-->

Maafkan Aku Mas - ANTOLOGI MAAF

| 2:59 PM |

Ditulis Oleh Mang Gugun - Mahasiswa Unnes 



Menikah muda bukanlah pilihanku, apalagi dengan orang yang usianya sungguh jauh lebih tua dariku, terpaut sepuluh tahun dan sudah sangat dewasa, memang sangat enak dan sudah mapan. Tapi apakah aku bisa mencintai Mas Ardi, suamiku yang sudah aku nikahi empat tahun lalu, dan kami sudah dikaruniai seorang putra bernama Cahya yang berusia sekitar dua tahun. Aku begitu sayang kepada anakku, sangat cinta, melebihi siapapun, termasuk suamiku sekalipun. Empat tahun berlalu aku belum menemukan apa yang kucari, setiap detik aku merawat buah hati kami akan tetapi rasa cinta kepada suamiku tak kunjung tiba juga. 

Semua bermula ketika aku lulus SMA, aku sangat ingin kuliah dengan prestasiku yang mungkin pas-pasan dibandingkan dengan teman-teman sepantaranku. Aku sangat antusias sekali ketika ada program beasiswa yang diadakan oleh perguruan tinggi negeri, akan tetapi semua harapan itu pupus ketika orang tuaku tak menyetujui akan hal ini, “Mau makan apa kamu di jauh sana?”. Mungkin orang tuaku mampu untuk membiayai kuliahku, tetapi biaya kehidupanku sehari-hari? Siapa yang akan menanggung?

Beberapa bulan ketika aku menanggalkan seragam SMA-ku, aku berusaha mencari pekerjaan agar aku tidak terus membebani bapak ibuku yang sudah tua dan harus lagi mengurus tiga adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan SD. Akan tetapi sangat sulit sekali ijazah SMA yang aku lampirkan dalam stopmap warna cokelat yang kubawa dan hampir seminggu kuajak stopmapku jalan keliling pabrik-pabrik, ada yang sudah penuh, ada yang minimal S1, ada yang hanya menerima karyawan laki-laki, dan lain-lain. Aku sempat nangis di hadapan bapak ibuku ketika kami sedang nonton televisi. Akan tetapi beliau memberikanku semangat untuk terus berjuang.

“Pak, Dini sudah cari kerja kesana kemari tapi ndak ada jodoh, Pak?”

“Ya ndak apa-apa, Nduk, Bapak sama Ibuk minta maaf karena tidak bisa membekali kamu lebih dari ini, adik-adikmu juga masih sekolah semua!”

“Ndak apa-apa kok, Pak, saya sudah senang bisa bersekolah sampai tamat SMA, ya tapi kalau cari kerja memang agak sedikit sulit, Pak!”

“Coba terus ya, Nduk, jangan menyerah, Bapak doakan kamu semua supaya jadi anak yang berguna, cepat kerja ringankan beban Bapak yang hanya serabutan, ringankan beban Bapak, karena bapak sudah tua, adik-adikmu juga butuh sekolah!”

Aku menghela nafas sejenak, dan mengelus dada ini, sungguh inilah yang dinamakan hidup, aku sangat beruntung memiliki bapak dan ibu yang sering memberi semangat dan meneteskan air mata pengharapan kepadaku, ah ... hal itu juga menjadi beban buatku untuk melangkah dalam semangat, apakah bisa seinstan ini, apakah bisa aku seperti di film-film telenovela mendapatkan pangeran tampan berduit tajir tujuh turunan tak habis-habis. Emang nggak pernah dipakai mungkin, hehehe. Semangatku kembali membara ketika selesai sarapan, tak lupa aku cium tangan bapak ibuku untuk memberi contoh adik-adikku dan berpamitan, akan tetapi sore hari ketika senja mulai merayap, wajah ceria itu menjadi murung, rasa capek bercampur dengan kekecewaan. Hampir jenuh aku berganti hari, minggu, dan bulan tak juga kutemukan sebuah pekerjaan, apapun itu yang penting halal.

