-->

Lorong Impian Sikecil Clara

| 8:37 AM |

 By : Rita Niawati (UNNES)

Dinginnya udara pagi, angin yang berhembus dengan kencangnya hingga menembus tulang-tulang tubuh. Tak terasa dengan tebalnya selimut yang menutupi badan ini si gadis kecil tertidur dengan lelapnya.

 “kring-kring tuing tuing….. kring-kring tuing tuing” bunyi alarm jam weker.

Clara terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Pagi ini sangatlah cerah tak seperti hari-hari yang lalu, meskipun udara sangatlah dingin, Clara tetap melaksanakan aktivitas dipagi hari. Tetapi suasana hati gadis cilik itu tak secerah pagi ini. Karena hari ini merupakan hari yang sangat mendebarkan. Dimana semua siswa – siswi tingkat SMP akan menerima pengumuman kelulusan. Setelah tiga tahun lamanya menuntut ilmu dibangku SMP, hari ini adalah hari penentuan keberhasilan seluruh siswa.

Clara Dhama Putri yang biasa disapa Clara adalah salah satu siswi dari sebuah sekolah yang terletak dipinggiran kota, dimana daerah tersebut masih jauh dengan keramaian kota dan kebisingan kendaraan bermotor. Tetapi udaranya sangatlah sejuk.

Clara sekarang duduk dikelas IX A. Clara sangat cemas dia hanya mondar mandir dirumah dan sering-sering bertanya kepada ibunya. Perasaan yang campur aduk ada pada diri Clara. Karena Clara tak sabar menunggu maka dia memutuskan untuk menemui ibunya, dan mengungkapkan kekhawatirannya.

“ buk berangkat kesekolah jam berapa?” Tanya Clara.

“ loo katanya jam 08.00” jawab ibunya.

“ kok takut yaaa… takut nilainya jelek” kata Clara.

“ Tenang saja, pasti lulus dan nilainya bagus.” Kata ibu dengan mantap.

“iya deh bu” jawab Clara.

Ibu pun berangkat kesekolah. Clara hanya melihat keberangkatan ibunya dari jendela. Seraya berdoa semoga apa yang dikatakan ibunya itu menjadi kenyataan.

***

SMP SUKACITTA adalah salah satu SMP yang digandrungi para pelajar didaerah tersebut. Meskipun terletak dipinggir kota, tetapi sekolahan itu sangat tertib. Suasana disekolahan tersebut juga sangat nyaman dan bersih. Guru-guru yang mengajar di SMP tersebut juga ramah-ramah, dan sangat peduli kepada siswanya.

Hari itu seluruh wali murid sudah berkumpul di Aula SMP SUKACITTA. Lima menit kemudian kepala sekolah beserta para guru datang berbondong-bondong dengan membawa map warna merah. Pada hari tersebut kebetulan seluruh siswa kelas IX dilarang kesekolah karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Penjagaan oleh polisi juga sangatlah ketat, untuk mengaja berjalannya pengumuman ujian tingkat SMP.

Pengumuman ujian segera dimulai, dengan diawali doa bersama. Beberapa saat kemudian bapak kepala sekolah berpidato. Setelah bapak kepala sekolah berpidato panjang lebar tiba saat yang paling mendebarkan bagi seluruh orang tua/wali murid, karena Bapak Kepala sekolah akan mengumumkan keberhasilan ujian nasional tahun ini. Bahwa terdapat satu anak yang mendapatkan peringkat pertama parallel, dan terdapat 3 anak yang tidak lulus ujian. Dimana peringkat pertama  diraih oleh seorang anak perempuan. Dan yang tidak lulus adalah 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Dari pemberitahuan tersebut membuat para orang tua semakin cemas, dan ingin segera tahu hasil dari pengumuman kelulusan tersebut.

“ bapak-bapak, ibu-ibu yang berbahagia tiba saatnya saya akan memberitahu anda semua siapa yang mendapatkan peringkat pertama di SMP SUKACITTA ini. Dia adalah ‘Clara Dhama Putri’.” Seru bapak kepala sekolah dengan lantang.

Semua wali murid bertepuk tangan dengan gembira. Kemudian bapak kepala sekolah juga menerangkan bahwa ada 3 anak yang tidak lulus ujian karena nilai matematika yang tidak memenuhi syarat.

“Silahkan bapak atau ibu Clara maju kedepan untuk mewakili Clara Dhama Putri!” perintah bapak kepala sekolah.

Semua mata tertuju pada ibunya Clara. Semua orang yang berada diaula tersebut bertepuk tangan. Ibunya Clara sangat bahagia sekali. Kemudian Bapak kepala sekolah memberikan sebuah ucapan selamat dan berjabat tangan dengan ibunya Clara. Tak lupa bapak kepala sekolah juga memberikan penghargaan. Karena Clara menjadi siswa dengan lulusan terbaik di SMP SUKACITTA tersebut.

