-->

Kasih Tak Pudar

| 1:19 PM |

 “Pim pim piiiiiim......”

Terdengar gemboran klakson truk gede tepat di belakang Ifay yang cukup memekakkan telinganya. Ifay adalah seorang gadis remaja berusia 18 tahun yang sedang menikmati masa liburannya setelah lulus dari SMA pinggiran di Kota Malang. Dia bersama kakaknya yang bernama Vhio berencana mengisi liburan kali ini dengan mencari sesuatu yang baru. Mereka akan menempuh perjalanan Jawa – Bali dengan menggunakan sepeda motor. Kakak beradik yang beda usianya 5 tahun itu memang suka melakukan aksi nekat. Pada liburan semester yang lalu mereka sempat mendaki Gunung Semeru tanpa perbekalan.

“Woooi, kenapa harus pas di telingaaa...” Ifay menimpali suara klakson.

“Sudahlah fay, namanya juga truk. Emang kaya gitu suara klaksonnya. Enggak usah sok asing deh dengan klakson. Suara kamu aja kayak klakson gitu. Hehehe ...“ Vhio mencoba meredakan amarah Ifay.

Mereka berdua memang sangat akrab sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Saat itu, Juli 2003 mereka sekeluarga pergi ke rumah saudaranya yang ada di Jawa Barat. Entah karena kurang tidur atau kelelahan, mobil yang dinaikinya menabrak bus yang sedang parkir di tepi jalan. Ayah dan ibu mereka tidak sempat di larikan ke rumah sakit dan seketika meninggal dunia. Vhio dan Ifay masih diberi kesempatan untuk menghirup udara oleh sang Pemberi hidup, yang terjadi pada mereka hanya luka ringan di kepala. Hingga sekarang mereka hidup berdua di bawah satu atap. Hanya saja, terkadang diramaikan bersama dengan seorang kaki kanan ayahnya yang bernama lek Diman. Beruntungnya, ayah mereka meninggalkan usaha Kripik Tempe yang cukup laris di pasaran. Sehingga dapat membantu mereka untuk menyambung hidup.

“Kak, kapan kita jadi ke Bali ?“

Ifay menagih janji pada Vhio, karena sebelumnya dia menjanjikan untuk mengajak Ifay ke Bali hanya dengan menggunakan sepeda motor jika dia mendapat peringkat pertama pada kelulusan SMA.

“Kapan ya dek, pesanan kripik kita cukup banyak. Kasian lek Diman kalau harus mengelolanya sendirian”

“Yah, ketunda lagi deh“ Ifay memasang muka melas banget, biar Vhio bisa secepatnya nepati janjinya.

“Ya udah minggu depan ya dek,, tapi kamu juga harus janji untuk bantu lek Diman buat kripik yang buanyak biar minggu depan gak terlalu kehabisan stok”

“Yeyeye....ssssiiap boooos“ Ifay kegirangan setelah kakaknya akan secepatnya menepati janji.

“Lagi pada ngapain ini ? kok tadi ada yang nyebut lek Diman lek Diman gitu.“ Tiba – tiba lek Diman menghampiri mereka dengan seulas senyum di teras rumah dan ikut nimbrung.

“Ini lho lek, mulai besok ada yang mau jadi kuli barunya lek Diman, hehehe...” Vhio menjelaskan serta secara tidak langsung mengejek Ifay.

“Eh eh enggak lek, aku cuma bantuin doang lho ya. Enggak minta upah“ Ifay mencoba menjelaskan, tapi lek Diman sudah mengerti maksudnya dan Vhio serta lek Diman tertawa barengan karena lihat Ifay yang manyun.

