-->

Hati Kardus untuk Omen

| 1:03 PM |

“Kenapa kamu hadir saat aku mulai berhenti untuk mencintai ? Kenapa?”  Kata-kata itu yang selalu terucap saat Omen bertatap dengan San. Entah, apa yang membuat San begitu nyaman dengan kekakuan Omen. Seakan kekakuan itu adalah daya pikat Omen yang membuat San ingin terus dekat dengannya. Memang sejauh ini Omen telah mengikrarkan hatinya hanya untuk satu cinta yang abadi. Cinta kepada Yang Maha Cinta.

Semenjak keputusan terindah yang pernah ia buat untuk berpisah dengan Ray kekasih kelamnya 5 tahun silam, membuat Omen untuk lebih berhati-hati untuk menjatuhkan hatinya kepada seorang laki-laki. Baginya, cinta adalah penyakit kronis yang menjangkiti seluruh urat saraf organ tubuhnya. Merusak pemikiran yang sebelumnya terstruktur menjadi angan-angan, membutakan mata yang terjaga, menulikan telinga atas firman Sang Maha Cinta, mengusik khusyuknya hati pada dzikir ketentraman.

Namun semua kamuflase pemikiran itu sirna saat San mulai menebarkan virus pada hati gadis berusia 20 tahun itu. Berkecimpung pada prodi universitas yang sama membuat intensitas bertemu antara San dan Omen menjadi semakin sering. Ketika di kamar mandi pun mereka bertemu.

“Cie, yang fesbukan di kamar mandi ?” Kata San menggoda Omen yang sedang menunggu Nae buang air besar.

“San, apaan si kamu !” kata Omen terkejut.

“Omen, kenapa tak mau pajang foto di jejaring sosial ?” Tanya San, saat memergoki Omen sedang membuka profil dijejaring miliknya.

“ya, karena malu San.” Jawab Omen setengah jengkel.

“Kenapa malu ? Tak seperti monyet kau ini.” Balas San asal-asalan.

“Kenapa bilang saya monyet ? Saya hanya malu jika foto saya dilihat oleh orang banyak.” Jawab Omen ketus.

“Eits.... malu dilihat orang banyak ? Kenapa tak pakai kardus saja untuk tutupi muka kau itu ?” Kata San sambil tertawa kecil.

“Huh....sembarangan kalau ngomong.”  Jawab Omen kesal dan berlalu meninggalkan San.

***

            Omen lebih merasa dekat lagi saat beberapa waktu dapat duduk melingkar untuk menyusun suatu program kerja organisasi. Memang sudah celupanNya. Omen dan San bertemu kembali dalam sebuah organisasi yang sama. San adalah seorang ketua yang unik, menurut Omen. San selalu kukuh pada pemikirannya yang sederhana. Acap kali argumen Omen tertolak oleh kesederhanaan San. Namun San tiba-tiba berubah ketika hendak menyusun proposal kegiatan. San sangat ingin tahu pendapat Omen terhadap kegiatan yang hendak mereka galakkan.

            “Omen, menurut kamu kegiatan ini sebaiknya dilaksanakan satu atau dua hari ?” Tanya San tampak kebingungan.

            “Mending 2 hari aja San soalnya acara ini langka banget. Sayang kalau Cuma sehari. Kita bisa pake narasumber yang berbeda antara hari pertama dengan hari kedua. Mungkin yang lainnya ada pendapat ?” Jawab Omen melempar pendapat kepada anggota lainnya.

“Iya, aku setuju sama pendapat Omen. Tinggal disesuaikan saja dengan estimasi dana kita. Mau dipatok berapa dana untuk masing-masing narasumber.” Sambung Nae

“Bagus aku setuju. Oke rapat kali ini kita tutup. Mari berdoa menurut kepercayaan masing-masing.” Tutup San sambil memperhatikan Omen yang beranjak keluar dari ruangan.

            Tiba-tiba handphone San berbunyi. Perlahan ia ambil dari dalam saku celananya yang agak ketat. Betapa terkejutnya San, ternyata ada sms dari Omen.

