-->

MEMBANGUN KOMPETENSI PENULIS DENGAN LATIHAN

| 2:19 PM |

 

COKLAT (Celotehan Nikmat lewat Tulisan)

Jika orang bertanya siapa kekasihku yang sesungguhnya? Aku pun akan menjawab, “Pena”. Pena ini menjadikankan jiwaku yang mati menjadi lebih berarti. Sebagai tunas akan kebangkitan diri ini dari sebuah keterpurukan. Jiwa yang hampir saja layu, karena terjepit dalam sebuah jurang kegagalan yang paling berpengaruh semasa hidupku. Ketika nasib sedang tak dapat lagi berkompromi dengan keinginan dan perjuangan yang tak ada lagi nilainya, saat itulah aku merasakan benar-benar terjatuh dan tenggelam dalam tangis. Tak ada jiwa yang dapat mendengar akan rintihan kepedihan, karena sahabat-sahabatku yang telah pergi menjauh dari kehidupanku kecuali penaku.

Impianku yang telah lama aku gambarkan dalam dunia imajinasiku, aku tuangkan lewat tutur kata. Pena ini menjadi saksi betapa aku menginginkan KULIAH. Aku iri pada sahabat-sahabatku yang pergi merantau ke kota tetengga menimba ilmu demi gelar sarjana. Saat itu aku tuangkan segala amarah dan curhatan-curhatanku melalui pena ini. Memang karena aku yang tak memiliki banyak sahabat yang masih setia mendengar curahan hatiku.

Menulis cerpen menjadi kegiatan keseharianku dahulu saat masih berstatus pengangguran. Pena ini menari merangkai kata demi kata menghibur dan memberi warna tersendiri dalam jiwaku. Lewat tulisan-tulisan ini, aku memotivasi diri, memberikan ATP (energi) bagi sel-sel di tubuhku, penyembuh luka, dan pengisi ruang hati yang rapuh.

Pena, sahabatku yang paling setia, selalu menghiburku di kala sedih maupun senang. Dalam tulisan kami berkencan memadu kasih dalam sebuah karya. Dan pena ini pula yang telah menyuntik semangatku untuk terus berjuang demi status mahasiswa. Hingga akhirnya impian yang dahulu aku tulis, kini menjadi nyata.

Statusku telah berubah menjadi mahasiswa yang menimba ilmu di kota seberang. Walau kesibukan kuliah dan praktikum yang kini membayangi hidupku, namun rasanya sungguh aku tak bisa melupakan ‘menulis’ yang merupakan hobiku dulu. Aku akan terus menulis memberikan warna akan kehidupan dunia ini, menjadikan hidupku secantik pelangi, karena lewat celotehan ini yang menjadikan nikmat dalam hidupku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menulis Bagiku

Oleh: Anisa Dina Rahmayanti

 

Kita bersekolah untuk bisa baca tulis, itulah kata sebagian orang-orang tua zaman dulu. Tetapi, kakek dan nenek juga berpesan agar kita tidak hanya pandai baca tulis saja, namun juga pandai dalam ilmu hidup. Menulis saat itu digunakan untuk mencatat apa yang dipelajari di sekolah agar bisa kembali dipelajari di rumah. Karena manfaat menulis salah satunya yaitu untuk mendokumentasikan ilmu atau pengetahuan.

Bagiku, menulis dapat merangsang otak untuk berpikir, karena tidak akan ada tulisan bila di otak tidak ada yang bisa dituliskan. Isi otak seseorang bisa tampak dari tulisannya. Bila isinya biasa-biasa saja, maka tulisannya pun akan monoton dan biasa saja, bahkan buruk. Sehingga mau tidak mau, bila ingin mahir menulis harus mau banyak membaca, mulai dari membaca buku hingga membaca suasana. Tidak hanya membaca, kemampuan menulis akan selalu meningkat bila kebiasaan menulis selalu diasah.