Hari-hari berikutnya Ifay bangun lebih pagi dari biasanya. Dia ikut membantu lek Diman dan karyawannya dari menghaluskan bumbu keripik, membuat adonan tepungnya, menggoreng kripik, hingga mengemasi kripik tempe sesuai harga. Kripik tempe mereka gurih dan renyah, cocok sekali buat cemilan bahkan lauk pauk. Apalagi kandungan protein yang ada pada kedelai sebagai bahan utama. Membuat kripik tempe tersebut banyak mengandung protein sehingga kripik tempe baik untuk dikonsumsi. Hasil produksi mereka di distribusikan di tempat – tempat wisata hingga toko oleh – oleh. Selain itu juga dipasarkan di warung – warung hingga pasar tradisional. Harganya pun terjangkau untuk semua kalangan. Sampai saat ini mereka mempunyai 15 orang karyawan yang di dominasi oleh ibu – ibu rumah tangga. Industri rumahan mereka cukup sukses dan dapat memberikan lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Sehingga industri mereka secara tidak langsung nimbrung dalam pemasukan warga di sekitarnya.

“Lek Dimaaaaan, aku capek ni...“

Gadis yang emang dasarnya agak manja ini berteriak – teriak karena kecapean dan lek Diman pun hanya tersenyum melihat tubuh Ifay yang banyak kena tepung dan belepotan. Lek Diman sudah hafal tabiat anak itu, kalau sudah capek mesti teriak – teriak. Padahal jarak lek Diman dengan Ifay hanya dua meter. 

“Sudah nduk, istirahat dulu sana kalau kamu sudah capek “

“Yes, makasih lek Diman...“ Ifay kegirangan.

 “Eh siapa suruh berhenti bantuin ? ini kerjaan masih banyak lho ya“ Tiba – tiba Vhio datang dari arah yang berlawanan.

“Itu tadi lek Diman yang nyuruh kak,“

“biarkan Ifay istirahat saja Vhio, dia sudah bantuin lek Diman dari abis subuh kok. Kasian dia belum istirahat sama sekali sampai tengah hari kaya gini“

“Iya nak Vhio, dia juga tadi sudah bantuin ibu buat adonan tepungnya kok, sampai – sampai kaya pakai bedak tepung gitu.“ Salah satu karyawannya ikut nimbrung. Tanpa dipandu, seluruh karyawan maupun lek Diman serta Vhio pun tertawa bersamaan karena pernyataan ibu tadi. Akhirnya Vhio mengijinkan Ifay untuk beristirahat.

“Kakak dari mana saja sih, pergi pagi – pagi buta dan baru pulang tengah hari gini“

“Kasih tahu enggak ya ...“

“Ih, kok jahat gitu. Kasih tahu dong kak ...“

“Kapan – kapan aja kasih tahunya ah, aku mau mandi dulu“

Ifay manyun dibarengi dengan langkah Vhio menuju kamar mandi. Sebenarnya Ifay masih sangat penasaran Vhio abis dari mana. Tapi apa boleh dikata, dia tidak mendapat jawaban yang pasti dari kakaknya itu.

Detik demi detik berganti menjadi menit. Menit demi menit berganti menjadi jam. Jam demi jam berganti dengan hari. Hari demi hari pun berlalu hingga tiba saatnya Ifay dan Vhio mempersiapkan segala sesuatu untuk menuju pulau Dewata. Akan tetapi tiba – tiba Ifay duduk dan termenung. Tanpa terasa, air matanya pun meluncur. Saat itu juga Vhio memergokinya.

“Dek, kenapa nangis ?“ Vhio mendekati Ifay dengan perlahan dan mencoba  mencari penyebab Ifay menangis.

“Enggak kok, cuma kelilipan doang. Emang sejak kapan aku jadi cewek cengeng ?“

“Jangan bohong deh fay,“ Vhio tetap bersikukuh untuk menyelidik.

“Iya kak, Ifay gak apa – apa kok“

“Baguslah kalau kaya gitu“

Akhirnya Vhio pun menyerah. Kemudian Ifay meninggalkan Vhio seorang diri dan masuk kamar untuk beristirahat. Tidak sengaja Vhio yang melewati kamar Ifay dan serta merta mendengar lagu yang sama diputar berulang – ulang. Sehingga membuatnya penasaran dan bertahan di depan pintu Ifay beberapa saat.

...         Kata mereka diriku slalu dimanja

Kata mereka diriku slalu dtimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu

Kan slalu ada di dalam hatiku            ...