            “Tak sepantasnya kau memandangi wanita yang belum halal untukmu. Itu celana apa legging oma ? Ketat amat. “ bunyi sms dari Oman sontak membuat muka San memerah.

            Namun dasar San. Dia begitu apa adanya. Apa yang ia pikirkan dan rasakan adalah apa yang ia ucapkan. San pun membalas sms Oman.

“Kau tau aku pandangi kau ? Macam mama Loreng saja kau. Oh iya ini bukan Legging oma tapi legging Abah.” Membaca sms San, raut muka Omen pun berubah. Tampak senyum simpul menghiasi wajahnya. Omen pun bergegas menuju parkiran menghampiri sahabat yang menjemputnya.

***

Ketika Omen dan Nae sedang asik bercengkrama di beranda rumah Omen, tiba-tiba terdengar ringtone sms klasik semakin menaik. “Tut...tut...Tut...tut...”

“Nae, HP kamu bunyi.” Celetuk Omen menghentikan candaan mereka.

            “Ah, enggak Omen. Bukan punya aku. HP kamu kali.” Jawab Nae setelah menengok HP tak ada pesan masuk.

            Omen segera merogoh saku roknya sebelah kanan. Omen tiba-tiba meninggikan salah satu alisnya. Nae pun penasaran pada layar HP Omen yang membuat raut wajah Omen tiba-tiba berubah.

“Sms dari siapa Men ?” tanya Nae celingukan berusaha membaca nama pengirim sms yang tertera pada layar HP Omen.

“San” Jawab Omen setengah terkaget

“Ha ? Apa katanya” Nae pun ikut kaget.

“Omen, tolong kirimkan rancangan estimasi dana kemarin ke FB aku ya.” Jawab Omen mengembalikan HPnya di tempat semula.

“Ah biasa.” Sahut Nae segera kembali ke posisi semula.

“Maksud kamu ?” Tanya Omen heran.

“hihihi.... iya, biasa Men. Aku kira ngajak ngedate.” Jawan Nae asal-asalan.

“Sembarangan.” Celetuk Omen ketus.

“Tut..tut...tut...tut...” Tiba-tiba HP Omen berbunyi lagi.

“Cie, San lagi tu ?” Goda Nae pada Omen.

“Ha ? apaan si ni orang nggak jelas banget !” Ucap Omen setelah membaca sms masuk yang ternyata dari San.

“Apaan isinya Men ?” Tanya Nae penasaran ikut nimbrung membaca sms dari San.

“Omen, semangat J” isi sms San.

Omen dan Nae saling bertatapan setelah membaca sms dari San. Terdengar mereka tertawa lepas saat Nae menggoda Omen atas sms dari San.

***

San yang konyol. San yang aneh. Kata Omen saat membaca sebuah kardus membentuk hati yang tertempel pada rubik “Apa Kabar Kata” mading kampus.

“Bila cinta mengungkap rasa. Begitu indah mengisi hatiku. San”

Omen segera berlalu menuju kelas. “Deg...deg...” Jantung Omen tiba-tiba berdegup sangat cepat. Sehingga menghentikan langkahnya sejenak. Melihat Omen tampak kesakitan sambil memegangi dada sebelah kiri, Nae segera menghampiri Omen dan menuntunnya ke kelas.

“Men” Bisik Nae membuat Omen mengangguk paham seakan tau apa yang akan dikatakan Nae.

            Tanpa disadari, San berada 5 hasta dibelakang Oman dan Nae. San terus mengikuti mereka sampai ke kelas dan ikut duduk disamping Omen.

“San, ngapain kamu kesini ?” Tanya Nae heran.

“Ah enggak, aku pindah rombel aja. Hehehe” Jawab San sambil memandangi Omen.

“Ngapain kamu lihat-lihat aku.” Kata Omen ketus

“Haish... galak amat. Tapi cantik.” Jawab San menggoda Omen.

15 menit berselang. Jantung Omen berlangsung stabil. Omen pun terlihat lebih rileks. Nae yang sedari tadi berada di samping Omen, tersenyum menatap Omen. Omen pun mengangguk paham sebagai tanda terima kasih atas perhatian Nae. San pun ikut tersenyum, meskipun tak memandangi Omen. San pun merasakan Omen sudah agak membaik.

