-->

Ku Pilih Jalan yang Terbaik

| 8:42 AM |

       Untuk kesekian kalinya ina mendapat kabar tentang agenda besok, dan setiap menerimanya ia hanya bisa tersenyum seiring dengan terurainya kisah masa lalu. Cerita indah yang menyenangkan dan juga terdapat kisah dimana ina sempat tersesat dimanakah jalan yang seharusnya ia tuju. Sudah banyak kisah yang menggantikan masa itu dan sudah terlalu jauh untuk disesali, dan yang harus ina lakukan saat ini adalah bersyukur atas jalan yang berhasil ia lalui sekarang.

~ ~ ~ ~

Sepanjang koridor sekolah ina hanya bisa mendengar langkah kaki dan detak jantungnya yang cepat. Senyum terlihat jelas diwajah manis ina, menyiratkan kebahagiaan yang tiada tara sampai setiap teman yang menyapa hanya mendapat balasan senyum tanpa arti begitulah ina jika perasaannya sedang berada diatas awan.

“ indah,,aku mau ke jakarta!” seru ina begitu sampai di kelas sambil memberikan pelukan erat pada sahabatnya.

“ maksut kamu apa sih? Aduh, nggak bisa nafas ini,” tanya indah sambil berusaha melepaskan pelukan ina.

“ indah sayang,, rencanaku sama ayang tian bisa jadi perfect, kamu tau kenapa? Karena sensei sudah bersedia untuk membantuku supaya bisa kuliah bahasa jepang di jakarta. Jadi aku sama ayang tian bisa bareng terus nantinya, pasti seru!” jelas ina dengan wajah yang sumringah.

“ wah,,selamat ya, tapi yakin mau ke jakarta? Emang orang tua kamu bakal setuju?” tanya indah dengan ragu.

Pertanyaan indah sempat membuat senyum ina memudar sejenak, tapi kemudian “ emm, masalah itu dipikir entar aja deh yang penting sekarang sensei sudah mau membantu jadi lahkahku untuk bersama dengan ayang tian dapat terwujud. Hehehe.”  Jawab ina dengan nada dan senyum khasnya.

“ tian,tian,tian,,,emang nggak ada yang lain ya di otak kamu?” tanya indah dengan nada sindiran.

“ yaelah say, nggak usah cemburu gitu deh, kamu tetap ada dihatiku kok.” Jawab ina dengan jurus centilnya.

“ hiih jadi mrinding nih,,huss sana cara tianmu tersayang, kamu belum kasih tau dia kan?” ucap indah memastikan dengan cara mengusirnya.

“ o iya, aku sampai lupa belum kasih tau dia. Thanks ya say udah ngingetin, kalau gitu aku cari ayang tian dulu yak,” ucap ina sambil melambaikan tangan dan beranjak dari tempat duduknya.

Indah hanya mengiringi kepergian sahabatnya dengan senyum dan gelengan kepala. “ dasar, untung kamu sahabat aku, kalau enggak udah tak masukin museum. Jadi orang kok tingkahnya aneh banget.” Gumamnya sambil kembali pada novel yang sempat ia tinggalkan karena kehadiran ina. Indah memang sangat menyukai novel dan koleksinya tidaklah sedikit. Bahkan indah berencana untuk memilki rumah baca sendiri. Tidak heran jika dia terpilih sebagai ketua redaksi majalah sekolah. Hobinya membaca membuatnya pintar dalam hal tulis menulis.

Di sisi lain ina berhasil menemukan sang pujaan hati di lapangan basket bersama dengan timnya. Ina menunjukkan senyum manisnya begitu tian melambaikan tangan kepadanya.

“ hei tumben jam segini kesini say,” sapa tian begitu sampai dihadapan ina.

“ soalnya aku punya kabar gembira say, jadi aku cari kamu deh,” jawab ina dengan bersemangat.

“ kabar gembira apa sih sampai kamu kelihatan seneng banget, eh duduk situ yuk,” tanya tian sambil mengajak ina duduk di bangku dekat lapangan.

Setelah duduk, ina menceritakan tentang kesediaan sensei yudit dalam membantunya untuk mendapatkan universitas yang sempat ia cita-citakan dan tentang rencana mereka untuk bersama-sama kuliah di jakarta. Ina bercerita dengan semangat dan tian tidak kalah semangat dalam merencanakan kebersamaan yang telah mereka idamkan. Keduanya begitu asyik sampai tidak menyadari waktu istirahat mereka habiskan di pinggir lapangan tersebut. Banyak teman mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, si cewek manis dan pintar bersosialisasi sedangkan si cowok pemain basket keren dan bertampang manis pula. Awalnya banyak yang mengira tian adalah pacar dari seorang anggota cherleaders bernama mega, dia cantik dan sering terlihat mendekati tian. Tapi semua akhirnya tahu bahwa tian jatuh hati pada seorang gadis manis yang bahkan tidak mengikuti suatu organisasi apapun tapi terkenal karna kebaikan serta sikapnya yang ceria dan mudah bergaul, gadis itu adalah ina. Disisi lain ina juga terkenal tidak hanya dikalangan teman cewek tetapi dia cukup populer juga untuk kalangan anak cowok, banyak yang berusaha mendekati ina dan berakhir pada hubungan sebatas teman. Walaupun tian dan ina sama-sama banyak penggemar keduanya tidak pernah menjadi pasangan yang sombong karena popularitas, karena memang tidak ada yang perlu disombongkan.

