-->

2050 MDPL

| 9:20 AM |

 Yunia Tiara Riski

Ketika Kamu merasa jalan kepuncak terlalu berat

Istirahatlah!

Itu hanya menandakan kakimu telah lelah melangkah

dan setelah kesiapan sudah kembali

Berdirilah!

Lanjutkan pendakianmu!”

 

                                                                                               

Minggu Gembira. Sesuai jargon daily ku hari itu benar-benar gembira. Jam dinding kos masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Alarm HP tak hentinya berdering bermaksud membangunkanku. Dan 3 panggilan tak terjawab dari Eduweiss tertulis di history called ponselku. Ternyata seperti biasa Eduweiss hendak membangunkanku, memastikan apakah aku sudah bangun dan bersiap dengan agenda pergi bersamanya hari ini. Tentu saja aku siap. Dua puluh menit sebelum alarm berbunyi dan sebelum Eduweiss menenelponku aku telah terjaga untuk menyiapkan bekal petualangan bersama orang tercintaku. Semangat sekali J .Ya, memang harus semangat karena hari itu hari kedua di usia ke-23 orang terkasihku, sebut saja Eduweiss. Iya aku menyebutnya Eduweiss berasal dari Edu berarti pendidikan. Mengapa pendidikan? Karena bagiku ia adalah sosok yang menginspirasi, banyak pelajaran yang kudapat darinya. Pantas, jika kuanggap sebagai tokoh pendidikan dalam kamus hidupku. Kemudian Weiss berasal dari Edelweiss berarti bunga abadi (dan semoga menjadi bunga abadi dalam hati dan hidupku, Amiin)

Dua hari yang lalu aku belum memberi kado special untuknya, hanya ucapan selamat ulang tahun dan doa yang kuucap untuknya melalui telepon. Jadi, inilah saat yang tepat untuk memberi kado special Eduweiss. Masakan special nasi rica-rica resep dari Ibuku dan sweet project yang sudah aku persiapkan menjadi kado spesial yang ku berikan untukknya. Berharap Eduweiss suka. J

Pukul 3.35 a.m kendaraan bernomor polisi H 5436 YE mengantar pemiliknya sampai di depan kostku.

“Selamat pagi Edelweiss. Sudah siap berpetualang hari ini?” Sapa Eduweiss kepadaku.

“Selamat pagi Eduweiss. Pasti aku Siap. Mari kita berpetualang. Mari membuat cerita mengesankan” jawabku tegas, tanpa meninggalkan khas ceriaku.

* * *

“Masih ingat nggak, dulu kita foto disini”. kataku sambil menunjukkan hamparan hijau kebun teh di kaki gunung Ungaran. Tempat yang tak banyak berubah seperti beberapa bulan yang lalu saat aku dan Eduweis pergi ke tempat ini.

“Tentu ingat. Rujak cinta, senyum sayang, semangat berpetualang selalu kuingat”. balasnya tersenyum

“Kalau dulu kita baru sampai Promasan, base camp pertama gunung Ungaran, di barak milik Biyung dan Pak Min. Bagaimana kalau hari ini kita tuntaskan sampai puncak? Sanggup?” lanjutnya menantangku.

“Puncak?” jawabku sedikit kaget.

“Jadi... perjalanan 2 bulan yang lalu itu kita belum sampai puncak? so lame gerutuku dalam hati

Membutuhkan waktu yang cukup lama bagiku untuk meng-acc tantangan dari Eduweiss

“emmm, baiklah! Ayo” jawabku

* * *

Adrenalinku teruji, buah konsekuensi perkataanku menyanggupi tantangan Eduweis mencapai puncak 2050 MDPL. Hari itu kali pertama aku berjalan jauh dan dan mencapai ketinggian yang paling tinggi dari tempat-tempat yang pernah aku kunjung kota Lunpia ini. Keringat dingin, nafas sesak, tenggorokan kering kali ini bukan ciri panas dalam yang biasa kita rasa. Melainkan konsekuensi yang wajib dirasa untuk para pemula pecinta alam sepertiku saat itu.

            “Aku sudah nggak kuat mas. Kaki ini sudah nggak bersahabat. Maaf Aku mengecewakanmu”. Kataku pesimis mengeluh karena tak kunjung sampai puncak

            “Sabar dek, aku yakin dikau bisa. Sebentar lagi kok, dibalik bukit itu puncaknya”.

* * *

“Mana puncaknya mas? Kita sudah melewati satu bukit lho”. Tagihku kepada Eduweiss

Iya dibalik bukit itu, bukit itu dan itu. Aku kan tadi belum selesai ngomong”. Jawabnya tersenyum

“ih kok gitu sih? Ahg... gak seru! ngomongnya gak tuntas”. rengekku

“Istirahat dulu dek, ketika kamu merasa jalan kepuncak terlalu berat, Istirahatlah! Itu hanya menandakan kakimu telah lelah melangkah dan setelah kesiapan sudah kembali. Berdirilah! Lanjutkan pendakianmu”

“Mau minum apa? Air mineral atau ionic? Tanyanya melayaniku.

