-->

Ku Temukan Imamku di Pabrik Kecap Purwodadi

| 3:32 PM |

 Oleh Nungki Fajriyatuzzakiyah (Mahasiswa PGSD UNNES ) 

Embun pagi membangunkanku di pagi yang masih berselimut kabut. Akupun harus beranjak dari tempat tidurku memulai aktivitasku seperti biasanya. Namun rasa malasku menggelayuti dalam diriku seakan tubuhku mulai memberontak terhadap rutinitasku yang amat membosankan. Duduk berjam-jam didepan komputer, berbicara dengan klien, mendengar ceramah bos yang super cerewet itu, lembur kerja, menerobos kemacetan lalu lintas kota dan pekerjaan-pekerjaan lain yang membuat diriku merasa bosan.

Hidupku telah berubah semenjak aku menginjakkan kaki di Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini. Mimpiku telah terwujud di kota ini. Namun tak ku sadari aku tak pernah mendapatkan ketenangan batin seperti dulu ketika aku berada di Desa kecil yang terletak di Kab. Purwodadi. Ambisi, persaingan, kesibukan telah menyita waktuku. Tak terasa sudah lima tahun meninggalkan Desaku Tercinta. Desa tempatku terlahir, desa yang telah memberiku ketenangan batin, desa yang membesarkan jiwaku dan desa yang sangat kucintai. Telfon genggamlah yang menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan ayah, bunda dan keluargaku tercinta.

 Pagi ini sesampainya aku dikantor aku sudah disambut oleh omelan bosku.

“Ningsih, jam berapa ini ? kamu itu ya tidak disiplin sama sekali. Ingat kan hari ini saya ada meeting dengan klien. Bukannya kamu datang lebih awal untuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan eh malah kamu terlambat. Sekali lagi kamu terlambat kamu akan saya pecat !!!!” Omel bosku.

“ Maaf bu, saya bangun kesiangan. Jalannya juga macet. Jadi saya agak terlambat. Lain kali saya akan berusaha datang lebih awal. Saya janji bu....” tuturku

“Ya sudah, saya maafkan. Tapi, jika kamu ulangi lagi tiada maaf bagimu!!! Sekarang kamu bereskan semua berkas-berkas dan file yang akan saya bawa meeting dengan clien. Jam 9 harus sudah selesai dan kamu temani saya bertemu dengan klien. Mengerti ?” bentak bosku

“Ya bu akan segera saya kerjakan” jawabku

“Bagus. Kerjakan yang teliti jangan sampai ada kekeliruan !!! karena clien kita ini clien yang sangat-sangat perfectionist.” Tutur bosku.

“Baik bu.” Tuturku.

Hah. Itulah yang membuatku malas ke kantor. Setiap hari hanya mendengar celotehan bosku yang super cerewet. Sabar ningsih kamu itu harus bersyukur. Ini adalah proses menuju suksesmu.Semua pasti indah pada waktunya.” Malaikat baik berbicara padaku.

“Sudahlah ningsih cari kerja baru aja. Pasti banyak kok perusahaan yang mau menerima kamu.kalau lama-lama diperusuhaanmu itu ” Setan jahat mulai merasuk dalam fikirku.

Wah-wah aku jadi bingung apa yang harus ku perbuat. Daripada bingung mending aku melanjutkan kerjaanku yang super numpuk deh tinggal 1 jam nie fighting semangat haha.   

Sinar matahari pun mulai merasuk dalam pori-poriku mengubah kulit putihku menjadi kemerahan. Aku keluar dari mobil bosku didepan gedung pencakar langit, gagah perkasa menampakkan kemewahan serta kewibawaan sang pemilik. Pak sudiro itulah nama pemilik perusahaan ini. Ia adalah salah satu pemilik saham terbesar di perusahaanku. Laki-laki setengah baya, berperawakan tinggi, berkumis, rambut pendek hitam legam, dan kulitnya yang putih semakin menambah aura pemimpin yang amat dihormati oleh karyawannya. Ia sangat ramah sekali, hanya saja ia memang orang yang sangat disiplin dan sangat perfectionist. Ia adalah sosok pemimpin yang arif, bijaksana dan bertanggungjawab.         