Kembali kepada masalah rencana mereka untuk kuliah bersama di jakarta, ina berkeinginan untuk segera memberitahukan keputusan itu kepada kedua orang tuanya sedangkan tian yang sudah mendapat izin dari orang tuanya hanya bisa berharap agar semua rencana yang telah mereka susun dapat berjalan dengan baik. Semua ada di tangan ina dan orang tuanya, apakah mereka dapat bersama atau tidak.

~ ~ ~ ~

            Siang itu ina merasa sangat lelah begitu sampai di rumah dia langsung tertidur tanpa sempat mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ina terbangun karena hari sudah sore dan menemukan kedua orang tuanya yang sudah pulang dari pekerjaan masing-masing. Ayah ina adalah seorang kepala sekolah disebuah sekolah dasar sedangkan ibu ina cukup sibuk dengan pekerjaannya sebagai penjahit. Awalnya ibu ina hanyalah seorang ibu runah tangga yang tidak mempunyai kesibukan kemudian ditawari oleh temannya untuk ikut bekerja sambilan disebuah butik sebagai penjahit.   Sudah menjadi kebiasaan dirumah ina untuk melaksanakan sholat berjama’ah jadi sebisa mungkin sore hari setelah semua pekerjaan selesai orang tua ina akan segera pulang dan menjalankan kewajiban mereka bersama.

“ bu, aku kan sudah kelas tiga dan tidak lama lagi ujian,,,” kata ina sambil membantu ibunya memasak untuk makan malam.

“ iya ibu tau, terus kenapa? Kan memang seharusnya begitu,” tanya ibu keheranan.

“ gini lo bu, ina pengen nentuin sendiri dimana ina akan kuliah nanti.” Jawab ina

“ boleh kan bu?” tanya ina memastikan. Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaan ina, dia sadar bahwa anaknya tersebut sudah mulai beranjak dewasa dan mempunyai jalan pikirannya sendiri.

“ kok ibu malah senyum-senyum gitu sih, boleh ya bu, kan nantinya aku yang kuliah walaupun dengan biaya dari ayah dan ibu.” Kata ina melihat reaksi ibunya yang hanya tersenyum lembut.

“ ina, kalau masalah biaya itu memang sudah kewajiban kami sebagai orang tua kamu untuk menjamin pendidikan kamu sayang, tapi kalau masalah dimana dan apa yang cocok untuk kuliahmu nanti, bukankah lebih baik kita rundingkan bersama? Nanti siapa tau ayah tidak setuju dengan pilihan kamu atau malah ibu yang tidak setuju.” Jawab ibu dengan selembut mungkin.

            Hal inilah yang membuat ina sering mati gaya kalau berbicara serius dengan ibunya. Ina tidak pernah berani membantah perkataan orang tuanya karena takut kualat dan dosa, walaupun ina tergolong anak yang keras kepala tapi ia tidak pernah mau jadi anak durhaka, jadi untuk saat ini ina memilih mengalah dan menuruti saran ibunya untuk merundingkan bersama kemanakah ia akan melangkah setelah lulus sma nanti. Walaupun dalam hatinya dia ingin sekali berkata bahwa ia telah memilih jalannya sendiri dan berharap orang tuanya untuk segera menyetujui rencananya.

“ pada ngobrolin apa sih sampai ayah nggak diajak,” ucap ayah ina yang muncul secara tiba-tiba dibelakang ina.

“ ayah, untung ina nggak jantungan kenapa nongol tiba-tiba sih,,?” protes ina sambil mengelus dadanya sedangkan ibu yang sudah tau kedatangan suaminya hanya tertawa kecil melihat reaksi ina.

“ justru karna ayah tau kamu nggak punya penyakit jantung makanya ayah nongol tiba-tiba, tadi ngobrol tentang apa?” ayah bertanya sambil menuju kursi diruang makan.

“ ini si ina, katanya pengen milih sendiri mau daftar universitas dimana, mungkin takut dimasukin pesantren yah,” jawab ibu sambil menyindir ina. Dulu setelah lulus smp ina pernah ditawari untuk masuk pesantren dan hasilnya ina menagis dan tidak mau keluar kamar seharian penuh karena merasa diasingkan karena harus pisah dengan kedua orang tuanya.

