-->

Cinta Tidak Harus Dipaksa

| 8:41 AM |

Di siang hari hari yang cerah meskipun dengan udara yang panas handphone ku berbunyi “kriinng kriingg...” bunyi pertanda ada pesan masuk, tak berapa lama aku membuka pesan tersebut ternyata itu pesan dari pipit yang sebelumnya aku belum mengenal no handphone tersebut.

yaa berawal dari itulah perkenalanku dengan pipit yang masih terekam di memoriku.

Namaku cici, kini aku adalah mahasiswa di salah satu universitas negeri di kota semarang, aku baru memasuki semester 2, aku mengikuti berbagai unit kegiatan mahasiswa kegiatan tersebut yang dapat membuat aku mempunyai banyak teman termasuk dari angkatan sebelumnya. Kata temanku aku adalah orang yang supel , ramah, mudah bergaul dan murah senyum itu menurut teman-temanku. Nahh pipit adalah teman sejurusan ku yang lama kelamaan kami mulai dekat dan menjalin sebuah hubungan spesial.

Di taman pinggiran yang elok pemandangannya, pipit mengajak ku duduk di taman.

“Cici, aku pengen ngomong sesuatu ke kamu.” Ucap pipit

“jadi kamu jauh-jauh ngajak aku kesini Cuma mau ngomong sesuatu? Kenapa nggak dikampus aja tadi?” sahutku.

“sepertinya dikampus bukan tempaat yang tepat untuk aku ngomong hal seperti ini?”

“yaudah mau ngomong apa aku dengerin?” 

pipit mengungkapkan persaannya kepada ku setelah sekian lama kedekatan kami.

“ci, sepertinya aku suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?”

aku pun menjawab

“ha? Aku nggak salah denger?”

“serius, aku suka sama kamu? Kamu mau kan jadi pacar ku?” pipit berkata sambil memegang tangan ku

“emmm gimana yaaa … kayaknya aku nggak bias deh pit.”

Sontak pipit pun kaget mendengar jawabanku yang berkata seperti itu

“beneran nggak bias?” kata pipit meyakinkan jawaban yang dia dengar

“iya, nggak bias maaf yaa.” Sekali lagi aku menjawab

Seketika wajah pipit menunduk dan paras wajahnya berubah jadi sedih

Kemudian aku pun berkata,

“iya aku nggak bisa nolak ajakanmu pipit.”

Seketika itu juga wajah pipit melihat ke arah wajahku yang tersenyum jahil.

“bener kamu nggak bohong?” Tanya pipit lagi memastukan

“iya, masa aku bohong sih.”

“makasih ya ci udah mau nerima aku jadi pacar kamu.”

“iya sama-sama pipit.”

Kami berduapun tersenyum malu.

“udah sore nih, pulang yuk.” Ajakku kepada pipit

“yaudah yuk, kasihan kamu capek tadi habis kuliah kan.” Kemudian kami langsung pulang

 Dan akhirnya sejak saat itu kami menjalin sebuah hubungan, yahh pacaran itu nama lain yang sering di pakai anak-anak muda jaman sekarang.

Aku tinggal di asrama yang sudah di sediakan kampus dengan berbagai fasilitas yang cukup baik, di asrama tersebut bias di katakana nyaman dengan tempat yang layak dan teman-teman yang dekat dengan aku. Sedangkan pipit tingal di kost cowok. Kampus ku hanya menyediakan asrama khusus untuk perempuan karena menurut perbincangan dari kampus seorang perempuan agar tidak salah dalam pergaulan sebaiknya di asrama kan terlebih dahulu selama 1 tahun, maka dari itulah kami mahsiswa baru harus asrama terlebih dahulu 1 tahun.

Pipit adalah orang yang sangat baik, tampan, berkulit putih dan setia kawan, rajin sholat calon imam yang baik sekali. Dia adalah orang yang pendiam tidak banyak kata di setiap harinya yang dia keluarkan dari bibirnya tersebut, kecuali dengan teman satu kamarnya yaitu bernama didi. Sifat pipit sangat berbeda sekali denganku yang suka bicara kesana kemari tak tahu arah, tapi sifat pipit yang kata orang bias melengkapi perbedaan kami. Menurut teman-teman ku kami adalah pasangan yang serasi, dilihat dari berbagai sudut mungkin aku merasa biasa saja tapi mungkin karena kedekatan kami yang selalu bersama di saat berangkat dan pulang kuliah yang bisa di katakan romantis itu yang membuat teman-teman ku iri akan hubungan kami.