***

Hari berikutnya Omen melintasi mading kampus dan menemukan tulisan San yang berbeda dari kemarin. “Menatap indahnya senyuman di wajahmu. Membuatku terdiam dan terpaku. San.”

“Doorrr....” suara San mengagetkan lamunan Omen.

“Sedang lihat apa kau Omen ? Sampai tak sadar ada nyamuk gemuk di pipi kananmu ?” Sambung San sambil meniup nyamuk yang ada di pipi kanan Omen.

“Apaan si kamu ? paling bisa ya ngagetin orang ? Ini apa lagi niup-niup segala ? Bukan muhrim tau. Jawab Omen Ketus.

            Tiba-tiba “deg...deg...” Jantung Omen kembali berdegup cepat. Membuatnya jatuh tersungkur pada tangga kedua. Melihat Omen terjatuh San segera menolong Omen. Tetapi Omen menolak.

“Jangan kasihani aku. Aku bisa sendiri.” Ucap Omen membuat San mundur satu langkah.

“Tak usah bergayalah kau. Ni, kau minum obat ini. Pastilah kau akan lebih baik.” Kata San menawarkan sebuah kapsul merah dan dua buah pil putih. Omen yang masih merasa kesakitan terheran-heran pada San. San menawarkan obat yang sama persis dengan obat yang biasa dia minum ketika jantungnya berdegup kencang.

“San ? kamu ?”

“udah cepetan minum. Ini pake pisang biar gampang.” Ucap San memotong perkataan Omen.

“I..ii..iya... makasih” Omen segera melahap obat-obatan itu.

“Kalau gitu aku ke kelas dulu ya.” Kata San sambil selangkah demi selangkah mundur dari posisi Omen kemudian berbalik badan.

“San” terdengar suara Omen dari belakang memanggil San. San pun berbalik badan dan menemukan Omen sudah berada tepat di depannya.

“San, maaf aku tadi kasar sama kamu.” Kata Omen menunduk malu.

“Haha, kenapa kau ini bak kura-kura saja. Berbicara sambil menunduk segala. Tak usahlah kau meminta maaf. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tak apalah. Hahaha” Jawab San berlalu meninggalkan Omen sambil melambaikan tangan.

***

Begitulah San dengan gelagat misterius yang selalu menghampiri Omen, membuat Omen tak habis pikir atas sikapnya. Omen memang mengidap penyakit lemah jantung. Dokter sudah menyarankan agar Omen jangan terlalu banyak pikiran karena dapat berpengaruh pada jantungnya. Namun Omen bukanlah gadis lemah. Meskipun sakit dia tak hiraukan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan.

Dia dengan segudang harapannya tak akan mundur hanya karena alasan klasik seperti itu. Asal rajin minum obat dan selalu berdoa pikir Omen dapat merayu Tuhan untuk mengangkat penyakitnya. Omen suka terhadap hal-hal baru. Organisasi, pengabdian kepada masyarakat, mengikuti berbagai forum diskusi mahasiswa, membuat suatu program inovasi merupakan sedikit dari rutinitas yang biasa dilakukan Omen.

Nae, sahabat Omen dari SMA pun heran kepada Omen. Nae pikir Omen itu seperti kutu loncat. Bahkan ketika kondisi lemah pun Omen tetap menghadiri undangan di forum diskusi kedaerahan.

“Omen, kamu lagi sakit ! Nggak usah ikut aja deh Men.” Kata Nae mencoba menghentikan langkah Omen.

Bismillah, Nae insyaallah aku nggak apa-apa.” Ucap Omen berlalu dari Nae meninggalkan seberkas senyuman.

“Omen....Omen.... semoga nggak terjadi apa-apa sama kamu.” Gumam Nae dalam hati sedikit khawatir.

Omen sampai di kampus dan segera bergabung dengan teman-teman diskusinya. Namun langkah Omen terhenti saat Omen melintasi papan mading berukuran 1,5 x 2 meter dengan ornamen sarang semut membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun bukan itu yang menghentikan langkah Omen. Omen tertegun menatap goresan pena berbentu hati yang terbuat dari kardus dalam rubik “Apa kabar Kata”.