“ hi-ih, ibu sukanya nyindir sekarang kan nggak mungkin masuk pesantren, kan aku udah mau lulus sma,” ucap ina dengan gaya centilnya.

“ lho,,lulus sma kan masih bisa diterima, belajar agama itu tidak mengenal umur,” sambung ayah, “ memangnya kamu sudah punya pilihan mau daftar kemana?” tanya ayah kemudian.

“ pokoknya ina nggak mau masuk pesantren. Pake jilbab aja nggak mahir mau masuk pesantren, nggak mau.” Sahut ina dengan tegas. “Iya yah, aku udah punya incaran, jadi jangan harap ina mau masuk pesantren.” jawab ina sambil duduk bersebelahan dengan ayahnya. Ibu mengikuti ina dan kini mereka bertiga sudah berkumpul diruang makan.

“ berundingnya nanti lagi aja, sekarang kita makan malam dulu aja yuk,” kata ibu mengajak ina dan ayah. Ina dan ayah meniyakan dengan mengangguk secara bersamaan. Selama makan tidak ada percakapan hanya terdengar dengan samar-samar suara dentingan sendok yang menghantam piring, untuk sesaat ina menahan diri untuk tidak terburu-buru menyampaikan keinginannya kepada ayah. Yang ada dipikirannya sekarang, bagaimana supaya ayah mau menyetujui rencananya untuk kuliah di jakarta.

~ ~ ~ ~

            Pagi-pagi sekali indah sudah berangkat ke sekolah, dia sengaja berangkat lebih awal supaya tidak harus menunggu ayahnya untuk mengantar seperti biasanya. Sekolah kali ini dilalui ina tanpa semangat, yang terlihat justru wajah yang selalu murung dan membuat indah sebagai teman sebangkun ya penasaran.

“ na, kamu kenapa? Kok kelihatan lesu gitu,” tanya indah setelah bel istirahat berbunyi. Bukannya mendapat jawaban, indah justru mendapat pelukan dari sahabatnya dan kaget dengan sikap ina itu.

“ aku semalam udah ngomong sama ayah dan ibu ndah, tapi,,hiks hiks” belum sempat ina menyelesaikan kalimatnya ia justru terisak perlahan dalam pelukan indah.

            Sebagai teman sebangku dan sahabatnya indah tau bahwa ina sedang ada masalah tentang rencananya untuk kuliah dijakarta, “mungkin ayah ina tidak menyetujui” tebaknya dalam hati. Indah tidak memaksa ina untuk meneruskan ceritanya, yang indah lakukan hanya membalas pelukan ina dan menepuknya dengan perlahan. Setelah ina berhenti menangis barulah ia bertanya lagi “ gimana, udah mendingan?” dan dijawab dengan anggukan kepala ina. Ina menhela nafas kemudian mulia menceritakan kejadian semalam yang membuatnya lesu untuk berangkat sekolah hari ini. Sesuai dengan tebakan indah bahwa orang tua ina terutama ayahnya menolak rencana ina untuk melanjutkan kuliah di ibukota jakarta. indah sudah paham betul dengan keluarga ina termasuk bagaimana sikap orang tua ina. Ayah ina adalah tipe orang yang sayang pada keluarga tapi sangat tegas dalam mendidik anaknya, makanya ina menjadi anak yang patuh dan indahpun merasa kagum dengan ayah ina. Indah pernah beberapa kali menginap dirumah ina dan merasa nyaman karena perlakuan keluarga ina yang menganggap indah sebagai keluarga sendiri dan indahpun menggap bahwa orang tua ina adalah orang tuanya juga.  Untuk saat ini yang dapat indah lakukan hanya sebagai pendengar dan penenang hati ina, karena ia juga tidak tau harus berbuat dan berkata apa, takutnya justru akan memperburuk masalah yang sudah ada. Jam istirahat sudah selesai dan mulailah mereka dengan pelajaran yang lain hari ini. Walaupun muka ina masih terlihat kusut tapi sekarang sudah menunjukkan semangat untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Ina tidak mau masalah ini menhambatnya untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi menyusul, walaupun dalam hatinya masih merasakan sakit karena rencana yang sudah ia bangun dengan tian akan hancur berantakan. Setelah hari itu ina mulai berusaha untuk melupakan masalah kuliah, ia mulai mencurahkan pikirannya pada ujian.

