-->

Kukis Ampas Tahu

| 3:13 PM |

Ditulis Oleh Agustin Anggriani (Mahasiswi Unnes) - 



Kupandangi lagi wajahnya yang teduh. Ia balik menatapku yang sibuk mengunyah kukis ampas tahu. Aku mengembuskan napas dalam-dalam. Kupikirkan dan kucerna lagi cerita yang dilontarkannya tentang gadis cilik itu.

“Kita memang seharusnya tak seperti mereka, Ma,” kataku tenang.

Sebuah senyum mengembang dari bibirnya yang merah delima.

“Anggaplah ia seperti anak kita sendiri, Pa. Jangan gampang termakan omongan tetangga. Ia tak ubahnya seperti Githa dan Tirta, anak-anak kita yang polos yang lucu.”

Aku menepuk pundak wanita yang kucintai ini. Kuraih lagi kukis ampas tahu yang tinggal satu buah di toples plastik merah jambu. Aku hampir lupa, malam ini aku memiliki tanggungan, deadline laporan tahunan perusahaan yang mengejar-ngejarku sejak kemarin. Namun, aku urung beranjak dari tempatku yang nyaman di samping istriku.

Dingin semilir angin sore itu menerpa lingkungan rumah kami. Bertempat tinggal di bukit desa memang sesuatu sekali. Kami merasa aman dan tenteram tinggal di sini, namun di lain sisi, jauh dari peradaban menjadi kendala bagi kami. Koneksi internet yang lelet kadang membuat kami merasa tak betah.

“Mama …! Papa …! Tirta pulang!” terdengar suara anak bungsuku yang baru pulang dari kursus biola. Ia mencium tangan kami berdua.

“Tadi gimana? Sudah bisa sampai mana?”

“Teknik vibrato, Papa.”

“Coba dong, Mama sama Papa mau denger,” pinta istriku.

Dengan serta merta, Tirta mengeluarkan alat musik berdawai empat lengkap dengan alat penggeseknya. 

“Papa Mama coba tebak deh ini lagu apa.”

Ia mulai memainkan sebuah lagu dengan ekspresi wajah yang sangat menghayati. Liukan tangannya yang lihai menggesekkan bow ke dawai-dawai biolanya membuat kami semakin bangga memiliki Tirta.

“Lagu apa, Ma? Pa? Hayo tebak,” tanyanya setelah usai memainkan alat musik berwarna cokelat muda itu.

“Edelweiss!” tebak istriku dan aku secara bersamaan.

Kami pun tertawa berbarengan.

“Kamu memang hebat, Tirta! Udah sore, sana mandi.”

“Siap, Papa,” ucapnya dengan muka cerah.

Tak berselang lama setelah itu, gadis berambut panjang dan berkepang tampak berjalan menuju rumah kami, dialah Ghita, anak sulung kami. Semakin mendekati pagar rumah kami, semakin kelihatan roman mukanya yang cemberut. Ia langsung nyelonong saja ke dalam rumah.

“Eh, eh, Ghita, ngerasa udah bisa cari uang sendiri ya?” Mamanya menyapa.

Ia lalu menoleh ke arah kami dengan roman muka yang tak berubah sama sekali dari sebelumnya. Lantas ia berjalan ke arah kami dan menyalami kami.

“Jelek tau,” kataku sambil memangkunya.

“Emang,” katanya ketus.

“Tuh kan, ada apa sih?” tanyaku.

“Sebel, Pa. Itu tuh, si Kadar, mentang-mentang sepatuku baru, diinjak-injak sampai jelek begini, nggak bawa lap lagi, padahal habis disemir. Uh,” keluhnya.

“Hahaha, itu tandanya Kadar iri, biarin deh, di manapun juga orang seperti itu banyak. Baru aja sepatu diinjak, yang penting orangnya nggak kenapa-kenapa kan?”

Bocah sebelas tahun ini melepaskan diri dari pangkuanku.

“Mandi ah,” gumamnya.

“Sekalian sepatunya dimandiin ya,” ledek istriku.

Beginilah berkeluarga, ada suka duka yang harus dijalani. Istri dan kedua anakku adalah perhiasan rumah ini yang sangat kusayangi.


***


Liburan hari Minggu ini begitu menyenangkan. Siang-siang yang panas, kami hanya berdiam diri di rumah. Kedua anakku sedang makan bersama kami. Tiba-tiba aku melihat di teras depan kami sesosok anak mondar-mandir. Anak kecil berambut hitam tak bersisir itu tak lain dan tak bukan adalah Widya. Istriku yang juga melihatnya mencoba menghampirinya.