“Ketika jantungmu mulai tak berfungsi, akan kuserahkan jantungku. Agar aku tak kehilangan senyummu. San” begitulah bunyi goresan pena San yang membuat Omen tertegun.

Omen tak mau berpikir yang aneh-aneh. Mungkin San hanya iseng menulis seperti itu. Bukan karena kejadian kemarin saat San menolong Omen.

“Ah, San. Maksudnya apa coba.” Gumam Omen berlalu meninggalkan tempatnya berdiri.

“Deg...deg...” suara jantung Omen berdetak sangat kencang. Namun tak biasanya. Tak sakit juga tak lemas. Omen melihat ada sesosok laki-laki Batak, berparas sumringah lengkap dengan lesung pipitnya, berkacamata, berkulit kuning langsat duduk melingkar bersama teman-teman diskusinya. Dia Memakai kemeja dan celana kulot menimbulkan kesan sederhana namun berkelas.

“San. Ya benar, memang itu San. Ngapain dia di sini ?” kata Omen dalam hati terheran-heran melihat San yang notabene bukan orang yang suka mengikuti forum diskusi kedaerahan. Bahkan Omen pun tak tau jika San bertempat tinggal di satu Karisidenan dengannya.

“Woi,,, Men. Duduklah kau. Tak enak lah aku jika kau pandangi ku sampai melongo seperti itu.” Celetuk San sontak menimbulkan gelak tawa teman-temannya dan seketika itu pula San melihat wajah Omen yang memerah.

Omen pun tertunduk malu sambil menggerutu atas sikap San yang mempermalukannya di depan teman-temannya. Omen duduk berjauhan dengan San dan sebisa mungkin tak menatap San. Omen masih kesal dengan sikap San. Setiap San usul pasti Omen tidak setuju.

“Maaf, saya kurang sependapat dengan saudara Sandi Kuncoro. Menurut saya program rumah baca harus tetap dilaksanakan. Mengingat minimnya minat membaca di daerah kita.” Tegas Omen membuat San membalas argumennya.

“Saya setuju dengan pendapat saudari Omenita Nugraha Kusuma. Tapi kita juga harus ingat sarana dan prasarana di daerah kita juga minim. Kurangnya pasokan listrik di desa Rukso juga harus kita perhatikan. Bagaimana bisa membaca jika tak ada listrik ?” Balas San membuat decak kagum teman-teman diskusi.

“Oke...oke.... semua patut dilaksanakan segera mungkin. Namun alangkah baiknya jika kita meminta persetujuan dari pihak desa untuk memudahkan kita memilih kegiatan yang mana yang harus segera dilaksanakan.” Kata Alif selaku ketua diskusi mencoba untuk mencairkan suasana.

            Diskusi pun usai. Omen masih saja kesal dengan sikap San. Tak terbesit dipikiran Omen jika San akan meminta maaf.

            “Omen” San menepuk pundak Omen, berharap Omen mau membalikkan badan.

            “Heh, sembarangan wae. Pegang-pegang. Bukan muhrim.” Jawab Omen ketus.

            “Eh... maaflah Omen, dari lorong tadi kau ku panggil tak ada mendengar. Jadi ku tepuk saja kau. Mungkin kau sedang memakai headset.” Jelas San.

            “Tau dari mana aku pakai headset ?” Tanya Omen heran.

            “Haha... asal tebak aja aku dari pada aku sebut kau tuli. Tambah marah lah kau. Jadi tak enak hati pula aku kalau begini.” Jawab San membuat Omen semakin marah.

            “Saaaaaannnnnnnn” Balas Omen berteriak merasa geregetan dengan San.

            “Omeeeeeennnnnn” San pun ikut berteriak.

            Ngapain ikut-ikutan teriak ?” Kata Omen ketus.

            “Ha ? tadi aku buang gas. Biar tak ketahuan aku teriak saja. Tak bau kan ?”

            “Jorok banget si” Gerutu Omen sambil memegangi hidungnya.