  Kedatanganku dan bosku disambut oleh senyum yang merekah pada bibir Pak Diro (panggilan akrab bosku kepada beliau).  

“Selamat datang Bu Marta. Selamat datang dikantor kami bu.” Pak Diro menyapa bosku sambil berjabat tangan.

“Trimakasih pak, maafkan kami, kami terlambat sepuluh menit. Jalanan sangat macet sekali pak, sehingga kami harus berjalan seperti siput. Lain kali kami akan tepat waktu Pak.” Bosku merespon sambil bergurau

“Ibu ini ada-ada saja masak jalannya seperti siput yah kalau jalannya seperti siput pasti satu minggu lagi sampai sini dong bu ? haha. Sudahlah tak apa-apa yang penting ibu sudah berkenan hadir di perusahaan kami itu saya sudah senang sekali.” Pak Diro membalas gurauan bosku.

“Pak Sudiro ini ada-ada saja saya jadi tersanjung. Terimakasih pak...” Kata bosku

“Iya bu sama-sama. Mari-mari silahkan duduk.” Pak Sudiro mempersilahkan kami duduk.

Rapat dimulai. Semua pandangan tertuju pada slide yang ada di depan ruangan. Pak Sudiro menjelaskan secara detail proyek yang akan kami kerjakan. Aku berkutat dengan si pinky pen (pen pink kua) dan si green book (buku catatan hijauku), mencatat hasil rapat hari ini yang akan ku laporkan kepada bosku.

Hari ini cukup menguras otakku hingga rasanya aku tak sanggup menyetir mobil menuju istanaku menelusuri indahnya malam berhias deretan lampu kota, sinarnya menambah keindahan malam yang penuh muda-mudi yang asyik mengobrol dengan pasangannya. Sungguh malam yang begitu indah. Alangkah senangnya bila aku bisa seperti mereka.

Sedan putih yang ku tumpangi berhenti di depan rumah berpagar biru. Itu lah Rumah kontrakanku. Walaupun kecil dan sederhana namun rumah inilah yang menjadi saksi bisu perjuanganku menggapai cita-citaku hingga seperti ini. Rumah inilah istanakau tempat dimana aku mencurahkan seluruh keluh kesahku,tempatku berteduh dari serangan terik matahari, rintikan hujan, serta merebahkan tubuhku sejenak sepulang bekerja.

Kring... kring... suara telefon genggamku membangunkan mimpi indahku. Dalam keadaan setengah sadar aku meraba mencari ponselku yang terletak di meja disamping tempat tidurku. Aku mengangkat telfon itu.

“Halo... Selamat malam ningsih ?” bosku menyapaku dengan ramah.

“Iya, Ibu ini saya ningsih. Ada apa bu, kok tengah malam begini ibu menelfon saya ? Apa ada pekerjaan saya yang kurang baik?” tanyaku kepada bosku.

“Tidak ningsih, kamu bekerja cukup bagus. Begini ningsih saya ditugaskan Pak Sudiro untuk meninjau proyek pembangunan pabrik kecap di Purwodadi. Tapi, saya masih ada pekerjaan di sini. Sehubungan dengan hal itu saya ingin memberimu tugas untuk pergi ke Purwodadi. Apa kamu siap menggantikan saya ? nanti urusan pekerjaanmu kamu tidak usah khawatir. Biar teman-temanmu yang menyelesaikannya. ” Bosku menjelaskan padaku.

“Saya bu ? Baiklah saya bersedia bu. Lalu kapan saya harus berangkat kesana ? tanyaku.

“Besok kamu langsung berangkat ke Purwodadi biar Pak No yang mengantar kamu. Oh ya mungkin kamu berada disana sekitar satu bulan jadi bersiap-siaplah malam ini. Masalah penginapan kamu tidak khawatir Pak Sudiro sudah mengurusnya. Untuk tugas selanjutnya nanti saya hubungi kamu setelah kamu sampai di lokasi.” Jawab bos ku.