Terlihat dari kejauhan si Widya mengangguk kepada istriku, lalu keduanya menuju ruang makan tempat kami berada sekarang.

“Sini lho, makan sama kami, ini ada Ghita sama Tirta,” ajakku ramah.

“Nah, kan, Mama pernah bilang nggak baik kalau bertamu pas waktunya makan. Ini kok boleh?” Anakku si Ghita protes.

“Ghita, sssst,” kata istriku.

Memang kami selalu mengajari demikian, jangan bertamu ke rumah orang pas waktu makan, entah itu pagi, siang, maupun malam. Rasanya kami merasa bersalah dengan kenyataan yang seperti ini, namun bagaimana lagi, semua sudah telanjur.

Si Widya, gadis cilik polos ini sering datang ke rumah kami untuk belajar memasak. Di usianya yang masih tujuh tahun, ia sudah bisa menemukan resep fantastis dan lezat, kukis ampas tahu kesukaanku. Memang, lingkungan rumah kami terkenal dikelilingi dengan perusahaan-perusahaan tahu. Limbahnya berupa ampas tahu sering digunakan untuk makan ternak. Namun, ampas tahu yang masih memiliki kandungan gizi, rupanya menarik perhatian anak ini. Ia mencoba berdiskusi dengan kami, dan kami pun setuju untuk masak bersama dengannya waktu itu. Jadilah produk olahan ampas tahu yang menjelma menjadi makanan lezat, kukis ampas tahu. Sungguh luar biasa idenya.

“Besok kita cari resep dari ampas tahu yang lebih keren lagi ya, Bu,” katanya kepada istriku waktu aku menemani mereka memasak.

Aku penasaran, lantas aku yang menjawab, “ide apa lagi, Widya?”

“Masih rahasia, Pak,” katanya padaku.

Dua minggu setelah itu, ia kembali lagi ke rumah kami untuk belajar memasak bersama kami. Tahulah kami bahwa ide yang dimaksud adalah donat ampas tahu. Istriku membuatnya untuk hadiah ulang tahun keponakan kami setelah itu, dan keponakanku tampak senang sekali.

 Ia sebenarnya anak yang manis, hanya saja ia kurang terurus. Ia sungguh anak yang malang. Sering aku mendengar suara-suara sumbang tentang anak ini. Bukan anak ini, lebih tepatnya ibunya Widya.

“Kok nggak malu ya, ibunya si Widya itu, yang bawa sering gonta-ganti,” istriku mendengar bisik itu ketika belanja di warung.

Miris rasanya ketika menelan kenyataan pahit di sekitar, bahwa gadis cilik sepintar, sehebat dan secantik dia tak memperoleh hak-hak yang seharusnya didapatkan seperti anak-anak seusianya. Setiap malam dia datang ke rumah kami, belajar bersama anak kami si Tirta. Tirta sering bercerita tentangnya, bahwa ia paling pandai di kelas. Di rumah kami, ketika belajar bersama Tirta pun, ia tak segan-segan memberikan ilmunya secara cuma-cuma. Hanya saja, ketika ulangan, ia tak mau diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan temannya yang mungkin semalam tak belajar. Semester ini dia meraih juara pertama di kelas, bangga rasanya kami menjadi orang tua tak resmi untuknya. 

“Mama, anak adalah titipan Tuhan yang wajib dijaga. Kalau orang tuanya tak bisa menjaga, bukankah kita yang sama-sama orang tua yang wajib menjaganya?” nasihatku pada istriku suatu hari.

Istriku pun tersenyum lantas mengacungkan dua jempol untukku.


***


Sepuluh tahun sudah kami pindah ke kota tetangga karena aku ditugaskan di perusahaan pusat. Kini koneksi internet cukup memuaskan, tak seperti di bukit desa seperti waktu lalu.

Sore yang syahdu ketika aku asyik menikmati teh buatan istriku di beranda rumahku, datanglah tukang pos ke rumah kami. Kuhampiri tukang pos itu yang tak lain adalah tetangga kami sendiri, Pak Hendro namanya.

“Ini untuk Bapak dan Ibu Darta, ada kiriman dari Widya Sasmita dari kota sebelah,” katanya.

“Tumben anak ini berkirim surat,” batinku.

Aku segera menerima amplop besar cokelat yang diberikan Pak Hendro. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya yang telah berjasa mengantarkan benda berharga yang mungkin akan menjadi kenangan seumur hidup buat keluarga kami.

Aku segera masuk ke dalam, memanggil istriku.