Pada akhirnya Vhio menemukan jawaban atas curahan air mata adeknya sedari tadi. Lagu Melly Goeslaw yang berjudul “Bunda” itu memang menjadi lagu favorit Ifay ketika ia merindukan sosok seorang ibu di sampingnya. Ternyata Ifay merindukan ibunya yang lama tlah tiada. Sebelum ibunya meninggal, Ifay memang sangat dekat dengan ibunya. Apalagi saat – saat seperti ini. Ketika dia akan menempuh suatu perjalanan bersama kakaknya. Mengingatkan dia pada kejadian beberapa tahun lalu yang bisa merenggut nyawa kedua orang tuanya. Vhio pun berinisiatif untuk membahagiakan Ifay sebisa dia. Karena hanya Ifay, satu – satunya anggota keluarga yang ia punyai.

Sabtu malam pun larut dalam kesunyian. Semua kripik tempe sudah rapi terbungkus dan siap untuk dipasarkan esok hari. Namun, baik Vhio maupun Ifay tidak bisa membantu lek Diman untuk memasarkan, karena mereka akan memulai perjalanan dari Malang menuju pulau Dewata minggu pagi. Lek Diman yang biasanya pulang ke rumah di sore hari, malam ini dia tidur di rumah mereka agar keesokan harinya bisa langsung memasarkan kripik tempe di tempat wisata yang letaknya agak jauh dari rumah mereka.

Tak disangka, di tengah malam yang sunyi si jago merah menit demi menit merenggut rumah mereka. Tepatnya di gudang tempat kripik tempe yang akan dipasarkan. Sekitar dua jam berlalu, baru terdengar suara warga yang berteriak – teriak karena melihat kepulan asap yang bersumber dari gudang rumah Ifay.

“Kebakaraaan... Kebakaraaan...“

Vhio dan Ifay yang sedang tidur nyenyak kaget secara tiba – tiba. Sontak mereka langsung keluar dari kamar masing – masing karena rumah mereka sudah terisi penuh dengan kepulan asap. Hingga di luar rumah, mereka melihat warga sekitar tlah membantunya untuk menyiram api dengan menggunakan air seadanya. Vhio baru ingat kalau ada lek Diman tidur di gudang. Dilihatnya sekeliling, ternyata belum ada lek Diman di sekitarnya. Hingga akhirnya Vhio menerobos masuk ke dalam gudang untuk mencari lek Diman.

“Lek Dimaaan... lek Diman...“

Vhio berteriak – teriak sambil celingukan mencari lek Diman. Vhio menemukan lek Diman sudah dalam keadaan tertimpa sebuah runtuhan kayu besar. Seketika itu juga Vhio membopong lek Diman keluar gudang. Kemudian membawa lek Diman ke rumah sakit terdekat. Kaki kiri lek Diman terluka cukup parah. Di sisi lain, Ifay hanya bisa menangis lemah melihat gudangnya terbakar. Sebab, gudang tersebut adalah sesuatu yang sangat bisa untuk membantunya dalam menyambung hidup.

Selang beberapa hari, kondisi agak membaik. Lek Diman di bolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Namun, kaki kirinya tidak dapat berjalan dengan sempurna. Sehingga lek Diman berjalan menggunakan bantuan tongkat. Sementara itu, produksi kripik tempe mereka tutup untuk beberapa bulan ke depan.

“Vhio, lek Diman mau bicara sebentar sama kamu“ lek Diman menghampiri Vhio yang sedang membersihkan gudang sisa kebakaran.

“Tentang apa lek Diman ?”

“Tentang...emm...”

“Tentang apa lek Diman ?” Vhio mengulangi pertanyaannya

“Tentang kebakaran kemarin. Sebenarnya waktu itu lek Diman kan tidur di gudang.  Nah, berhubung banyak nyamuk lek Diman nyalain obat nyamuk. Mungkin tidak sengaja obat nyamuk tersebut mengenai salah satu bungkus kripik tempe dan menjalar ke bungkus yang lain. Hingga terjadi kebakaran seperti itu. Maafkan saya ya Vhio...”

O...jadi ini semua gara – gara lek Diman ?” tanpa sepengetahuan Vhio dan lek Diman, Ifay mendengarkan cerita lek Diman dari awal higga akhir.