Hubungan kami berjalan baik selama 3 bulan sampai pada akhirnya aku mengetahui bahwa pipit mempunyai mantan kekasih yang sekarang kuliah di salah satu universutas kedokteran di bandung. Pikir ku hebat sekali pipit punya mantan pacar yang sekarang kuliah di jurusan kedokteran di bandung, sampai pada akhirnya aku yang unya sifat ingin tahu alias kepo bertanya sama pipit,

“kamu kok bias punya mantan di bandung?”

“iya dulu dia temen SMA ku, sekarang kuliah di bandung.”

Aku masih pengen banyak Tanya,

“ohhh, jadi itu mantan waktu SMA?”

“enggak sih, putusnya waktu kuliah semester 1 kalo nggak salah.”

Aku malah jadi heran “la terus? Kenapa putus?”

Tanpa heran pipit selalu menjawab pertanyyank

“dulu itu ceritanya kami LDR, dia kuliah di bandung dan aku di semarang awalnya sih baik-baik aja tapi setelah sekian lama mungkin dia jenuh karena LDR jadi dia minta putus.”

Aku langsung kaget mendengar cerita dari pipit

“semudah itu dia minta putus sama kamu?”

“iya, mau gimana lagi? Dulu sih sering banget SMS tapi yaa lama kelamaan jadi jarang SMS, bales SMS juga Cuma dikit-dikit.”

“terus alasan dia buat mutusin kamu apa?”

“dia bilangnya sih pengen focus kuliah gitu.”

“terus kamu percaya aja gitu?”

“dia pengennya kayak gitu, aku mesti gimana? Yaudah aku turutin aja maunya dia.”

“kasihan banget yaa kamu.”

“padahal dulu setiap pulang dari bandung aku pasti jemput dia dari jarak rumahku sampe stasiun kereta itu hamper satu jam perjalanan dan aku nggak pernah ngeluh akan semua itu.”

“kamu hebat banget yaa.”

Aku masih terheran-heran sama cerita dari pipit tadi

“terus sekarang kabar mantan kamu gimana? Masih sering SMS?”

“kadang sih, terakhir dia SMS katanya nyesel banget udah mutusin aku.”

“maksutnya dia nyesel setelah tahu kamu udah punya pacar lagi?”

“ya mungkin kayak gitu.”
dalam hati aku rasanya pengen tahu secantik apa sih mantan pipit sampe bisa kayak gitu,

“tapi sekarang kamu masih suka sama mantan kamu?” tanyaku belum berhenti

“ ya enggak dong sayang, masa iya aku masih suka sama mantan aku kan sekarang udah ada kamu yang selalu nemenin aku.”

Kata pipit menenangkan ku

“tapi aku penasaran pengen tahu kayak apa mantan mu itu.”

Kemudian pipit berkata “buka aja facebook ku, nanti disana pasti ada.”

Sepulang dari aku bertemu pipit, aku langsung buka facebook dan melihat mantan pipit rasanya perempuan itu biasa aja, ya memang cantik aku akui pintar mungkin yaa karena kuliahnya aja di kedokteran di bandung di bandingkan denganku yang hanya kuliah di semarang. Namanya lala, ya mantan dari pipit itu bernama lala dia cantik, tinggi berkulit sawo matang dan yang jelas lala masih suka dengan pipit yang sekarang sudah pacaran denganku, mungkin nama lainnya Cinta Lama Bersemi Kembali.

Liburan semester pun tiba memasuki semester 3 dari perkuliahan ku, aku dan pipit untuk sementara waktu tidak bertemu karena kami pulang ke kampong masing-masing. Suatu ketika pipit bilang bahwa dia sama teman-temannya sedang pergi jalan-jalan ke salah satu tempat wisata sebut saja “Dieng”. Karena aku tahu pipit orang yang jujur maka aku percaya saja dengan apa yang dia katakana, setelah beberapa hari aku melihat facebook, setelah aku melihat beranda ada postingan foto yang menandai pipit dengan mantannya, dan setelah itu aku tahu bahwa kemarin pipit pergi bersama teman-temannya ke Dieng bersama mantannya yang bernama lala, dan yang paling aku bikin kesel adalah foto itu kelihatan banget lala lagi gandeng tangan pipit meskipun dia juga gandeng temennya tapi sama aja dia gandeng tangan pipit deket banget yang jelas-jelas pipit udah punya pacar yaitu aku. Pada saat itu lah aku merasa bahwa pipit udah bohong sama aku dan pada saat itu juga aku langsung bertanya sama pipit.