***

Sesampai dirumah ibu Clara langsung memberikan kabar baik tersebut kepada Clara. Clara sangat senang sekali mendengar berita itu. Tetapi dia juga bersedih dalam hati berkata “ apakah saya bisa lanjutin sekolah yaa”. Tanpa ragu Clara bertanya kepada ibunya.

“buk besok Clara sekolah dimana?” Tanya Clara.

“ya terserah, tapi kalau disekolahan faforit bapak kamu tidak mampu membiayayai sekolah.” Jawab ibu Clara.

“la terus gimana? Masa gak sekolah kan masih kecil?? hehehe”. kata Clara kebingungan sambil tersenyum kecil.

“cari biasiswa aja, kayaknya ada yang mau nyekolahin tapi harus tinggal diCilacap sambil kerja, kamu mau? Tapi ibu kwatir.” Jawab ibu Clara.

“ya gak papa yang penting bisa sekolah” jawab Clara mantap.

“tapi ibu belum bisa melepaskan kamu sendiri Clara, kamu masih kecil, belum tau dunia luar kayak apa… “ kata ibu.

“sambil belajar ibu, yang penting hati-hati dan tetep sekolah, boleh ya buu..????????” jawab Clara.

“ya sudah besok tak bilang pamanmu, tapi hati-hati ya!!” saran ibu.

“iya ibukuu” jawab Clara sambil memeluk ibunya.

Ibu sangat khawatir dengan Clara tapi apa daya Clara ingin sekali melanjutkan sekolah sedangkan biaya tidak ada. Mau tidak mau Clara harus mencari biasiswa agar dia bisa melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SMA atau SMK.

***

Keesokan harinya paman kerumah Clara. Kebetulan pamannya adalah orang yang biasa mengurusi masalah biasiswa sekolah.

“mau sekolah dimana to?” Tanya paman Clara.

“ya dimana aja yang penting bisa sekolah dan gak nganggur, katanya ada orang yang bersedia menyekolahkan. Siapa?” jawab Clara senang.

“ya ada, dia adalah salah satu tokoh agama ternama, namanya bu Heti. Tapi kalau kamu mau sekolah disana kamu harus tinggal diCilacap dan membantu bu Heti bekerja di toko.” Jelas paman.

“ya udah paman gak papa, yang penting sekolah, hehe” lanjut Clara.

“kamu yakin ???” Tanya paman.

“yakin sekali paman”. Jawab Clara.

Clara mengambil keputusan bahwa dia mau tinggal dimana saja asalkan bisa sekolah. Kemudian Clara mengajak Ema temannya pergi ke Cilacap dengan didampingi oleh pamannya. Ema merupakan teman Clara yang senasib dengan Clara. Ema juga pengen sekolah tetapi biaya yang tidak ada.

***

Perjalanan kira-kira 5jam akhirnya sampai dikota Cilacap. Sesampai disana mereka langsung menemui ibu Heti. Ibu Heti adalah salah satu tokoh agama yang biasa memberikan bantuan sekolah kepada masyarakat yang kurang mampu seperti  Clara dan Ema.

 “kalian benar mau sekolah disini, apa kerasan? Mau sekolah SMA atau SMK?” Tanya bu Heti.

“iya bu, saya pinginnya SMK bu, biar bisa langsung kerja nantinya.” Jawab Clara tanpa rasa ragu.

“kalau kamu?” Tanya bu Heti menunjuk Ema.

“iya sama bu” jawab Ema.

“ya sudah besok kalian lihat-lihat sekolah di tempat mbak Dani sekolah ya. Sama mbak Dani juga, biar didaftarkan. Tapi kalau libur sekolah harus bantu-bantu ibu di toko. Gimana mau gak?” penjelasan dari bu Heti.

“iya bu.” Jawab Clara dan Ema bersamaan.

Setelah terjadi kesepakatan, bu Heti melihat hasil ujian Clara dan Ema. Dan bu Heti menyarankan agar mereka sekolah di SMK saja. Ini sangat sesuai dengan keinginan Clara dan Ema.

***

Hari berikutnya Clara dan Ema mengunjungi sebuah sekolahan swasta. Mereka mendaftar disana dan diterima. Tetapi Clara tidak begitu suka dengan sekolahan tersebut. Akhirnya mereka memutuskan untuk melihat sekolah yang lain. Disekolahan yang kedua itu ternyata Ema tidak diterima karena nilainya tidak memenuhi persyaratan, sedangkan Clara juga tidak diterima karena keadaan fisik yang tidak memenuhi persyaratan.