Perasaanku semakin menjerit ketika bertemu dengan teman-temanku SMA, pertanyaan yang sangat sering kudengar, “Kuliah dimana Din?”, lalu dilanjutkan pertanyaan selanjutnya, “Gimana lancar kan?”. Ya cuma aku anggukkan kepalaku saja dengan sambil senyum dan diam seribu bahasa atau mengajak mereka membahas hal lain atau mengenang masa lalu kita dulu di SMA. Yah seperti inilah perjuangan hidup, yang suka terus bersyukur, yang duka, semoga tetap bersyukur.

Sore itu aku hampir frustasi menyusuri jalan pulang, tiba-tiba kutemukan sebuah kertas yang masih merekat pada tembok berwarna putih yang agak kusam bertuliskan: lowongan pekerjaan, SMA sederajat, wanita 18-25 tahun, tinggi 160 cm, ditempatkan dalam bidang marketing dan promosi, pendaftaran mulai pukul 08.00 WIB - 16.00 WIB/ jam kantor, hari jumat dan minggu tutup. Sesegera aku pulang ke rumah dan mempersiapkan diriku untuk esok hari, semoga esok hari adalah hari yang menyenangkan. Itu harapanku. Diterima kerja di dekat rumahku. Aamiiin.

Pagi pun mendatangkan sinar-sinarnya yang tak bisa menembus jendela kamarku karena terhalang oleh pagar dari tanaman hidup yang sangat tebal. Aku sudah siap untuk melamar pekerjaan hari itu, singkat cerita aku diterima setelah beberapa jam wawancara dan rasanya sangat senanag sekali, aku diberi waktu satu bulan untuk masa percobaan, akan tetapi perusahaan akan tetap menggajiku selama sebulan itu, jika pekerjaanku bagus, gaji bisa naik sesuai hasil yang kuperjuangkan.

Bagaimanapun, rasanya gaji pertama itu sangat menyenangkan, membuat suasana hati senang. Setelah berjuang keras selama sebulan, kutraktir adik-adikku makan dan kubelikan bapak serta ibu pakaian. Tak terasa gajian sebulan sudah habis, itulah pengalamanku pertama gajian, sayang aku tak sempat mendapat gaji yang bulan kedua, karena aku dilamar tetanggaku yang tak begitu akrab kukenal, tetapi setahuku dia jarang di rumah, seorang pengusaha, kalau di rumah sering ke masjid solat berjamaah dan lain-lain. Aku semula tak sependapat dengan orang tua, aku masih ingin bebas di usiaku saat ini, tetapi keadaan berkata lain, walau aku menangis darah orang tuaku terlanjur mengiyakan lamaran mas-mas itu. Benar-benar tak ada yang namanya penjajakan atau saling kenal, sebelum lamaran itupun aku juga hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.

Tanggal pernikahan pun ditentukan, saat hari H akhirnya aku sekarang berstatus suami orang, aku sempat nangis, karena secara psikis aku belum siap menikah, secara fisik pun masih ingin bermain-main dengan teman-temanku, seperti merpati yang belajar terbang, bebas, dan mencari jagung-jagung bersama merpati lain, ketika ada orang melemparkan makanan favoritnya itu, akan tetapi Tuhan berkata lain terhadapku. Aku tak pernah mencintainya sedikitpun, tak pernah sayang, tak pernah suka pada suamiku sedikitpun, hanya sering dia mengajakku mengakrabkan diri padaku, alangkah beruntungnya dia, datang di saat yang tepat, sehingga keluargaku pun dengan mudah bilang “ya” tanpa minta persetujuan dariku. Kata mereka, bahagia itu bisa belakangan, yang penting hidup nyaman dan tentram serba kecukupan, sudah cukup keluarga kita menderita kemiskinan akut. Aku mulai ada rasa simpati pada suamiku, ya karena biar bagaimanapun dia adalah suamiku, walau tak kucintai tetapi dia sangat sayang aku, aku harus menghargai perasaanya, sempat aku mutung dan murung padanya, tapi tak berapa lama aku minta maaf, sepertinya dia adalah lelaki yang pasrah dan nurut, apa kataku pasti dituruti, entah ini trik dia atau apa yang suatu saat bisa berubah akan tetapi empat tahun berjalan dia masih saja seperti itu, aku mulai menaruh rasa ini kepadanya. Benar kata Bapak, cinta itu bisa belakangan, yang penting mapan dulu, bukan berarti matre. Tapi ini realita kehidupan. Aku sering menghargai lebih suamiku dengan memberi perhatian ketika dia pulang kerja, kubuatkan kopi, kusiapkan makan, yang dulu semua ia lakukan sendiri, karena dia tahu aku tak cinta dengannya.