Aku gagal ke Bali, gudang kebakar, udah enggak ada apa – apa lagi buat hidup” Ifay terus nyerocos.

“Udah deh fay, jangan begitu. Semua ini sudah taqdir Tuhan,” Vhio mencoba menenangkan Ifay.

Taqdir –taqdir gimana kak? Sudah jelas ini semua salah lek Diman. Coba saja kalau saat itu lek Diman tidak nyalain obat nyamuk. Pasti hari ini kita sudah sampai di Bali kak” Ifay masih saja ngotot.

“Mungkin saat  ini Tuhan belum mengijinkan kita untuk bersenang – senang Fay,” Vhio menambahkan. Lek Diman hanya bisa duduk dan menundukkan kepalanya.

Ya sudah kalau begitu, kakak pecat lek Diman atau aku yang pergi dari rumah ini?” Ifay semakin marah enggak karuan. Belum sempat Vhio menjawab pilihan yang dilontarkan Ifay, seketika itu juga lek Diman berdiri dengan bantuan tongkat di dekatnya.

“Vhio, Ifay lek Diman minta maaf ya kalau selama ini lek Diman tidak bisa merawat kalian dengan baik dan menyebabkan kekacauan kemarin.” Dengan segera lek Diman beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ifay, kamu apa – apaan sih. Lek Diman itu sudah merawat kita, membantu kita setelah ayah dan ibu tiada. Balasanmu apa ke lek Diman? Mengusirnya begitu saja? Ingat Ifay, dia juga punya keluarga yang harus dinafkahi. Anaknya masih kecil – kecil. Hanya dari usaha kripik kita mereka bisa menyambung hidup. Kamu tidak kasihan dengan keadaan mereka?” Vhio memarahi Ifay yang bertindak gegabah. Ifay tak memedulikan ceramah kakaknya dan langsung masuk kamar.

Hingga beberapa hari Vhio dan Ifay mengacuhkan satu sama lain. Suatu pagi buta Ifay meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan kakaknya. Ia hanya membawa beberapa baju dan sedikit tabungannya. Ia berencana pergi ke Bali seorang diri.

Malang, Juni 2013 ...

Vhio enggak tinggal diam begitu saja. Dia mencoba mencari kabar dimana keberadaan adeknya. Walaupun pada akhirnya tidak mendapat informasi apapun, alias nihil. Kemudian Vhio beralih untuk merintis kripik tempenya mulai dari nol. Dia tidak sendirian sebab setelah Ifay pergi dari rumah, dia membujuk lek Diman untuk kembali lagi membantunya dalam memproduksi kripik tempe itu.

            “Lek Diman bersedia kan, seandainya bekerja sama – sama lagi bareng saya?” Vhio mendatangi rumah lek Diman untuk menjenguknya dan menanyai kesediaannya.

            “Nanti kalau tiba – tiba Ifay kembali, kemudian pergi lagi hanya gara – gara melihat lek Diman bekerja disini lagi bagaimana?” lek Diman masih merasa sangat bersalah atas kejadian kebakaran waktu itu.

            “Sudah, lek Diman tidak usah memikirkan omongan Ifay waktu itu. Yang penting kita memperbaiki keadaan saja biar menjadi lebih baik. Entah nanti hasilnya memuaskan atau tidak, yang penting kita sudah berusaha dan berdoa. Masalah berhasil enggaknya kita serahkan saja sama yang Kuasa.” Vhio mencoba menjelaskan

            “Iya Vhio, terima kasih kamu masih memperhatikan keadaan keluarga saya,”

            “Sama – sama lek. Semua ini pemberian Tuhan yang harus kita syukuri. Kalaupun kita sedang dalam keadaan sulit, itu tandanya Dia menguji kesabaran kita dan Dia masih sayang kepada kita lek,”

            Vhio dan lek Diman akhirnya memulai usaha kripik tempe yang sementara waktu lalu sempat terhenti. Vhio mencari pinjaman untuk modal awal dalam produksinya. Meskipun lek Diman dalam berjalan masih dengan bantuan tongkat, ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk bisa melanjutkan usaha yang telah dirintis sahabat karibnya yang tlah tiada. Kalau dulu dalam memasarkan kripik tempe lek Diman menggunakan sepeda motor dengan roda dua, kini dia menggunakan sepeda motor dengan roda tiga. Supaya lek Diman tidak terlalu kewalahan dalam berkendara. Sepeda motor roda tiga itu didapatkannya dari teman Vhio yang memang hobi dalam memodifikasi motor maupun mobil.