            Omen pun tambah kesal dengan San. Sedari tadi bercakap tak jelas dengan San, tak sedikitpun San mengucapkan maaf atas sikapnya yang keterlaluan saat diskusi tadi. Omen pun segera membalikkan badan dan melangkah menjauh dari San sebelum jantungnya kumat lagi. Omen merasakan debar jantung yang tak biasa ketika berada dekat dengan San. Omen segera menjauh. Namun San tiba-tiba menghadangnya. “Deg...deg...” debar jantung Omen semakin cepat. Omen terkejut San tiba-tiba menghadangnya.

            “Omen, aku minta maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan tadi. Maaflah Omen habis kau bengong di depan pintu. Tak tegalah aku jika ada yang menabrakmu dari belakang.”  Kata San memelas.

            Omen pun terdiam. Omen serasa terbang. Bebas. Dihiraukannya semua debar yang kian mengganas sampai tak berasa. Dan akhirya “bug” Omen pingsan. Melihat Omen pingsan didepannya, San langsung bergegas membawa Omen ke rumah sakit. San merasa sangat sedih. San merasa sangat bersalah. San tak tau apakah beribu maaf dapat membuat Omen tersadar. Omen kritis. San memutuskan untuk mengambil air wudlu di mushola rumah sakit untuk menunaikan sholat dhuha. San memanjatkan doa yang sedalam-dalamnya untuk kesembuhan Omen. San menangis. San menyayangi Omen. San tidak ingin Omen mati. San ingin selalu melihat senyum simpul Omen yang menjadi pemanis hari-hari San. San menyayangi Omen. San ingin selalu dekat dengan Omen. Dipenghujung doanya San mendengar suara Nae berteriak di samping pintu mushola.

            “Sann...” teriak Nae

            “Naela” balas San.

            “Omen....San... Omen....kritis” Kata Nae berlinang air mata.

            “Omen...” San segera berlari menuju ruang UGD berharap Omen baik-baik saja.

San tak mengindahkan anggapan orang tentang air mata yang mengalir deras. San terhenti pada pintu bertuliskan selain petugas dilarang masuk. San hanya bisa memandangi Omen yang berjuang untuk kembali pulih. San masih sibuk dengan perasaannya yang kacau. Nae, ibu, dan ayah Omen tak berhenti berdoa dan merayu Tuhan. Berharap Omen dapat kembali. Tiba-tiba dokter keluar memecahkan kesedihan semua. Berharap ada kabar baik dari dalam UGD. Tapi raut wajah dokter semakin mengacaukan hati semua.

“Maaf, jantung Omen sangat lemah. Kemungkinan terburuk adalah umur Omen tinggal besok.” Jelas dokter dengan berat hati.

“Dokter, selamatkan Omen dok, selamatkan Omen.” Paksa San yang begitu terpukul.

Dokter hanya terdiam.

“kenapa dokter diam ? Masuk dok.. masuk... selamatkan Omen.” Emosi San semakin tak terkendali. San menyuruh dokter untuk masuk ke ruang UGD.

“Maaf saya tidak bisa. Kecuali ada salah seorang yang mau mendonorkan jantungnya untuk Omen.” Jelas dokter berusaha menenangkan San.

“Apa ? Jika aku mendonorkan jantungku Omen bisa sembuh ?” San berusaha mendapatkan penegasan dari dokter.

“Iya, asalkan jantungnya cocok. Tapi ....” dokter memutus pembicaraannya.

“Tapi apa dok,?” sambung San penasaran.

“Kamu tidak akan melihat senyum Omen lagi. Karena jantung adalah organ terpenting dalam tubuh manusia yang mengatur semua sirkulasi tubuh. Jika jantungmu diambil kamu akan meninggal.” Jelas dokter berhati-hati.

San melepaskan cengkramannya pada pundak dokter. San tertunduk lemas. San sangat menyayangi Omen. San ingin selalu melihat Omen tersenyum. Akhirnya San memutuskan untuk mendonorkan jantungnya untuk Omen. Sebelum proses pengangkatan jantung dimulai. San berpesan kepada Nae untuk selalu menjaga senyum Omen. San meminta Nae untuk selalu menempelkan hati kardus di madding sekolah setiap 2 hari sekali.

