mengerutkan keningnya dan bertanya apa maksud dari ucapanku itu, tapi aku hanya menjawabnya dengan senyuman, dan pergi, benar-benar pergi. Tak ada lagi Kris yang menahanku dan memohon agar aku tetap di sisinya.

* * *

             Kurasakan jantungku seakan-akan berhenti berdetak, ketika ingatan itu muncul, saat kau dan aku membeku setelah pertengkaran itu. Pertengkaran yang membuat dadaku terasa sesak.

             “Kau jahat Vic!” ucap seseorang dari ambang pintu kamarku. “Teganya kau mengatakan sahabatmu hanya memanfaatkan popularitasmu, dan mengapa kau tega mengkhianatiku?”

             “Kris….

             “Kau bilang kau tidak bisa hadir di konserku karena ada yang harus kau lakukan, dan ternyata yang kau lakukan hanyalah bertemu laki-laki lain,” nada suara Kris mulai meninggi, dan kemarahan benar-benar menguasainya.

             “Itu karena aku meminta bantuan pada Keyl tentang album baruku.

             “Aku tak mau mendengar alasanmu lagi, aku sudah muak. Kurasa kita harus berhenti sekarang,” aku hanya bisa berbalik dan terisak mendengar ucapanmu yang begitu kasar.

             Entah mengapa saat itu aku tak memiliki daya untuk menjelaskan semuanya. Menunjukkan bukti-bukti bahwa dia berusaha agar kita berpisah. Mengapa aku tak memberitahumu bahwa Jennifer adalah perempuan licik.

             Sungguh, aku benar-benar bodoh, aku tidak memberitahumu dan malah semakin terisak. Lidahku kelu untuk mengatakan sebenarnya. Wajahku telah memerah berusaha menahan air mata yang semakin memaksa untuk keluar.

             Sekarang aku merasa lebih kuat, aku tidak sakit ataupun kesepian. Bagiku kebahagiaan hanyalah omong kosong. Tapi terkadang aku merasa aku tak bisa menahan sesuatu yang lebih rumit dari ini.

             Biarkanlah aku pergi dari hidupmu, biarkanlah hanya diriku yang merasakan kesedihan ini. Jangan tanya kapan kesedihan ini akan benar-benar berakhir, biarkan waktu yang akan menjawabnya. Aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti ada seseorang yang mampu menyembuhkan luka hatiku ini.

 

BIODATA

Nama              : Kapriati Utami

Biodata Penulis

 

TTL                 : Sragen, 5 Oktober 1993

Alamat            : Klentang, RT:08/II, Gemolong, Sragen

Email              : kapriatiutami@yahoo.com

Motto              : semangat dan motivasi adalah kunci tercapainya cita-cita.

Tulisan Terbit dalam Antologi Buku : Goresan Pena Melukis Rasa 
terbit di Afsoh Publisher 2013
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Mahasiswa PGSD Unnes

Isi Buku 
Hati Kardus Untuk Omen
Kasih Tak Pudar 
Keabadian Cinta Tuk Selamanya
Jarak  
Lorong Impian si Kecil Clara 
Ceritaku Ceritamu 
CInta Tidak Harus dipaksa  
Kupilih Jalan Terbaik 
Malam ini ...

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top