Bali, Juni 2013...

            “Hey, you come here...” salah satu bule yang ada di pantai Kuta memanggil Ifay.

            “Yes sir, What can I do for you?” Ifay mendekat.

            Please braid my hair like girls Bali,” si bule meminta Ifay untuk mengepang rambutnya seperti gadis bali yang dilihatnya di sepanjang jalan.

            “ready sir, please sit here...” Ifay membuka tikar yang dibawanya kesana kemari dan mempersilakan si bule untuk duduk sebelum rambutnya dikepang.

            Sesampainya di pulau Dewata, Ifay menjadi tukang kepang rambut bule – bule di tempat – tempat wisata. Dia hidup di sebuah losmen yang harganya sangat miring. Tidak lama menjadi tukang kepang, Ifay beralih menjadi waitress di resort ternama. Berjalan hingga beberapa hari, dia semakin betah saja di resort itu.

Malang, September 2013...

            Beberapa bulan kemudian, kripik tempe Vhio semakin hari semakin meningkat dalam produksinya. Pesanan kripik tempe membludak. Apalagi sempat vakum beberapa saat, membuat para kripikers (penggemar kripik) sangat merindukan gurih dan renyahnya kripik tempe buatan Vhio dan lek Diman itu.

            “Lek Diman, andai saja Ifay bisa melihat apa yang kita hasilkan sekarang. Pasti dia seneng banget ya lek “ Setelah bekerja seharian, Vhio dan lek Diman ngobrol di teras depan.

            “Iya ya, kalau saja waktu itu tidak ada kebakaran gudang. Pasti Ifay masih bercanda tawa bersama kita.”Lek Diman menunduk.

            “Sudahlah lek, yang lalu biarlah berlalu. Diambil hikmahnya saja.”

            “ Siap Vhio...” lek Diman berseru.

            Sejak sore itu, Vhio mulai kepikiran lagi sama Ifay. Beberapa hari ini, nafsu makannya agak berkurang. Hingga tubuhnya kelihatan sekali kalau kurusan.

Bali, September 2013...

            “Ifaaay...” Seorang pria tampan memanggil Ifay dari kejauhan. Pria tersebut adalah keponakan dari pemilik resort dimana Ifay bekerja. Mereka bertemu ketika anak dari pemilik resort mengajak sepupunya itu singgah di resortnya. Mereka terjebak cinta dalam pandangan pertama. Kini mereka telah menjalin hubungan asmara yang telah berjalan beberapa bulan dan berencana untuk melangsungkan pernikahannya pada September di kota kelahiran Ifay.

            “Iya Yoga, ada apa?” Ifay mendekati Yoga

            “Semua barang sudah siap buat di bawa ke Malang nih,” Yoga yang keturunan Jawa juga sudah mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan untuk acara nikahan.”

            “Terima kasih sayangku,”

            Mereka memang akan meluncur ke Malang keesokan harinya bersama dengan segenap keluarga Yoga yang sempat hidup di pulau Bali untuk menjalankan bisnis resort keluarga besarnya.

Malang, September 2013...

            Akibat kurang makan, Vhio menjadi sakit keras berkepanjangan. Sehingga produksi kripik tempenya dikurangi, karena lek Diman hanya dibantu beberapa gelintir orang karyawannya. Tiba – tiba terdengar suara yang familiar di telinga lek Diman.

            “Kak Vhiooo, aku kembaliii...” Suara Ifay memecahkan keheningan di kamar Vhio yang sudah berjubel dengan tetangga sekitar yang menjenguk Vhio. Tetangganya memang sangat peduli terhadap warga lain yang sedang dalam keadaan sulit. Setelah melihat keadaan itu, Ifay diam seketika.

            “Kak, Ifay minta maaf kak, Ifay enggak bisa merawat kakak dengan baik,” Ifay berkata – kata sambil nangis sesenggukan.