Mereka berdua berbicara dengan ibu Heti. Dan mereka memutuskan untuk pulang. Beruntungnya ibu Heti mengijinkannya. Keputusanpun berada ditangan Clara dan Ema.

***

Empat hari berlalu dan sekarang Clara dan Ema dalam perjalanan pulang. Sesampai dirumah Clara ditanya berbagai macam pertanyaan oleh orang tuanya. Clarapun menjelaskan semuanya dengan rinci.

“gimana, jadi sekolah dimana?” Tanya ibu.

“gak tau bu, yang kemarin sekolahnya jelek banget kog.” Jawab Clara.

“ya sudah terserah kamu saja besok mau gimana.” Kata ibu sambil mengelus rambut Clara.

Saat itu Clara sangat binggung sekali. Dimana dia bisa sekolah tanpa harus merepotkan orang tuanya. Malam itupun Clara tak bisa tidur. Hanya bisa mondar mandir dan duduk termenung dikursi sambil berdoa agar diberikan jalan yang lebih baik.

***

Matahari pagi yang begitu indah dan angin yang menyejukkan menghiasi hati Clara yang sedang kebinggungan, gundah gulana. Clara sangat ingin sekolah tetapi biaya yang tidak mendukung keinginan Clara.

Tepat pukul 08.00 datanglah seoarang laki-laki gagah kerumah Clara dia bernama Roni. Dia menjelaskan bahwa ada sebuah yayasan yang mau membiayai anak-anak sekolah yang notebenya kurang mampu tetapi berprestasi. Atas bimbingan orang tua, Clarapun mengiyakan dan mau tinggal diasrama dengan berbagai konsekuensinya  asalkan bisa lanjut sekolah lagi.

“dek mau sekolah dimana?” Tanya Roni.

“belum tau nie mas, emang ada apa mas?” kata Clara.

“ini aku lagi cari siswa yang mau sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu tetapi berprestasi, tapi harus tinggal diasrama, gimana kamu mau gak? Gratis kok.” Terang Roni.

“wahh asik tu, aku mau mas. Kapan bisa kesana?” jawab Clara.

“ya secepatnya, tapi kamu juga harus mematuhi semua aturan yang ada diasrama tersebut, jangan seenaknya sendiri. Apa kamu mampu melaksanakan itu semua?” Kata Roni.

“oke, Clara siap dengan segala resikonya mas.” Kata Clara.

Sore harinya Clara dan ayahnya berangkat keasrama tersebut meminta ijin kepada pengurus asrama bahwa anaknya akan tinggal disana. Kedatangan Clara dan ayahnya tersebut disambut dengan baik oleh pengurus asrama. Akhirnya Clara diterima diasrama dan dia disekolahkan disebuah SMA ternama didaerah tersebut.

***

Hari-hari dilalui dengan sangat berat, karena selain sebagai siswa SMA dia juga harus berperan sebagai anak asrama yang mana kegiatan diasrama juga sangat melelahkan dan menguras pikiran serta tenaga, belum lagi kalau ada permasalahan. Satu tahun berjalan Clara tinggal diasrama dan pada saat Clara naik kelas XI SMA terdapatlah sebuah masalah besar yang menimpa dirinya dan teman-teman diasramanya. Maka diputuskanlah untuk keluar dari asrama dan berlanjut kost. Meskipun tidak tinggal diasrama lagi, Clara si gadis kecil itu menjalani kehidupan dan sekolahnya dengan senang hati. Banyak sekali masalah yang menimpa dirinya. Tetapi dia harus tetap tersenyum. Karena tekad Clara untuk terus bersekolah mencari ilmu demi masa depan dan tidak mau merepotkan orang tuanya.

***

Pada suatu hari terdapat seorang guru BP yang mengadakan bimbingan dikelas-kelas. Kebetulan pada waktu itu guru BP masuk ke kelas XII IPS.

“pagi anak-anak” sapa guru BP.

“pagi buu…” jawab anak-anak.

“pada kesempatan pagi hari ini, ibu akan membacakan nama-nama siswa yang bisa mendaftar ke perguruan tinggi negeri melelui jalur undangan. Berikut nama-nama siswa tersebut.” Kata guru BP.

Dari semua nama yang disebutkan oleh guru BP ternyata nama Clara Dhama Putri tidak disebutkan. Saat itu Clara menerima kenyataan yang begitu menyedihkan.

Hari selanjutnya guru BP memanggil siswa-siswa yang berhal mengikuti jalur undangan. Clara sangat sedih karena dia tidak bisa mengikuti jalur undangan yang disarankan oleh guru BP. Dia kebinggungan apa mungkin dia bisa melanjutkan kuliah. Clara hanya bisa pasrah dan selalu berdoa.