            Hari berganti bulan semua murid kelas tiga sma mulai serius dalam mengikuti les dan segala macam buku pelajaran yang tadinya mereka acuhkan karena ujian segera menyusul. Begitu juga dengan ina, indah, dan tian. Bahkan ina mulai melupakan tentang kemanakah ia akan melanjutkan impiannya, yang ada hanya belajar untuk mendapatkan ijazah dengan nilai yang memuaskan. Hingga akhirnya ujian berlalu dan hasilpun diketahui bahwa ina dan teman-teman berhasil lulus. Ina sudah memutuskan untuk mengikuti kata hati kecilnya, bersama dengan harapan ina akhirnya pergi memilih universitas yang disarankan oleh orang tuanya, walaupun dengan resiko berpisah dengan tian. Indah juga telah memilih jurusan sesuai dengan cita-citanya, tian yang kabarnya pindah bersama seluruh keluarganya ke jakarta memilih untuk kuliah bidang olahraga.

            Semua yang kita lakukan di dunia ini akan menjadi berarti ketika kita berhasil membuat orang lain dan diri sendiri bahagia, begitulah kata ayah sebelum ina berangkat meninggalkan tenpat kelahirannya.

~ ~ ~ ~

Ina bergegas memberesi mejanya, entah kenapa perasaannya saat ini senang dan merasa berdebar-debar. Saat hendak meninggalkan ruangnya terdengar ketukan pintu.

“ sensei, boleh saya masuk?” terdengar suara ragu-ragu dari luar.

“ hai. Tentu saya,”

Begitu dibuka munculah seorang gadis kecil dengan paras putih dan mata sipitnya berjalan mendekati ina dengan perlahan setelah membungkuk memberikan salam.

“ ayo duduk, ada masalah apa sayang?” tanya ina dengan lembut.

“ sensei, aku mau minta tolong, tapi,,,” jawab anak itu tanpa menyelesaikan kalimatnya.

“ tapi kenapa? Kalau sensei bisa pasti sensei bantu, ada apa yuki?” tanya ina dengan sabar.

“yuki mau, sensei datang kerumah yuki besok malam, karena yuki ulang tahun dan sensei harus datang.” Jawab yuki dengan tegas. Ina tersenyum dan menerima undangan mungil yang diberikan anak itu. “siap!” ucap ina dengan memberikan hormat kepada gadis yang duduk didepannya dan membuat gadis itu tertawa dengan riang.

“ sekarang, kamu pulang dulu ya, itu kasihan yang jemput nunggu kelamaan, sensei pasti datang ke ulang tahun yuki,”

“ baiklah, sensei janji ya,” ucap yuki sambil memberikan pelukan kecil pada ian dan meninggalkan ruangan dengan wajah gembira.

Ina ingat dulu anak itu sangat pendiam dan selalu menyendiri dikelas. Kemudian ina berusaha untuk mendekatinya dengan perlahan dan sekarang ia mulai bisa beradaptasi di kelas walaupun dengan pangucapan kata yang kurang jelas. Yuki adalah salah satu murid ina yang baru beberapa bulan pindah dari jepang karena mengikuti orang tuanya yang mempunyai bisnis di indonesia. Yuki menganggap ina sebagai ibunya sendiri walaupun ia tetap menghormatinya sebagai guru, ina selalu bisa membuat yuki tersenyum dan ina selalu penuh dengan kasih sayang ketika bersama dengan anak-anak dikelasnya. Walaupun tidak jarang ina membuat takut yuki dan teman sekelasnya merasa takut karena kedisiplinan dan tidak mentolerir anak yang berbuat kesalahan disekolah.

            Sekarang ina sudah paham dengan apa maksud dari pesan ayah dulu sebelum ia akhirnya berangkat menimba ilmu yang lebih tinggi. Ina yang akhirnya memilih meneruskan perjuangan ayahnya dalam memberikan pendidikan bagi para calon penerus generasi bangsa merasa bangga dan senang, karena ia telah menjadi orang yang berguna. Sebelum berangkat menemui teman-teman masa lalunya ina menyempatkan diri untuk melihat foto dirinya dan kedua orang tua yang tersenyum bangga dihari kelulusan sma dan foto saat ina wisuda.

Selesai.


Biodata Penulis

Nama  : Rochmatul Ngumri

Tempat/tgl lahir: Magelang, 20 Januari 1993,

Alamat : Parakan, Bumiayu, Kajoran, Magelang

Motto  : berjuang untuk selalu memberikan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.

Email  : riedolphin32@yahoo.com

Fb: https://www.facebook.com/rie.granger

Tulisan Terbit dalam Antologi Buku : Goresan Pena Melukis Rasa 
terbit di Afsoh Publisher 2013
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Mahasiswa PGSD Unnes

Isi Buku 
Hati Kardus Untuk Omen
Kasih Tak Pudar 
Keabadian Cinta Tuk Selamanya
Jarak  
Lorong Impian si Kecil Clara 
Ceritaku Ceritamu 
CInta Tidak Harus dipaksa  
Kupilih Jalan Terbaik 
Malam ini ...

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top