“Dik, aku mau minta waktu malam ini bisa?” setelah menyantap makanan yang kubuat dia mengajakku entah mau apa.

“Kemana, Mas? Aku capek hari ini Mas, tidur saja ya? Lagipula aku lagi halangan!”

“Bukan masalah itu dik, ya udah kamu tidur aja, ntar Mas bangunin nggak apa-apa ya?”

“Iya sudah mas, Dini nurut saja sama Mas, tapi kalau Dini nggak bangun nggak apa-apa kan mas?”

“Iiiya nggak apa-apa kok, biasanya juga nggak pernah bangun setiap kali aku minta bangun!”

“Yee ... nyindir … hehehehe!”

Aku mulai ketawa ketika dengan polosnya dia bilang seperti itu, aku sudah bangun sebenarnya, tapi sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurku, ya karena aku mungkin tak sepenuh hati melakukan aktivitasku berumah tangga bersamanya. Akan tetapi aku sangat heran, selama ini dia tak pernah memarahiku sedikitpun, dan ketika aku selalu menolak dia hanya tersenyum kecil sambil menatap sayup wajahku, dengan sabar dia berusaha menumbuhkan rasa cinta yang sudah mati ini untuk dihidupkan lagi.

Tapi sepertinya aku sudah menutup rapat-rapat rasaku padanya, apalagi kemarin siang aku melihat seorang lelaki yang sangat aku cintai ketika di SMA baru saja diangkat jadi direktur di perusahaan tempatku bekerja dulu sebelum aku dinikahkan paksa. Rasanya sangat ingin memeluknya, akan tetapi ada suamiku di sampingku, aku terus saja menjaga pandanganku dari Mas Idham, karena suamiku adalah salah satu manajer lapangan dari perusahaan Mas Idham. Dengar dengar Mas Idham baru pulang studi dari Malaysia. Dan karena track record-nya bagus, dia diangkat jadi direktur di sana.

Ketika selesai memikirkan Mas Idham, kembali aku menaikkan selimutku karena aku diminta untuk tidur dan menhapus semua pikiran-pikiran dan andai-andai yang semakin tak terkendali. Baru saja sejenak aku memejamkan mata ini, rutinitas yang membuatku kadang jengkel hadir di malam itu, anakku menangis karena ngompol dan minta disusui, yah kalau sudah begini aku akan tidur malam dan sulit bangun, padahal rencanaku ini adalah kali pertama aku menghargainya sebagai suamiku, semoga aku bisa bangun nantinya. Setelah anakku diam aku kembali melanjutkan tidurku. Suamiku tak pernah aku beri kesempatan untuk melakukan apa-apa, karena aku memang tak mau, aku sering tidur saling bertolak belakang dengan suamiku. Dia pun masih sabar, mungkin tidak ada lelaki yang sehebat ini, akan tetapi aku tak cinta dengan dia. Aku punya anak juga karena malam pertama itu, aku dosa besar bila menolaknya.

Pagi pun menyambut, sekitar pukul 03.00 WIB, aku sudah berada di lantai paling atas rumahku, entah kapan aku dibopong yang jelas aku tidak merasakan apa-apa sebelumnya.

“Dik … dik, bangun ya? Mas mau bicara.”