“ Siap bu, akan saya laksanakan amanah dari ibu.” Kataku.

“ Baiklah kalau begitu saya tutup telefonnya kamu istirahat ya, agar besok bisa bangun pagi dan berangkat ke Purwodadi dengan kondisi yang fit. Selamat malam.” Kata bosku,

“ Siap bu, selamat malam.” Ucapku sambil menutup telefon.

Aku benar-benar tak percaya ternyata bos ku yang super cerewet itu bisa ramah juga ya. Aku juga heran, aku kan karyawan baru kok ia percaya begitu saja denganku kalau aku berniat jahat bisa jadi aku menghianati beliau. Kenapa amanah itu tidak beliau serahkan kepada senior-seniorku malah ia serahkan ke aku anak kecil yang baru lahir. Tapi tak apalah aku cukup senang akhirnya aku bisa mengunjungi kampungku walau hanya sebentar. Ayah, ibu, anakmu tercinta akan pulang tunggu aku ya I’am coming.

Suara adzan subuh berkumandang begitu syahdunya, menggetarkan hati dan jiwa umat manusia yang ada dibumi ini. Akupun terbangun dari tidur panjangku. Aku bergegas membersihkan seluruh tubuhku, hati, jiwa dan pikiran menghadap rabbku yang telah memberi segala kenikmatan yang tiada kira. Air matapun menetes diatas sajadah merah memohon ampunan atas segala dosa-dosa yang kuperbuat dan memohon agar kedua orang tuaku selalu dalam lindungannya.

Kemesraanku dengan rabbku terhenti. Aku mendengar suara mobil tapi bukan mobilku berhenti di depan rumahku. Mobil siapa ya ?. Kakiku terhenti dibalik kaca yang berlapis tirai. Tanganku menyibakkan tirai yang menutupi kaca rumahku, bola mataku mulai beraksi mengintip orang yang berada didepan rumahku. Ia memakai baju hitam celana hitam, tubuhnya gemuk agak pendek dan berkumis tebal. Kelihatannya aku mengenalnya. Siapakah dia ?.  Tngan laki-laki itu mulai meraba pintu rumahku mengetuk pintu dan mengucapkan salam pada sang pemilik rumah. Aku ragu untuk membukakan pintuku. Tapi aku kumpulkan nyaliku memberanikan diri membukakan pintu rumahku untuknya. Perlahan-lahan aku buka pintu itu dan betapa terkejutnya aku. Ternyata Pak No lah laki-laki itu.

“Pak No...!!!  Kenapa Pak No tidak menghubungi aku dulu. Jadinya kan aku kaget pak aku kira siapa?. Untung jantungku gak copot.” Kataku kepada Pak No

“Maaf ya mbak ningsihkalau Pak No datang kesini mendadak. Pak No barusan ditelfon bos untuk menjemput Mbak ningsih. Katanya Bu Bos mbak ningsih harus berangkat ke purwodadi sekarang agar tidak terlambat bertemu Pak Sudiro.” Jawab Pak No kepadaku.

“Hah, Sekarang Pak ? Tapi aku belum mandi lho pak ? Ya sudah Pak No kedalam dulu saya bikinin kopi, Saya siap-siap dulu ya pak ?” Kataku sambil keheranan.

“Ya  mbak tenang saja saya tunggu kok.”kata Pak No.

Udara pagi ini cukup bersahabat. Langit biru menemani perjalanan kami menuju kotaku tercinta. Grand livina yang ku tumpangi melaju cukup kencang menyusuri jalan yang tampak begitu lengang. Orang-orang belum memulai aktivitasnya sehingga jalanan masih sepi hanya satu, dua mobil dan beberapa sepeda motor yang kami temui di sepanjang perjalanan.

Tak terasa satu jam sudah aku menghabiskan waktu dengan Grandlivina ini. Sudah nampak gapura yang masih berdiri kokoh walaupun fisiknya sudah tak segagah lima  tahun yang lalu. Gapura itu menyambutku dengan hangat mengucapkan selamat datang di kotaku tercinta. Nampaknya jalanan menuju kampung halamanku sudah berubah, yang dulunya penuh dengan lubang sekarang mulus tanpa noda sekalipun.

