-->

Belajar Menulis : Awal Kuliah di UNNES

| 6:04 AM |

Pertama kali kuliah di UNNES rasanya seperti mimpi. Awalnya hanya coba-coba,eeh…malahan diterima. Rasanya campur aduk. Senang, bingung, tidak menyangkaaa….

Hari demi hari, bulan demi bulan aku jalani. Begitu banyak cerita yang pastinya tak terlupakan entah itu menyenangkan, meneteskan air mata, hingga mengesankan. Semuanya terkemas rapi dalam memori kecilku. 

Memang sih pengalaman pertama bagiku sangat mencucurkan air mata. Kalau teringat akan hal itu rasanya air mata tak bisa untuk ku bendung. Maklum pertama kenal dengan teman berbeda daerah, pasti belum tahu karakter dan sifatnya masing-masing. 

Pengalaman ini di awali ketika sore hari sedang duduk santai temanku ada yang menawari makanan kepadaku. Pada waktu itu sebelahku ada temanku, namanya Intan. Dia tidak mengambil makanannya terus duduk di kursi yang tadinya duduk di lantai. Akupun ikut seperti dia. Eeehh…malahan apa yang terjadi makanan yang tadinya ditaruh di lantai cepat-cepat diambil oleh temanku yang menawari makanan. Akupun bingung. 

Tak lama setelah itu dia menangis. Aku dan teman-temanku bingung mengapa menangis. Akhirnya salah satu temanku, Sinta namanya bertanya.

Sinta :” Lia (namanya), mengapa menangis?”

Lia    : “ Ga ada apa-apa ko….”

Sinta : “Alah bohong, pasti ada apa-apa. Ini pasti gara-gara aku ya?”

Lia    : “ Bukan ko,kamu ga salah.”

Intan : “ Jangan-jangan aku, la?”

Lia     : “  Bukan…”

Tinggal aku yang bertanya. Perasaanku sudah tidak enak jangan-jangan ini gara-gara aku. Waduuhh…

Aku  : “La, jangan-jangan aku ya?”

Mulanya dia menjawabnya bukan salahku. Setelah Sinta bilang jika ada masalah diantara kita untuk segera diselesaikan biar tidak berlarut-larut. Disini kita tinggal bersama selama dua semester jadinya saling merasakan. Baru mau berbicara yang sebernarnya.

Lia   : “Ani (namaku), ditawari makanan tidak mau,malahan pergi.”(sambil menangis)

Mendengar hal tersebut, jantungku langsung berdetak keras. Perasaanku tak karuan. Baru kali ini aku bertemu dengan teman yang seperti itu. Secepatnya aku minta maaf kepada dia. 

Ya Alloh mengapa aku baru saja mengenalnya langsung menyakiti hati dia. Rasa bersalahpun terus terbayang diotakku. Ditambah lagi jauh dari orang tua. Rasanya seperti dipenjara. Biasanya kalau ada masalah langsung aku langsung curahkan kepada ibu tetapi waktu itu aku pendam sendiri. Tidak ada sosok yang selalu menenangkan hati dikala sedih. 

Semenjak kejadian tersebut, dia selalu menjauh, tidak mau bicara, jika mau berangkat kuliah selalu ditinggal. Sedih sekali rasanya….

Aku cerita kepada ibuku, teman pasti ada yang baik dan ada yang seperti itu. Jangan dipikirkan terpenting kamu disitu mencari ilmu. Biarkan temanmu seperti itu. Benar apa yang dikatakan oleh guruku jika sifatku masih seperti ini pemalu tidak banyak temannya. Ya Alloh ini benar-benar ujian bagiku untuk melatih kesabaran. 

Sering kali jika solat teringat hal tersebut inginnya air mata terus mengalir. Kuatkanlah hati hambamu ini Ya Alloh semoga dikemudian hari Engkau membukakan pintu hatinya. Aku terus bertahan dan bertahan menghadapi hal tersebut. Mungkin ini pembelajaran untukku agar aku menjadi dewasa. Aku tidak mendendam atau membencinya tetapi ku ambil segi positifnya dari kejadian tersebut. 


Tulisan ini terbit dalam Antologi Buku : Kesaksian Kerikil hidup 
terbit di Afsoh Publisher - 2013
Penulis merupakan peserta workshop menulis dan menerbitkan Buku - Afsoh Publisher

Tulisan Lain dalam Antologi ini :
Keadilan untuk pohon randu





Biodata

Nama : Alif Nurhidayah.

Alamat rumah : Tanjungsari, RT 01/01, Petanahan, Kebumen.

Alamat kost : Asrama PGSD.

Facebook : Alif Nurhidayah.

Nomor hp : 085291910669. 


GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top