“Nae, aku titip Omen.” Pesan terakhir San sebelum San pergi untuk selamanya.

Nae tak sanggup menahan bulir air mata. Nae mengangguk paham. Nae tak mengira San yang sok misterius. San yang aneh. San yang sering menggoda Omen ternyata sangat mencintai Omen. San pun akhirnya pergi. Omen pun kembali atas izin Tuhan. Senyum Omen kembali melambung. Omen tak tau jika jantungnya adalah jantung San. Memang San melarang Nae untuk bercerita. Nae pun menepati janjinya untuk selalu menempel hati kardus di mading. Hati kardus itu dari awal memang dibuat San hanya untuk Omen. San cinta kepada Omen tapi San tak mau mengungkapkannya. San lebih suka menuliskannya dalam hati kardus itu.

Omen pun merasa janggal. Hari-harinya terasa berbeda setelah beberapa bulan tak bersua dengan San.

“Nae, San kemana ya ? kok udah lama nggak kelihatan batang hidungnya.” Tanya Omen celingukan.

“Kangen ya sama San ?” Jawab Nae menggoda Omen.

“Kangen ? enggak ... enggak kangen kok.” Balas Omen.

“enggak kangen ya... tapi kangen banget....” Celetuk Nae sambil menggandeng tangan Omen menuju papan mading.

“Ngapain si ngajak ke sini.” Omen heran atas sikap Nae.

“itu...San” Nae menunjuk pada hati kardus milik San yang selalu menghiasi mading.

“ Aku ingin, kamu tersenyum. Jika kamu jatuh cinta, jatuhkanlah cintamu pada orang yang dapat menguatkan cintamu kepada Tuhan. Just for you. San” isi dari tulisan San yang membuat hati Omen berdebar kencang setelah beberapa bulan tak merasakannya. Omen tak habis pikir San tak pernah terlihat namun tulisannya masih saja berganti.

Omen berlalu menuju kelas. Omen merasa ada yang disembunyikan oleh Nae dan keluarganya. Omen tak pernah tau siapa yang pemilik jantung yang ada dalam tubuhnya sekarang ini. Omen pun tak pernah tau dimana San sekarang ini.

“San, Omen kangen.” Itu yang selalu terucap ketika Omen membaca hati kardus di mading.

Sampai pada akhirnya hati kardus terakhir San untuk Omen tertempel di mading.

“Jika kau rindu aku, doakan aku. Agar kita dapat bertemu di surga. San.”

Omen seketika meneteskan bulir-bulir kerinduannya. Omen sangat sedih melihat tulisan hati kardus San. Melihat Omen yang menangis Nae segera memeluk Omen. Nae yakin cepat atau lambat Omen pasti tau jika San telah tiada. Omen sangat terpukul ketika tau jantungnya adalah jantung San. Nae menjelaskan semuanya. San sangat mencintai Omen. San Membuat hati kardus itu hanya untuk Omen. Omen sangat sedih.

“Omen, kamu nggak boleh sedih. Karena San tidak suka melihat kamu sedih. San ingin kamu selalu tersenyum. San sangat mencintai kamu. Jantung yang ada dalam tubuhmu adalah jantung San. Kamu jaga baik-baik.” Kata Nae menguatkan Omen

“Iya Nae, aku janji akan menjaga baik-baik jantung ini.” Janji Omen pada San.


Biodata Penulis

Nama              : Fitria Fatmawati

TTL                 : Pati, 23 Maret 1993

FB                   : Fitria Fatmawati

Alamat            : JL. Delima No. 92 Pajeksan

Juwana, Pati

Motto              : Be positive and always inspiring


Tulisan Terbit dalam Antologi Buku : Goresan Pena Melukis Rasa 
terbit di Afsoh Publisher 2013
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Mahasiswa PGSD Unnes

Isi Buku 
* Hati Kardus Untuk Omen
* Kasih Tak Pudar 
Keabadian Cinta Tuk Selamanya
Jarak  
* Lorong Impian si Kecil Clara 
* Ceritaku Ceritamu 
* CInta Tidak Harus dipaksa  
* Kupilih Jalan Terbaik 
* Malam ini ...



GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top