“itu maksud foto di facebook apaan?” isi SMS yang aku kirim ke pipit.

“foto yang mana si say?”

“yang mana? Coba lihat facebook mu!” kataku masih geram

“yaudah habis ini aku lihat sayang.”

Beberapa lama aku menunggu balesan SMS dari pipit

“itu foto waktu aku pergi sama temen-temenku ke Dieng sayang.”

“la itu foto apaan? Kenapa mantan kamu mesti gandeng-gandeng segala? Kamu juga nggak bilang kalo kamu pergi sama mantan kamu kan!” aku mulai marah di SMS

“aku juga nggak tau kalo ternyata mantan aku itu ikut say, aku juga nggak tau kenapa dia gandeng aku waktu kita foto-foto.”

“terus kamu mau aja di gandeng kayak gitu!”

“la gimana? Orang dia yang gandeng bukan aku lagian aku juga nggak ngapa-ngapain sama dia.”

“jangan-jangan kamu juga boncengan sama dia?” aku masih pengen marah

“nggak sayang, aku nggak boncengan sama dia aku sendirian dia boncengan sama temen ku, awalnya sih dia mau bonceng aku tapi aku nggak mau terus dia bonceng temenku.”

“tuhh kan mantan kamu jelas masih suka banget sama kamu!”

“iya tapi aku udah nggak suka sama dia sayang.” Kata pipit masih membela diri

“yang jelas kamu udah bohongin aku!”

“bohong yang mana?”

“kamu masih nanya bohong yang mana? Kamu katanya pergi sama teman-teman kamu tapi ternyata kamu juga pergi sama mantan kamu!”

“aku kan udah bilang aku nggak tau kalo dia juga ikut ke Dieng say.”

“udah lah aku kecewa sama kamu, kamu nggak bisa di percaya.”

“yaudah aku minta maaf ya sayang.”

Aku malas membalas SMS terakhir dari pipit

“aku janji nggak akan ngulangin itu lagi sayang.” Isi SMS pipit lagi

Aku masih membiarkan Handphone ku tergeletak, mulai saat itu lah ada rasa malas ketika bertemu maupun menerima SMS dari pipit.

Sampai pada akhirnya libur semester selesai dan kami mulai masuk kuliah lagi, pada saat itu aku masih meras kesal dengan pipit dengan tragedi postingan foto yang menjengkelkan dunia hidup ku itu.

Pernah suatu ketika pipit mengajak ku makan diluar dengan malas dan rasa kasihan aku hanya mengiyakan ajakan pipit itu, seperti biasa pipit menjemputku lalu kami pergi ke suatu tempat makan,

“kamu kenapa kok diem?” Tanya pipit

“nggak papa kok cuma lagi males ngomong mungkin.”

“ohh yaudah itu makannya di makan dong.”

“iyaa habis ini aku makan kok.”

Sifat yang seperti itu udah berjalan kurang lebih satu minggu dan aku mulai jenuh dengan hubungan yang hampir 4 bulan aku jalanin sama pipit, pipit bukan orang yang humoris yang bisa mencairkan suasana disaat aku lagi mulai bête, jenuh atau malas dia nggak bisa ngebuat aku tersenyum atau setidaknya membuat hal-hal yang bikin aku ketawa, sempat terlintas aku berpikir untuk mengakhiri hubunganku dengan pipit sampai aku curhat dengan sahabat ku bernama Riri.

“Ri, aku udah bosen deh sama pipit.”

“la kenapa? Bukannya pipit itu baik banget? Kalian juga udah cocok kok kelihatan romantis.” Kata riri meyakinkan ku

“iya tapi kan kamu tahu sendiri, kejadian yang kemarin aku berantem gara-gara mantannya aku masih nggak bisa terima dengan semua itu, terus sifat pipit yang nggak bisa di ajak humor itu aku nggak suka banget ri, aku itu pengennya cowok yang humoris yang bisa ngebuat tertawa, bisa nuntun aku ngasih tau biar jadi wanita soleh gitu.”

“emang pipit nggak pernah kayak gitu yaa?”

“nggak pernah lah, kalo nggak aku yang ngomong pasti dia diem ngomong aja seperlunya kalo nggak gitu yang di omongin pasti basi banget nggak bisa buat lucu-lucuan.”

“iya aku ngerti apa yang kamu pengenin.”

“terus gimana dong ri?”