Pandangan mataku tertuju pada hamparan padi yang mulai menguning, menunggu sang pemilik meminangnya. Tampak jauh berbeda dengan suasana kota, tak ada kemacetan, tak ada asap jahat, tak ada pengamen, pengemis jalanan yang ada adalah pemandangan yang begitu menyejukkan batinku. Inilah kampung halaman, kampung halaman yang membesarkan jiwaku. Dari kota inilah aku membangun puing-puing harapan merangkai asa menuju masa depan yang cerah.

Aku sejenak memejamkan mata menikmati kesejukan udara di kampung halamamku. Aku tertidur pulas dan tak kusangkan perjalanan begitu cepat. Pak No tiba- tiba membangunkanku dari lelapnya tidurku.

“Mbak Ningsih, bangun Mbak sudah sampai di Pabrik Kecap.” Ujar Pak No.

“Hoah, udah sampai pak ? Aduh aku ketiduran nie. Makasih ya pak udah membangunkan saya.” kataku.

“Ya Mbak sama-sama.” Jawab Pak No.

Aku merapikan baju dan jilbabku. Tak lupa aku memoleskan bedak tipis pada wajahku agar tak kelihatan mengantuk. Pak No membuka pintu mobil dan kakiku perlahan melangkah menginjak tanah di kota kelahiranku meninggalkan si hitam Grandlivina. Pak Sudiro ternyata sudah lebih dulu datang bersama beberapa laki-laki sedang asyik berdiskusi mengamati pembangunan pabrik. Obrolan mereka terhenti ketika aku datang menghampiri mereka.

“Selamat pagi Bapak Sudiro ?” Aku menyapa Pak Sudiro.

“Selamat pagi...” Pak Sudiro menjawab sapaanku.

“Lho kok kamu datang sendirian. Bu Marta (nama Bosku) mana ?” Tanya Pak Sudiro kepadaku.

“Maaf Pak, Bu Marta berhalangan hadir. Beliau harus menangani beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sehingga saya yang menggantikan beliau untuk meninjau pembangunan pabrik Kecap ini,” Jelasku.

“Oooo... begitu. Ya sudah selamat datang di pabrik Kecap ini. Ningsih, ini ada Pak Sutejo, Pak Hardiyanto, dan Pak Ranu. Beliau ini adalah partner kerja kita. Bapak-bapak perkenalkan ini adalah sekretarisnya Bu Marta namanya Ningsih.” Kata Pak Sudiro.

Aku berjabat tangan dan memperkenalkan diri kepada Pak Sutejo, Pak Hardiyanto, dan Pak Ranu. Diantara mereka bertiga Pak Ranu adalah penanam saham terbesar di parik ini. Tapi kok wajah Pak Ranu tidak asing lagi. Padahal baru pertama kali aku bertemu dengannya. Pandangan matanya, perawakannya, cara dia berbicara mengingatkanku pada seseorang. Seseorang itu adalah Presiden Mahasiswa di kampusku. Ia orang yang ku kagumi. Cara dia memimpin kampusku membuatku terpesona. Senyumnya, wibawanya, wajahnya yang putih, kesantunannya, ketaatannya pada agamanya, dan kesabarannya membuatku samakin mengaguminya. Aku tak tau ini perasaan cinta atau sekedar rasa kagumku pada sang Presma. Aku selalu ingin mengetahui banyak hal tentang dia. Ketika aku iseng-iseng membuka salah satu akunnya di dunia maya aku menemukan beberapa catatannya yang membuatku semakin mengaguminya. Bahkan saking kagumnya dalam hatiku berharap ia adalah imam yang kelak membimbingku. Tapi perasaan itu cukup aku pendam saja. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya walau sekedar menyapanya.