“Ahhh … apa tho mas, ngantuk banget aku, ndak lihat apa tadi sampai jam berapa anakmu rewel?”. Aku pun tidur lagi, sebenarnya aku sudah sadar dimana tempatku berada, ini bukan kamar kami, ini tempat bersantai keluarga, udara sejuk terus menembus tulangku karena memang agak terbuka ruangannya, di sinilah biasanya aku menangis, melepas rindu dengan orang tua dan adik-adikku.

“Dik, Mas minta dong bangun ya?”

“Nggak, Mas, capek, ngantuk aku!” kulanjutkan tidurku dan dia masih duduk menungguiku.

Aku pun membuka sedikit mataku, kulihat dia menangis, air matanya membasahi kakiku dan menetes pelan-pelan, ini bukan pertama kalinya aku melihat dia menangis, sudah beratus-ratus kali, sampai saat ini, hatiku kali ini trenyuh, rasanya ada yang beda, ahh nggak mungkin aku jatuh hati padanya, jangan lah!

Mau nggak mau aku terjaga dari tidurku, dan mengusap air mata suamiku, aku nggak tega sekarang, aku berusaha meredam emosinya mungkin, kalau dia punya emosi, karena selama ini kurasa dia mati emosi, jadi kita sama-sama mati. Aku mati rasa, dia mati emosi.

“Mas, kenapa nangis?”. Seolah-olah aku tak pernah melihat dia menangis selama ini, kutanya saja dengan nada polos sembari terus mengusap air matanya yang masih berlinang.

“Nggak apa-apa, Dik, mas sayang banget sama adik!”. Dia pun menjawab lirih.

“Tapi aku nggak pernah sayang dengan Mas lho sampai saat ini!”

“Iya, aku juga merasakan itu kok dik. Tidak apa-apa, Mas masih punya waktu untuk merubah itu kan?”

“Sepertinya tidak, Mas, sudah berapa kali Mas menanyakan ini dan jawabanku sama kan?’

Dia pun terdiam, hatiku sebagai perempuan luluh juga akhirnya, empat tahun mungkin dia menahan semua, kembali dia meneteskan air mata dan kali ini disertai dengan suara lirih tangisan dari suamiku. Aku pun tak bisa menahan air mataku, biasanya aku yang judes hancur sudah semua. Kupeluk tubuh suamiku yang sebelumnya tak pernah kulakukan, kuberi dia sebuah ciuman kecil di keningnya.

“Mas, maafkan aku, sudah menjadi istri yang buruk bagimu!”

“Kamu istriku yang terbaik, Dik, pertama dan terahir bagiku.” Aku pun semakin mempererat pelukanku pada tubuhnya dari belakang. Tak kuasa aku menangis.

“Kenapa sih Mas kamu tak menceraikan aku sejak dulu? Kenapa sih Mas kamu tak pernah memarahiku? Kenapa sih Mas kamu itu hanya diam saja ketika aku bentak? Kenapa sih Mas  kamu itu selalu mengalah ? Kenapa sih Mas kamu itu begitu baik padaku? Ha? Jawab Mas?”

“Apakah Mas mau menambah deritaku? Apakah Mas mau mempermainkan perasaanku? Jawab mas?”

Tak kusangka entah darimana dia memperoleh keberanian, dia berbalik badan dan memelukku erat-erat sambil terus menangis, getaran itu getaran cinta yang tulus, rasa ikhlas, pasrah, kasih sayang tanpa pamrih, wanita mana yang tak luluh dan meneteskan air mata.

“Selamat hari ulang tahun pernikahan kita, Dik, sudah empat tahun kita bersama, semoga keluarga kita sakinah mawaddah dan warrohmah, semoga kita selalu menjadi berkah bagi diri kita dan orang tua kita serta anak-anak kita nanti, selalu diberi kesehatan terus dan rizki yang halal.”

Aku semakin tak kuasa menahan tangisku, baru pertama kali ini aku menangis setelah empat tahun lebih aku tidak menanagis sehebat ini, terakhir aku menangis ketika dirias menjelang pernikahan, setelah itu tak lagi.