“Bentar, Pa,” terdengar jawaban dari dalam kamar mandi yang jaraknya dua ruang dari tempatku berada. Ia mematikan keran airnya.

“Oh, lagi mandi rupanya,” gumamku.

“Kutunggu di beranda, Mama, ada sesuatu dari kota sebelah!” kataku setengah berteriak.

Aku kembali lagi ke beranda, memandangi lagi amplop cokelat besar dari gadis cilik di kota sebelah, gadis cilik yang sudah kami anggap sebagai anak kandung sendiri.

Masih kuingat kala kami bersiap-siap untuk pindah ke kota tetangga, ia begitu merasa kehilangan kami, dan itu tampak dari kedua bola matanya yang berkaca-kaca.

“Bapak, Ibu, jangan lupakan Widya, ya, terima kasih telah menjadi orang tua Widya yang baik selama ini,” ucapnya setengah menunduk.

“Iya dong, Sayang, kami tak akan melupakanmu. Kami sangat sayang padamu,” kata istriku sambil memeluknya erat. Ia mencium tangan kami berdua, yang kuharap bukan ciuman terakhir untuk tangan kami.

Aku lantas mengeluarkan bolpen dan notes kecil yang ada di saku kemejaku. Kutuliskan alamat baruku di sana.

“Ini alamat kami yang baru, kalau mungkin nanti kau ingin main, mainlah. Kami akan sangat senang kedatangan tamu sepertimu,” ujarku tulus. Aku mengusap rambutnya yang tersisir rapi hari ini. Ia tampak berbinar kala itu.

Tak berselang lama, istriku datang menghampiriku yang sedang asyik menyerutup teh tetes terakhir.

“Amplop cokelat darimana, Pa?”

“Tebak dong.”

“Dari perusahaanmu?”

“Bukan, Mama, dari anak kita di kota sebelah.”

“Widya?” tanya istriku setengah tak percaya. Matanya terang-benderang.

Aku tersenyum lalu mengangguk. Aku serahkan kepada istriku, kubiarkan ia yang membuka amplop cokelat itu.

“Papa senang, Widya masih menyimpan alamat yang Papa tulis sepuluh tahun lalu itu, Ma,” ujarku sambil memandangi bunga mawar merah yang sedang bermekaran di taman rumah kami. Segar rasanya.

Kami temukan di sana sebuah majalah remaja bersampul foto gadis belia yang sedang memegang piala bersama Menteri Pendidikan Nasional. Tak salah lagi, ini memang Widya!

“Widya, kau memang membanggakan!” seru istriku sambil memandangi sampul depan majalah itu.

“Papa turut bangga, Ma. Tak kusangka ia sekarang tumbuh menjadi gadis yang pintar dan anggun.”

Lantas lembar demi lembar majalah itu kami buka. Di halaman khusus full color, kami temukan berita yang mengupas habis kisah kesuksesan Widya menyabet piala Menteri Pendidikan Nasional tahun ini. Menurut berita yang kami baca, ia memenangkan Kompetisi Peneliti Remaja lantaran berhasil menemukan charger portabel untuk laptop.

“Luar biasa anak ini, Ma,” kataku pada sang istri.

Tirta, anak kami tiba-tiba berdiri di depan pintu.

“Apa itu, Ma? Pa? Seneng amat kelihatannya,” ujarnya penasaran.

Istriku lantas menunjukkan sampul majalah tersebut kepada Tirta.

“Coba tebak, ini siapa?”

Tirta mengamati serius sampul majalah tersebut.

“Widya?!” ucapnya terkejut.

“Wah, hebat benar dia, keren … Pinjem ya, Ma, biar kubaca,” sambungnya lagi.

Sore itu kami bersyukur sekali, selain mendapatkan majalah yang cukup membanggakan hati kami itu, kami juga membaca sepucuk surat dari Widya, sepucuk surat yang mengabarkan bahwa ia sehat-sehat saja dan sangat berharap bisa bertemu kami kembali suatu hari nanti.

  

***


Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kami. Aku dan istri merencanakan mengunjungi Widya. Tak lupa kami mempersiapkan setoples kukis ampas tahu yang sangat lezat. Kami tambahkan variasi berupa margarin bergula di atasnya, ada yang berbentuk bulan, bintang, boneka, dan mawar. Kami berharap ia bahagia nantinya dengan kunjungan kejutan ini.