“pipit itu baik banget loh, masa iya kamu mau mutusin dia?”

“la terus mau gimana lagi? Aku udah bosen, lagian aku juga nggak yakin kalo dia bisa jadi imam yang cocok buat aku.”

“yaudah putusin aja kalo kamu nggak suka, tapi kamu mau pakai alasan apa buat mutusin dia?”

“la itu yang lagi aku pikirin ri.”

Setelah itu aku berpikir mencari cara bagaimana caranya untuk memutuskan hubungan ku dengan pipit yang aku rasa berjalan monoton.

Dan saat itu ada postingan foto di facebook yang menandai aku dan pipit tapi yang memposting adalah teman pipit, aku heran sekaligus kaget kenapa ada teman pipit yang punya fotoku berdua sama pipit, langsung aja kau Tanya sama pipit.

“ini siapa kok bisa punya fotoku sama kamu?”

“ohh itu temenku say,”

“la kok punya fotoku sama kamu? Apa temenmu ini juga suka sama kamu?” celetuk ku nggak berhenti.

“enggak sayang itu kemarin handphone ku dibenerin sama mas nya aku nggak tau kalo dia ambil foto itu di hape ku.”

“la kamu kok diem aja dia buka-buka foto mu, seharusnya dia ngehargai privasi orang dong!” aku mulai geram dan memulai topic kemarahan ku.

“aku juga nggak tau say kenapa dia ambil foto itu, aku juga nggak tau kenapa dia posting foto itu say.”

“seharusnya kamu marah dong sama temenmu nggak usah buka-buka privasi orang, itu kan foto aku seenaknya aja di share ke facebok tanpa ijin yang punya.”

“iya nanti aku bilang ke temen ku itu deh biar di hapus fotonya.”

“udah lah, aku capek berantem mulu.”

“kok gitu sih ngomongnya.” Pipit bicara dengan nada halus

“pit, kayanya hubungan kita sampai sini aja deh, aku nggak suka sama kelakuan temen-temen kamu itu, aku juga pengen fokus kuliah dulu nggak mau pacaran dulu.”

“kenapa kayak gitu?” Tanya pipit dengan wajah yang mulai sedih.

“ya iya, aku nggak suka dengan mantan kamu dengan sifat temen-temen kamu yang seenaknya kayak gitu lagi pula mantan kamu masih suka kan sama kamu.”

“tapi aku udah nggak suka sama mantan aku.” Kata pipit membela diri masih berusaha menolak keputusanku

“tapi aku nggak bisa pit meneruskan hubungan ini, aku udah capek.”

“yaudah kalo itu mau kamu, aku masih sayang sama kamu ci.”

“maafin aku pit, kamu orang yang baik mungkin mantan kamu lebih baik dari pada aku.”

Aku bergegas meninggalkan pipit yang masih tertegun menundukkan kepalanya, sedangkan aku berlari meninggalkan pipit dengan air mata yang menetes perlahan.

Maafkan aku pipit, aku nggak bisa maksain hati aku buat suka sama kamu, aku memang suka sama kamu tapi perasaan ini nggak bisa bertahan lama, semenjak itu aku selalu mendengar kabar pipit bahwa dia sedih setelah putusnya aku dengan dia, aku mencoba tidak peduli dengan kabar itu tapi apa daya aku tidak mekasakan persaanku untuk terus menyukainya, cinta tidak hanya berasal dari rasa kasihan, tidak dengan rasa iba, cinta tidak membutuhkan alasan mengapa aku mencintainya, semoga ada orang yang benar tulus mencintaimu, semoga kamu mendapat pengganti yang lebih baik dari aku pipit

 

Biodata Penulis


Nama              : Rahma Noor Alifah

TTL                 : Kudus, 30 Oktober 1993

Alamat            : Jl. Kudus-Purwodadi KM 13 RT 03

RW 01

NIM                : 1401411052

No.Hp             : 085727456967

FB                   : Rahma Ama SLalu Biintang

Tulisan Terbit dalam Antologi Buku : Goresan Pena Melukis Rasa 
terbit di Afsoh Publisher 2013
Peserta Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku untuk Mahasiswa PGSD Unnes

Isi Buku 
Hati Kardus Untuk Omen
Kasih Tak Pudar 
Keabadian Cinta Tuk Selamanya
Jarak  
Lorong Impian si Kecil Clara 
Ceritaku Ceritamu 
CInta Tidak Harus dipaksa  
Kupilih Jalan Terbaik 
Malam ini ...

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top