“Tapi Mas? Aku belum bisa mencintai Mas dan menyayangi Mas!”

“Nggak apa-apa kok, Dik, besok kita pergi ke rumah ibu ya? Aku sudah kangen, neneknya Cahya juga pasti rindu dengan Cahya!”

Lalu suamiku menyodorkan kue ulang tahun dan kami pun meniup bersama kue tersebut, di sinilah aku mulai menaruh simpati pada suamiku, setelah empat tahun aku buta rasa, mati rasa atau apalah terserah. Setelah melakukan selamatan kecil-kecilan kami pun kembali ke kamar untuk tidur bersama, besok pagi-pagi sekali kami harus mempersiapkan diri ke rumah ibu.

Pagi pun berjalan menyinari mobil BMW yang kami tumpangi bertiga, melaju kencang menuju desa yang asri nan indah, di sanalah aku dibesarkan dan dihidupi, terahir aku ke desa ketika peresmian Mas Idham menjadi Dirut dan suamiku menjadi manajer lapangan, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibu dan bapak serta adik-adikku yang sekarang sudah kuliah semester satu dan ada yang baru kelas 1 SMA, rasanya ini adalah kado terindah di pernikahan kami yang keempat. Bukan terindah sebenarnya, karena hampir setiap tahun suamiku melakukan kejutan-kejutan seperti ini, akan tetapi baru kali ini bisa terwujud.

Sesampainya di rumahku aku langsung cium tangan ibu dan bapak, sambil menggendong Cahya, suamiku pun mencium tangan kedua orang tuaku. Tak lama kemudian Cahya diminta oleh ibu untuk digendong dan kami diminta istirahat di kamarku, kamar tempatku akan bunuh diri ketika aku dipaksa untuk menikah, tapi semua tak terjadi.

Aku langsung beristirahat dan membaringkan tubuhku di samping suamiku. Biasanya kami sok mesra dan romantis agar tak menunjukkan ketidaksukaanku. Biasanya aku juga paling malas diajak pulang walau sudah kangen karena aku harus bermain peran, tapi kali ini tidak lagi. Aku cium kening  suamiku yang sedari tadi memejamkan matanya, mungkin capek menyetir sendiri dalam perjalanan jauh.

Malam pun tiba, kejutan dari suamiku pun tak berhenti sampai di sini, karena suamiku meminta izin untuk mengkuliahkan aku. Ya, itulah cita-citaku selama ini, ingin kuliah dan menjadi sarjana yang bisa berwirausaha. Aku pun tak menyangka dengan kejutan itu, aku semakin punya rasa dengan suamiku. Malam itu juga aku bilang “Aku sayang kamu, Mas. Terima kasih, ya!”. Lalu kucium keningnya di depan orang tuaku dan adik-adikku. Mereka yang sekolah dan kuliah juga dibiayai suamiku. Ini benar-benar kado terindah hari ulang tahunku sekaligus hari pernikahan kami 12 Desember 2011.

***

Pagi-pagi aku diantar suamiku pergi ke kampus yang kebetulan kampus dengan kantor sama, tapi jauhan kampusku. Aku dan suamiku sekarang semakin mesra dan romantis, kami sering jalan berdua, menghabiskan waktu bersama dan bercengkerama ketika ada waktu luang saat aku tak ada tugas dari dosen. Teman-temanku mahasiswa pun juga usianya terpaut empat tahun dariku, seharusnya aku hari ini sudah bergelar S1, ya tak apa lah, mungkin ini jalan terbaik yang sudah digariskan, aku dapat suami yang sangat baik serta bisa kuliah. Nyaman sekali hidupku saat ini. Aku serasa tak menjadi wanita yang paling sial di dunia seperti dulu lagi.