Tulisan bisa mempengaruhi pemikiran atau persepsi seseorang tentang suatu isu. Isu yang sama bisa mempunyai efek yang berbeda bila dituliskan dengan cara atau bahasa yang berbeda. Di sinilah letak keunikan dari sebuah tulisan, bisa membawa pembaca menuju yang diinginkan oleh penulisnya. Namun untuk bisa menulis dengan kualitas tersebut membutuhkan banyak latihan dan belajar.

Manfaat menulis bagi tiap orang berbeda-beda. Ada yang menulis untuk mengungkapkan rasa, mempengaruhi pemikiran seseorang, menyampaikan ide, mendokumentasikan pengetahuan, ataupun mendapatkan uang. Kita bisa menyampaikan suatu hal kepada orang yang tidak pernah bertemu dengan kita melalui tulisan. Bahkan tulisan akan tetap ada meski kita telah tiada dan orang-orang setelah kita pun tetap bisa menyaksikannya.

Menulis bisa menjadi usaha yang tidak membutuhkan banyak biaya berupa uang. Menulis hanya membutuhkan pikiran, selembar kertas, dan pena. Siapa pun bisa menulis, di mana pun, dan kapan pun.

Menurutku, menulis dengan hati mempunyai efek yang berbeda dengan menulis tanpa unsur hati. Suasana hati penulis bisa tampak dari tulisannya. Menulis adalah salah satu wujud syukur kita terhadap nikmat buah pikiran. Bagi sebagian orang, menulis adalah merupakan napas bagi mereka, karena dengan tulisan mereka bisa berjuang. Saat ini berperang bukan dengan senjata berat, namun berperang dengan menulis yang dapat membangun opini dan mempengaruhi pemikiran seseorang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sungguh Tega, Menulis telah Menjerumuskan Saya

 

Oleh: Saiful Mustofa

 

Sebelum anda membaca tulisan ini lebih jauh, perlu saya ingatkan bahwa tulisan ini nanti sepenuhnya akan bercerita tentang tindakan asusila saya selama ini, sekaligus kekonyolan yang baru saya sadari ketika tulisan ini selesai  saya buat. Saya benar-benar jengkel dengan dunia menulis, dunia yang telah menjadi candu dan seakan telah menjerumuskan ke lembah pemuasan nafsu. Dan lebih tega lagi, menulis telah memaksa saya untuk terus berkarya, tanpa menanyai lebih dahulu apakah saya mampu. Itu belum apa-apa, dampak yang ditimbulkan dari pemakasaan itu akhirnya membuat saya sering kali berhasrat bercumbu dengan buku.

Padahal, awalnya saya tak tega jika harus mencumbui buku, bahkan untuk menyentuh kulit luarnya yang mulus itu saja enggan. Tapi begitu hanyut dalam pengaruh hipnotis menulis, maka hasrat saya untuk mencumbui buku-buku semakin menggebu. Bahkan hampir setiap hari selalu saya paksa untuk memusakan nafsu. Maaf, jika perilaku saya itu tidak manusiawi. Sungguh itu di luar kendali saya.

Suatu ketika, saya putuskan untuk tidak menulis lagi, tapi akhirnya tetap tak bisa. Tidak hanya itu, yang tak kalah menjengkelkan, menulis juga memaksa saya untuk semakin banyak berganti-ganti pasangan bercumbu. Haram katanya jika hanya menyetubuhi satu buku. Saya semakin tidak kuat saja menerima cobaan itu, sebab hal demikian sudah sangat betentangan dengan ajaran yang selama ini saya yakini. Ajaran tentang kesetiaan dan menjaga kepercayaan. Saya benar-benar tidak bisa membayangankan betapa besar dosa saya kelak ketika nafsu birahi saya umbar ke sana-sini.

Sekali lagi, anda pasti akan lebih tercengang kalau pemaksaan itu telah menyebabkan saya menjadi orang yang gemar berburu buku perawan yang masih orisinil dan belum dijamah oleh orang lain. Dan tragisnya, saya telah terjangkit virus menjijikkan yang bernama haus pengetahuan. Entah berapa buku yang telah saya kangkangi.