“Ayo... kita buat video saja. Ayo dek ambil posisi” alibinya agar aku lupa dengan rasa capek yang sedari tadi menjajahku.

“Perjalanan hidup itu seperti mendaki gunung banyak rintangan, banyak tantangan. Namun ketika sampai puncaknya, Subhanalloh Indah sekali” ungkap Eduweiss saat mulai merekam, mengabadikan momen itu.

Selesai membuat video dua manusia ini, bak kapten dan wakil kapten (aku dan Eduweiss) melanjut pendakian, disusul 70 sahabat tangguh dari salah satu universitas di Semarang.

 “lalalalala” senandungku

“Sudah ceria lagi kan setelah istirahat? Nah gitu dek harus semangat mencapai puncak. Lihatlah dibelakang kita ada 70 orang yang juga ingin mencapai puncak, jika dikau tidak bersemangat, dan nantinya diselip 70 orang tersebut, dikau sampai puncaknya kapan? Saat magrip, mau? celotehnya.

“Mas berharap, kita segera sampai puncak tanpa harus didahului mereka. Berhentilah mengeluh. Ayo percepat langkah kita” ujarnya penuh semangat

Seperti ada angin yang menyejukkan suasana siang itu, seperti ada oase di padang gurun. Cegluk terdengar suara ceglukan cukup keras saat aku menelan ludahku, berusaha mencerna baik-naik kata-kata semangat optimisme yang masih tergiang di daun telingaku. Kata-kata itu masih menggema seperti diteriakkan di antara tebing yang curam.

“Harapan itu ibarat jalan setapak di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Tapi, jika kamu berusaha menelusurinya, pasti jalan itu akan terbuka. Percayalah itu karena rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan, kita tinggal mematuhinya” ungkapnya tadi

“woi.., mbak, mas.. ayo buruan, sebentar lagi puncak.. bergegaslah sebelum hari gelap! “ teriak salah seorang dari rombongan itu.

Seketika itu kakiku berjalan lebih cepat dari biasanya, leher ini lebih sering melihat keatas, lapisan tekat berlipat lebih kuat dari baja, hatiku bekerja lebih keras dari biasanya serta mulutku selalu berdoa semoga segera sampai puncak. Bukan bermaksud menyamai atau menandingi film petualang 5cm yang berhasil membuat bioskop kebanjiran penonton, tapi itulah adanya yang terjadi saat itu.

* * *

“Subhanalloh indah sekali alam ini. Maka nikmat Tuhanmu manakah yg engkau dustakan”. Ungkapku terkagum-kagum

Tidak akan pernah habis kalimat-kalimat indah keluar dari mulut dan pena untuk mengagumi alam dan penciptaNya. Subhanalloh”. Ungkap Eduweiss

“Terima Kasih mas telah membawaku ke tempat Indah ini, membimbingku untuk lebih bersyukur terhadap semua karunia-Nya. Selamat ulang tahun. Semoga kebaikan selalu menyertaimu. O..iya Aku membuat buku tentang kita, sederhana, semoga engkau suka”. Kataku seraya memberi novel buatanku.

“Terima Kasih dek, apa ini dek? Tanyanya seketika

“subbahanallah, novel kisah perjalanan cinta kita? “ ungkapnya terkagum-kagum

“ berapa lama kau habiskan untuk menuli semua ini?” tanyanya lagi

“mas tahu kamu punya harapan besar melalui novel ini... berharap aku bisa mengenang semua kisah perjalanan cinta kita, sampai kelak kisah ini berlalu, terimakasih sayangku” ungkapnya menatapku begitu dalam.

Terkadang, kita bisa menjadi sosok yang selama ini tak pernah terpikirkan oleh diri kita sendiri. Sesosok orang  yang tangguh, yang belum pernah terpikirkan. Seperti halnya hari ini, tak pernah terpikir bisa mencapai puncak 2050 mdpl, juga tak pernah terpikir bisa menulis sebuah novel cintaku dan kini membawanya ke tempat menakjubkan ini. Sangat romantis.

Subhanalloh J kekuatan dan keajaiban harapan mengantarkanku sampai titik tertinggi kota ini. Benar. Ibarat sebuah kendaraan, harapan adalah bahan bakar dalam kehidupan kita. Kendaraan akan mati dan tidak bisa berjalan normal jika bahan bakarnya habis, begitupun kita jika kehilangan sebuah harapan. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menyusuri dunia.  All right, this is the magic of wishful. Adalagi yang mengatakan semakin besar harapan seseorang, maka semakin kuatlah keyakinannya dalam melangkah. Percayalah itu! J

 



ANTOLOGI CERPEN : wishful story
PRAKTEK MENULIS WORKSHOP AFSOH PUBLISHER 2013
MAHASISWA UNNES

DAFTAR ISI ANTOLOGI :


 

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top