Sekarang aku sekampus dengan adik-adikku dan mereka lebih pandai dariku, maklum sudah empat tahun aku tak pernah belajar apapun soal dunia perkuliahan, paling yang selalu kubaca adalah novel yang selalu dibelikan suamiku karena aku senanag sekali dengan buku-buku fiksi yang bergenre drama dan roman atau cerita cinta remaja. Walaupun aku sudah tak remaja lagi, tapi koleksi novelku kebanyakan tentang remaja, aku juga berencana membuat novel kehidupanku, akan tetapi aku juga harus mengatur waktu, sehingga aku akan bisa berlama-lama di depan komputer kerja suamiku di rumah.

Ketika aku memasuki semester baru yaitu semester genap, aku merasa puas dengan hasilku, semua penilaian dari dosen adalah A minimal AB, itu sangat di luar dugaanku, ya mungkin karena faktor usia, aku lebih berpengalaman daripada teman-temanku yang notabenenya terpaut antara 3 sampai 4 tahun. Hal itu tak kumanfaatkan dengan sia-sia, aku selalu aktif dalam berbagai diskusi dalam perkuliahan. Ketika aku mau ikut salah satu organisasi di kampus atau UKM, suamiku tak mengizinkan, aku juga menurutinya dengan senang hati. Tak sebebas dulu waktu SMA, walau aku wanita, tapi banyak organisasi yang kuikuti.

Setelah semester dua berjalan, sekitar bulan Januari 2012 aku mulai memasuki perkuliahan seperti biasa, akan tetapi aku sangat terkejut ketika ada salah seorang mahasiswa yang wajahnya sudah tak asing lagi bagiku. Karena aku bisa mengambil SKS lebih banyak, aku bisa bersama dengan mahasiswa semester 4, sementara aku baru semester 2. Ya, benar sekali dia adalah Rio, mantanku terakhir di SMA, lima tahun yang lalu. Ternyata dia baru semester 4 ini karena sering cuti kuliah akibat tuntutan profesinya sebagai artis dan berkecimpung di dunia modelling.

“Rio? Ini beneran kamu?”

“Emmm ... siapa ya? Aku lupa-lupa ingat.”

“Masak lupa? Hehehe ayo tebak siapa aku?”

“Beneran deh lupa aku, tapi sepertinya kita pernah dekat sebelum ini kan?”

“Emang sudah berapa gadis yang kau pacari sehingga kau lupa padaku, Rio? Hehehe.”

“Apakah kamu pernah menjadi pacarku? Kapan? Saat masih SMA atau sudah kuliah?”

“Dasar kau tetap saja playboy! Hahahaha,” sambil kutepuk pundaknya.

“Aku Dini, mantan kamu yang pertama, dulu di SMA katamu, tapi aku tak percaya kalau aku cinta pertamamu alias mantan yang pertama bagimu, playboy! Hehehe.”

“Oohh, ternyata kamu? Ya aku lupa banget lah, dulu tu ya kamu tu kurus banget, lihat sekarang? Sejahtera dan gemuk banget, hahaha!”

“Ah, biasa aja! Hehehe.”

Kami pun melanjutkan mengobrol di kantin kampus setelah selesai kuliah, sampai berlarut-larut dan membincangkan segala hal. Aku pun dengan enjoy menceritakan seluruh kejadian yang kualami tetapi tidak sampai ke privasiku. Aku juga memberitahukan bahwa aku sudah menikah dan beranak satu, suamiku pengusaha dan lain-lain tentang diriku sesuai dengan apa yang ditanyakan. Aku pun ditraktir makan sore itu sampai kekenyangan dan ngantuk. Tak sadar suamiku telah lama menunggu, aku memintanya jam setengah empat, sedangkan ini sudah jam lima, HP-ku juga mati karena tadi kupakai buat ngedengerin musik pas lagi jenuh. Bisa gawat ini, alasan apa ya nanti.

“Eh, mau kemana? Aku masih kangen Din?”

“Tak bisa, Rio, aku sudah ditunggu suamiku, terima kasih traktirannya hari ini ya!”

“Besok kita ketemu lagi kan?”