Dia adalah mahasiswa yang sangat sibuk bergelut dalam organisasinya. Pada suatu ketika ada seminar yang diadakan oleh BEM KM dikampusku. Tentu saja dia hadir dalam seminar tersebut. Ketika itu aku duduk pada deretan dua terdepan tiba-tiba dia duduk tepat di depanku. Aku pandangi dia dengan seksama, hatiku semakin tergetar melihat kewibawaanya. Apakah yang kurasakan ini adalah cinta ? Hatiku bertanya-tanya apakah cinta seorang mahasiswi biasa bisa tersampaikan kepada sang Presma ? Apa rasa ini hanya kekagumanku belaka ? Tak penting bagiku apakah itu rasa itu cinta atau hanya rasa kagum. Aku tak peduli apakah rasa yang ada dalam hatiku ini dapat tersampaikan atau tidak. Aku hanya ingin mencintai sang Presma dalam kediamanku. Biarlah Allah yang mempertemukanku dengannya apabila aku berjodoh dengannya.

“Ningsih, kenapa melamun ?”Suara Pak Sudiro membangunkan lamunanku.

“Maaf pak, ada sesuatu yang saya fikirkan. Tapi bukan apa-apa kok pak.” Kataku

“Ya sudah, kamu sekarang temani Pak Ranu berkeliling pabrik kecap ini. Saya, Pak Sutejo dan Pak Hardiyanto akan keluar sebentar.” Perintah Pak Sudiro.

“Baik Pak.” Jawabku.

“Pak Ranu, Saya ada urusan sebentar dengan Pak Sutejo, Pak Hardiyanto. Nanti biar Ningsih yang menemani Pak Ranu berkeliling Pabrik kecap.”kata Pak Sudiro.

“Oh ya kalau begitu, silahkah pak.” Kata Pak Ranu.

“Ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu ya pak.” Kata Pak sudiro.

Aku dan Pak Ranu mengobrol sambil berjalan-jalan mengamati pembangunan pabrik. Pembangunan pabrik ini hampir setengah jadi. Terlihat beberapa buruh bangunan yang hilir mudik mengangkut beberapa balok kayu  di pundaknya. Wajah mereka penuh dengan keringat, namun semangatnya untuk mengais rejeki mengalahkan beratnya kayu balok yang tersandar di bahunya.

“Ningsih, kamu pernah datang ke kota in ?”tanya Pak Ranu.

“Sering pak, kota ini kan kota kelahiran saya Pak ?” jawabku.

“Tapi kenapa kamu tidak bekerja disini saja, berwirausaha misalnya ? Daerah ini cukup berpotensi. Sayangnya kekayaan alamnya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.” Kata Pak Ranu.

“Memang Pak, masyarakat disini lebih suka bekerja menjadi buruh, karyawan swasta, ataupun Pegawai Negeri Sipil. Jiwa wirausaha mereka masih sangat rendah termasuk saya.”Jelasku

“Mengapa kamu takut ? coba saja, jangan takut gagal. Orang yang sukses pasti sering jatuh bangun. Kuncinya adalah jangan putus asa, berusaha, berdoa, dan pasrahkan kepada sang ilahi. Apalagi kamu orang yang punya potensi, pasti bisa.”

“Trimakasih Pak, atas nasehat dan motivasi yang bapak berikan.”Ujarku

“Sama-sam Ningsih, kamu ternyata orangnya menyenangkan kalau buat teman ngobrol.” Pak Ranu menatap mataku tajam.

“Ah bisa saja Pak Ranu ini. Saya jadi malu.”Kataku tersipu malu.

Obrolanku dan Pak Ranu terhenti ketika Pak Sudiro, Pak Sutejo dan Pak Hardiyanto tiba. Kami berlima menuju kantor pemasaran Kecap Porwodadi untuk meninjau penjualan Kecap Purwodadi serta membicarakan beberapa hal penting lainnya.

Matahari sudah berada diatas kepala, kami menyudahi pembicaraan kami, bertukar nomor telefon dan melanjutkan pekerjaan lain yang harus kami kerjakan.

Kata Pak Sudiro aku akan tinggal di Purwodadi selama 1 sebulan. Aku bertugas sebagai sekretaris sementara Pak Ranu selama di Purwodadi. Betapa senang hatiku sosok laki-laki idaman yang dulu ku kagumi kini menjadi partnerku. Aku tak peduli apakah dia si Presma itu ataukah bukan.