***

Hari selasa yang begitu panas saat Clara dan teman-temannya mengikuti mata pelajaran penjaskes dilapangan. Tiba-tiba ada seoarang guru yang memanggil Clara.

“Clara, dulu kamu dapat biasiswa dari sekolah gak?” Tanya bu Nani.

“iya bu, ada apa ya bu?” jawab Clara

“kamu bisa masuk perguruan tinggi melalui jalur undangan dengan biasiswa. Mau diambil tidak?” kata bu Nani.

“beneran bu, dapat biasiswa?” jawab Clara seraya tidak percaya.

“iya, ibu gak bohong Clara, tapi ini masih diseleksi lagi melalui universitas yang kamu pilih.” Jawab bu Nani.

“oh ya bu, makasih ya bu.” Kata Clara dengan sangat senang.

Hari itu Clara sangatlah senang karena dia terdaftar sebagai salah satu siswa yang bisa masuk perguruan tinggi dengan jalur undangan. Dia memberitahu kabar baik ini kepada ibunya. Orang tua Clara sangat mendukung Clara.

***

Tiga tahun terasa begitu cepat. Saatnya Clara menempuh ujian nasional. Karena ketekunan dan kegigihan Clara. Clarapun berhasil melewati semua ujian dengan baik meskipun hasilnya belum tau tetapi dia sudah berusaha dengan maksimal.

Seminggu Clara menunggu pengumuman ujian. Dia sanagtlah takut dan khawatir dengan hasil nilai ujiannya.

“besok gimana ya bu nilaiku”. Kata Clara dengan ibunya.

“ya berdoa aja semoga nilainya bagus kayak waktu SMP”. Jawab ibunya

Siang malam Clara selalu berdoa. Dan saat pengumuman kelulusan begitu terkejutnya dia ketika melihat hasil nilai ujiannya. Ternyata terdapat nilai yang kurang pada mata pelajaran bahasa inggris. Kemudian Clarapun menangis, dalam hati berkata “dengan nilai yang kurang tersebut apakah bisa lolos seleksi perguruan tinggi?”.

***

Pada suatu malam salah satu teman Clara yaitu Rara memberitahu bahwa Rara diterima diUniversitas Negeri Semarang. Saat itu Clara panik sekali. Kemudian Clara minta Rara untuk membukakan pengumumam miliknya. Ternyata Clara juga diterima di universitas negeri Semarang. Rara segera memberitahu Clara.

“Clara kamu diterima diuniversitas negeri Semarang jalur undangan nie, hehheeh bareng sama aku. Selamat ya” begitu pesan Rara yang dikirim ke Clara.

“kamu serius ra, aku keterima??? Balasan untuk Rara.

“bener aku gak bohong, kalau gx percaya buka aja sendiri hehheeh” pesan dari Rara.

Tanpa membalas pesan Rara, Clara langsung memberitahu kabar itu kepada ibunya. Clara dan ibunya sangat senang sekali.

***

Sebulan kemudian Clara membuka pengumuman dari Universitas. Dan begitu senangnya ketika Clara diterima menjadi salah satu mahasiswa yang mendapatkan biasiswa. Clara mengurus semua persyaratan yang dibutuhkan dan Clara mengikuti berbagai macam kegiatan pendaftaran di Universitas negeri Semarang. Sebuah cita-cita yang selalu ditekuni dengan niat yang baik pastilah akan tercapai juga. Begitu dengan Clara yang sangat berkeinginan untuk melanjutkan sekolah akhirnya kesampaian juga. Dia kuliah disebuah universitas yang diidam-idamkan. Menjadi guru sekolah dasar yang sangat dia inginkan sejak masih kecil, yaitu di universitas negeri semarang. Kini semua sudah didepan mata. Tinggal bagaimana menjalaninya saja.

*** 

BIODATA PENULIS


Nama              : Rita Niawati

Ttl                   : Temanggung, 11 September 1992

Alamat            : Kemiri Rt O4/Rw O3 Getas

Kaloran Temanggung

Motto              : selalu berusaha yang terbaik dengan niat yg baik pula

Tulisan Terbit dalam Antologi Buku : Goresan Pena Melukis Rasa 
terbit di Afsoh Publisher 2013
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Mahasiswa PGSD Unnes

Isi Buku 
Hati Kardus Untuk Omen
Kasih Tak Pudar 
Keabadian Cinta Tuk Selamanya
Jarak  
Lorong Impian si Kecil Clara 
Ceritaku Ceritamu 
CInta Tidak Harus dipaksa  
Kupilih Jalan Terbaik 
Malam ini ...

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top