            “Iya fay, kakak ngerti kok. Kamu pulang dengan siapa?”

            “Ifay pulang dengan Yoga serta keluarganya kak. Dia akan melamar Ifay dan segera menikahi Ifay,”

            “Uhuk – uhuk... kapan kalian akan melangsungkan pernikahannya?” Vhio berbicara sambil terbatuk – batuk.

            “Secepatnya kak. Kenapa kakak sakit sampai kaya gini enggak dibawa ke rumah sakit saja?” Ifay tampak sangat cemas.

            “Cuma sakit seperti ini kok dek, nanti juga cepet sembuh.” Vhio tidak mau adeknya terlalu mencemaskan dia.

            “Aku ke belakang sebentar ya kak,” Ifay terpaksa membohongi kakaknya karena dia akan berembug bersama dengan Yoga beserta keluarga agar pernikahan bisa dilangsungkan besok pagi. Ifay berencana setelah upacara pernikahan selesai, dia akan membawa kakaknya ke rumah sakit. Yoga beserta keluarga pun menyetujui ide Ifay.

            Malam harinya Vhio terbatuk hingga tak karuan. Sepertinya penyakit Vhio sudah akut. Ifay cemas sekali mendengar kondisi kakaknya yang seperti itu. Dia ingin memutar jarum jamnya agar pagi hari tiba dengan cepat. Namun, hal itu sangat mustahil. Dia hanya bisa berdoa akan kesembuhan kakaknya.

            Saat – saat yang di tunggu Ifay pun tiba. Ia memakai gaun pengantian. Ia terlihat sangat cantik. Pesta pernikahan diadakan sesederhana mungkin. Sebelum Yoga mengucapkan janji setianya, Vhio berpesan kepada kedua mempelai.

            “Ifay, Yoga nanti setelah kalian menikah, kalian lanjutkan usaha kripik tempe ayah ya?”

            “Iya kak, kami akan melanjutkannya. Kakak cepat sembuh ya,”Ifay serta Yoga pun mengiyakan permintaan kakaknya.

            Upacara pernikahan pun dimulai. Yoga dengan tegas mengucap janji setianya dengan lancar. Semua kerabat baik dari keluarga besar Yoga maupun dari keluarga Ifay tampak sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Karena selang beberapa menit terdengar kabar bahwa Vhio menghembuskan nafas terakhirnya. Ifay menangis histeris dan pingsan. Ternyata permintaan dari Vhio tadi adalah permintaannya yang terakhir. Setelah Ifay bangun, warga sekitar meminta ijin kepadanya untuk mengurus pemakaman Vhio.

Malang, Desember 2014...

            “Ibu.....” Suara mungil yang keluar dari bibirnya membuat kebhagiaan Ifay yang kini telah dikaruniai seorang anak perempuan yang manis.

            Kasih Tuhan yang tidak pernah pudar pun ia rasakan. Dari mulai suksesnya usaha kripik tempe yang ia kerjakan bareng – bareng dengan suami tercinta, lek Diman dan warga sekitar hingga dikaruniainya seorang anak yang manis. Kini mereka hidup bahagia dengan tanpa melupakan kasih yang diberikan oleh Tuhannya.


Profil Pengarang

                                              

Nama              : Jumi’ati

TTL                 : Kudus, 11 Juni 1993

Alamat            : Ds. Pladen RT 01 / 02 Kec. Jekulo

Kab. Kudus

Motto              : Menikmati saat ini, selalu belajar

dari masa lalu dan merencanakan masa depan

E-mail             : jumicstupid@yahoo.co.id

Tulisan Terbit dalam Antologi Buku : Goresan Pena Melukis Rasa 
terbit di Afsoh Publisher 2013
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Mahasiswa PGSD Unnes

Isi Buku 
Hati Kardus Untuk Omen
Kasih Tak Pudar 
Keabadian Cinta Tuk Selamanya
Jarak  
Lorong Impian si Kecil Clara 
Ceritaku Ceritamu 
CInta Tidak Harus dipaksa  
Kupilih Jalan Terbaik 
Malam ini ...

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top