“Insya allah kalau ada jam kuliah yang sama aja ya?” sambil berlari meninggalkan kantin menuju parkiran mobil. Kutemukan suamiku sudah ada di sana, aku merasa sangat bersalah dan akhirnya harus berbohong pada orang yang tak pernah membohongiku, maafkan aku, Mas.

“Mas, ayo pulang!”

“Dari mana kok lama?”

“Oh tadi, ada tugas portofolio dari dosen, aku cari referensi di perpus, Mas, maaf ya, sudah lama, Mas?”

“Nggak kok, baru aja aku nyampe sini, tadi aku pulang sebentar, nyiapin kejutan buat kamu, Dik!”

“Apaan, Mas, tancap gas, aku sudah lapar ...!” padahal perut ini sudah terasa nggak mau dimuati lagi.

Ternyata di rumah suamiku memasak untukku karena semester lalu berhasil jadi terbaik, aduh, bisa meledak ini perut, mana sudah ada isinya lagi. Bahaya kalau seperti ini. Aku pun terpaksa memakan makanan yang dibuat suamiku sendiri karena aku berprestasi, aku juga positif hamil. Rasanya sangat mendesak sekali. Perutku kekenyangan, hampir sejam aku berada di WC untuk menuntaskan hasil kinerja yang secara alami. Rasa perutku pun sakit sekali seperti kram, aku takut terjadi apa-apa pada janinku.

Aku dan mantanku pun semakin akrab, aku pelan-pelan mulai jatuh hati lagi dengan Rio, akan tetapi aku sudah punya suami yang sebaik itu padaku, aku menjadi bingung saat ini karena sering berbohong pada suamiku. Ketika aku pulang terlalu malam berarti itu aku sedang jalan bersama Rio. Suamiku pun tak pernah menaruh rasa curiga padaku, meskipun ketika aku sadar bahwa ini adalah salah, tetapi aku merasa lebih nyaman bersama Rio. Maafkan aku Mas, aku telah mencoba berkhianat padamu. Aku minta waktu untuk menghentikan semua ini tanpa kau tahu. Terima kasih aku ucapkan karena telah mengkuliahkanku, tapi aku mengecewakanmu, Mas. Maaf ...!!! Sungguh engkau lelaki yang sangat baik. Aku tak akan pernah seberuntung ini, Mas. Semoga kamu mengerti akan keadaanku. Dan semoga novelku akan segera terbit. Akan kuhadiahkan itu padamu jika kita masih bersama-sama, Mas. Maafkan aku.


Nama saya Muharram Adruce Noor dengan nama pena Mang Gugun. Saya tinggal di sebuah desa kecil yaitu desa Bangsal Rejo RT5 Rw1, Kec. Wedarijaksa, Kab. Pati, 59152, Prov. Jawa Tengah. Nama FB: Muharram Adruce Noor (Mang Gugun). E-mail: Noor_adruce@yahoo.com. Saya adalah anggota FLP cabang Pati-Divisi Fiksi periode 2011-2013 berlanjut kepengurusan 2013-2015 yang pernah menerbitkan cerpennya dalam “Antologi Cerpen Merpati Putih” terbitan Leutika yang berjudul “Jadilah Sitinurbaya” (2012) dan antologi cerpen “Dahsyatnya Cinta Pertama” terbitan Gazzamedia yang berjudul “Kujaga Kesuciannya” (2013), serta terbit di antologi FLP Pati yang berjudul “Namaku Kumang” (2013). Pernah menerbitkan cerpen di Jateng Pos yang berjudul “Nyai Aminah” (2013), serta masih banyak lagi. Saya adalah mahasiswa S1 PGSD FIP UNNES, aktif sebagai pengurus (sekretaris) Jurnalistik PGSD FIP UNNES (JU_P), sebagai divisi Humas KSR Sub Unit PGSD FIP UNNES dan sebagai anggota KOALA (Komunitas Pecinta Alam) PGSD FIP UNNES.


TULISAN INI TERBIT DI BUKU ANTOLOGI MAAF 
TERBIT 2013 @ AFSOH PUBLISHER 

Tulisan Lainnya : 

Yuna dan Yulian 

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top