Aku hanya berdua saja bersama istriku menaiki sedan merah, menuju kota tetangga tempat Widya berada. Dua jam lamanya kami melaju di atas kendaraan roda empat ini, dan kini tibalah kami di kota tetangga, di bukit desa tepatnya. Pohon mangga besar-besar di sepanjang jalan gang menuju rumah Widya tampak menyapa kami, dan kami bersyukur sekali ketika akhirnya sampai di pintu gerbang besi bercat hitam yang tak lain adalah pintu gerbang rumah Widya.

Namun, apa yang kami lihat tak pernah kami sangka sebelumnya. Widya yang kami temukan berbahagia di sampul majalah yang kemarin ia kirimkan, kini sedang menangis tersedu di samping rumahnya. Kami terkejut dan segera menghampirinya. Istriku yang mukanya tak tahan untuk tidak menangis segera memeluknya.

“Widya, kamu kenapa, Sayang?”

Ia lalu menceritakan semuanya dengan isak tangis yang tertahan. Rupanya ia sudah muak dengan tingkah ibunya yang semakin menjadi-jadi. Ia memarahi ibunya karena ia malu memiliki ibu seperti itu.

 “Nak, maafkanlah ibumu. Bagaimanapun ibumu, beliaulah yang melahirkanmu.”

Widya masih terisak.

“Lalu dimana ibumu sekarang?”

“Di rumah nenek,” jawabnya singkat. Ia menyeka air mata yang tak bisa terbendung.

Kami lalu mengantarkannya ke rumah neneknya, tempat ibunya kini berada. 

Sesampainya di sana, ibunya tampak melamun di teras rumah joglo milik nenek Widya. Melihat kami datang, ibunya langsung terkejut.

Widya berlari mendekati ibunya, “Ibu, maafkan aku,” ia tersedu, menghambur memeluk ibunya yang terpaku dan juga tersedu. Bertambah parahlah isak tangis ibunya. Kelihatan sekali itu isak tangis yang menandakan penyesalan.

“Maafkan Ibumu yang kotor ini, Nak. Selama tiga hari ini tanpamu, Ibu ternyata bukan apa-apa, Nak. Ibu tidak mau kehilangan kamu lagi, Nak.”

“Ibu, kumohon, berhentilah menerima lelaki-lekaki itu, Bu, kumohon … ” sembari bersujud di kaki ibunya. Lantas ibunya jongkok, mencoba meraih Widya agar berdiri.

Kami terpaku, turut merasakan apa yang mereka rasakan. Desir darah semakin menyentak hati kami, kami berdoa agar kisah ini berakhir dengan indah. 

Sesaat semua diam. Hanya isak tangis yang terdengar. Aku turut merasakan detak jantung istriku yang sedang kurangkul. Ia termenung.

“Iya, Nak. Ibu baru sadar, selama ini Ibu salah besar, Ibu secara tidak sadar telah mempermalukanmu, Nak. Ibu berjanji akan mencoba menjadi Ibu yang baik untukmu mulai sekarang. Ibu akan bekerja sebisanya untuk menyambung hidup kita, Nak. Jangan tinggalkan ibumu lagi ya?”

“Tidak, Bu. Mari kita mulai lagi dari awal.”

“Biarpun nanti kata orang bagaimana, karena Ibu memang kotor, tapi Ibu ingin mengubah sikap, Nak. Ibu tidak mau seperti dulu lagi. Maafkan Ibumu ini.”

Istriku menghampiri kedua anak manusia itu, menepuk pundak keduanya yang sedang berpelukan dilingkupi isak tangis.

Tuhan telah menakdirkan semua ini berakhir indah. Aku turut senang dengan akhir kisah ini. Aku yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga berharap, ibu Widya tak lagi melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang ibu.

Senja mulai merangkak naik, tibalah saat untuk kami pulang. Sembari menghampiri mobil kami yang terparkir di depan rumah Widya, istriku mengusap air matanya yang sedari tadi belum kering. Mencoba tersenyum, kami berpamitan kepada keduanya. Tak lupa kami memberikan setoples kukis ampas tahu untuk Widya dan ibunya. Kami berharap, kukis ampas tahu sebagai saksi bisu akhir kisah indah ini tetap menjadi perekat tali silaturahmi. Kami berjanji untuk mengunjunginya seminggu lagi, di hari yang tentunya berbahagia lantaran satu kesalahan besar telah termaafkan.

TULISAN INI TERBIT DI BUKU ANTOLOGI MAAF 
TERBIT 2013 @ AFSOH PUBLISHER 

Tulisan Lainnya : 

Yuna dan Yulian 

Maafkan Aku Mas 

Maaf, Aku mencintaimu dalam Bisuku

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top