Akhirnya aku bisa menikmati libur dikotaku tercinta. Aku bergegas masuk ka dalam mobil, rasanya tak sabar ingin bertemu dengan orang tuaku tercinta. 1,5 jam yang harus kutempuh dari pabrik kecap menuju rumahku. Grand livina yang ku tumpangi melaju sangat kencang. Tak terasa grandlivina terparkir cantik di depan rumahku. Ibuku terkejut melihat kedatanganku. Aku disambut tangisan haru Ibuku tercinta. Ibuku bangga melihat putri kecilnya tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Aku memeluk erat Ibuku melepas kerinduan selama lima tahun ini.

Aku memutuskan untuk tinggal dirumahku. Aku ingin mengobati kerinduanku pada kampungku selama aku bertugas di Kota ini.

Pertemuanku dengan Pak Ranu sangat intens sekali selama satu bulan ini. Hal itu membuat kami seperti kawan, merasa cocok satu sama lain bahkan kami bisa dibilang menjalin hubungan tanpa status.

Tak terasa sebulan sudah aku berada di kotaku ini. Aku harus segera kembali ke Semarang. Tiba-tiba ada telfon dari Pak Ranu. Ia ingin bertemu denganku. Entah apa yang ia ingin katakan. Kami bertemu di restoran dekat Rumahku. Aku terkejut mendengar perkataannya. Ia menyatakan ia mencintaiku, ia ingin melamarku untuk dijadikan pendampingnya. Aku meminta waktu kepadanya. Aku akan memberi kabar padanya sebulan setelah kepulanganku dari kotaku. Pak Ranu menyetujui permintaanku.

Aku kembali menjalani rutinitasku seperti biasanya. Lamaran itu selalu menghantuiku. Aku sering melamun. Hatiku gundah gulana. Memang aku sangat kagum padanya tapi aku takut cintaku padanya hanya nafsu belaka. Aku memutuskan untuk memohon petunjuk pada sang khaliq. Ditengah malam ditemani oleh senyuman bulan dan kerlipan bulan aku menangis kepada sang rabbku. Aku memohon petunjuknya untuk lamaran itu. Aku memohon yang terbaik bagiku. Apabila ia berjodoh denganku maka dekatkanlah apabila ia buka jodohku maka berikanlah aku jodoh yang lebih baik darinya. Aku pasrahkan semuanya pada rabb ku.

Hari itu datang, jariku gemetar mencari kontak Pak Ranu dan Menekan tombol hijau pada HP ku. Dengan suara gemetar aku menyatakan padanya aku bersedia menjadi pendamping hidupnya. Pak Ranu sangat gembira. Ia melamarku sehari setelah aku menyatakan kata”ya”.

Tiga bulan setelah ia melamarku, kami mengikat ikatan cinta suci dalam ijab dan Qobul. Hari itu hari yang sangat membahagiakan bagi kami dan keluarga kami. Aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku, merintis usaha Kecap Purwodadi dengan suamiku tercinta di kotaku ini. Ayah dan ibuku juga tinggal bersama kami.

Kehidupan kami berlangsung bahagia. Aku menyadari karir bukan segalanya keluargalah yang utama. Suamiku ternyata adalah si Presma yang ku kagumi semasa jadi Mahasiswa. Aku merasa malu padanya, bukan dia yang duluan memendam rasa padaku eh malahan aku duluan. Ia menanyakan mengapa aku tak mengutarakan perasaanku padanya. Aku hanya menjawab dengan simpel aku ingin mencintaimu dalam kediamanku. biarkan Allah yang mempertemukan kita dalam ikatan suci pernikahan. Kini Allah telah mempertemukan kita berdua ayah. Ia mencium keningku dengan penuh rasa cinta. Suamiku berkata padaku kamu adalah bidadariku, aku beruntung memiliki istri sholekah seperti kamu sayang.


Naskah ini terbit Antologi buku Cerpen : Kumpulan Kisah Negeriku 
Terbit di Afsoh Publisher 2013 - 
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitan Buku 

Daftar isi BUku : 



GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top