Berbagai cara saya lakukan untuk mendapatkan buku-buku perawan yang masih muda, bahkan sebagian besar saya lakukan dengan membeli, meski harus merogoh kocek cukup dalam. Sebab tidaklah mudah untuk mendapatkan buku perawan yang masih muda dan bahenol isinya. Untungnya, orangtua saya tidak tahu kalau sebagian uang semesteran itu saya gunakan untuk memuaskan nafsu dengan membeli buku-buku tambun itu. 

Iya, itulah kisah perilaku menyimpang saya selama ini yang memang tak banyak orang mengetahui.Tapi tolong jangan salahkan saya sepenuhnya, jujur saya mencabuli buku-buku itu karena menulislah yang memaksa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana dan Jika

Oleh: Anis Swedia

Menulis, entah sejak kapan aku mulai mengenal dunia ini. Namun, ada sisi lain di hatiku saat aku menuangkan kata-kata yang hanya terkungkung dalam imajinasi diri. Dari membaca buku, hingga belajar cara menulis yang baik membuatku sedikit demi sedikit mengerti akan apa arti karya dan manfaat. Ada dua hal kata yang selalu hidup di benakku yakni, “Bagaimana dan Jika” saat aku menulis.

Kata pertama, yakni “Bagaimana” yang selalu terpikir olehku. Selalu bermunculan pertanyaan ini, “Bagaimana cara menulis yang baik?”, “Bagaimana caranya agar tulisan mampu menggugah pembaca untuk tertarik larut dalam dunia imajinasi kita?”

 Kata kedua, yakni “Jika”. Setiap kali aku menulis ataupun tidak menulis, selalu ada kata “Jika” di pikiranku. Seperti, “Jika aku tidak menulis, apa yang akan kupersembahkan kepada dunia pendidikanku?”, “Jika aku tidak menulis, apa yang akan aku persembahkan kepada perjuangan ibu dan ayahku?”, “Dan jika aku tidak mencoba untuk menulis dengan baik, apa yang akan aku sumbangkan kepada negaraku?”

            Dua keajaiban dalam dua kata itu mampu menggugahku untuk meraih mimpi yang dahulu hanya hidup dalam angan-angan saja. Saat menulis, entah mengapa aku merasa bahwa aku akan menemukan masa depanku.  Bagaimana dan Jika, dua kata itu mampu membawaku menuju penemuan jati diri.

            Setiap kali menulis dua kata itu, selalu bersanding manis dengan alam imajinasiku yang menggugahku untuk menghasilkan karya yang baik. Keajaiban menulis yang lain adalah aku mampu membuat ibuku tersenyum bangga kepadaku. Dia bilang, “Ibunya tidak bisa menulis, anaknya semoga menjadi seorang penulis.” Yah, menulis. Dengan menulis aku ingin menceritakan bahwa aku menulis kisah yang baik yang diajarkan ibu kepadaku lewat kesabarannya mengajariku tentang dunia pendidikan yang tak pernah ia kenyam.

            “Bagaimana dan Jika,” dua kata yang penuh keajaiban yang memberi rona kepada masa depanku, yang memberi semangat setiap kali aku menulis. Setiap kali menulis aku merasa ada roh yang hidup yang selama ini tersembunyi dalam kemalasanku.

***

Biodata Penulis

Nama saya Anis Swidiastuti, saya lebih dikenal dengan panggilan Anisa Swedia atau Anis Swedia. Saya tinggal dan lahir di Malang, tepatnya pada tanggal 21 Agustus 1990. Saya bertempat di rumah orangtua saya di Jl. A. Yani No. 337 RT/RW: 02/02 Desa Sumber Porong, Lawang, Malang. Saya anak keempat dari lima bersaudara. SMA N 1 Lawang adalah sekolah terakhir saat saya mengenyam pendidikan di sana dan lulus tahun 2008. Saat ini saya bekerja sebagai operator di salah satu SPBU di Malang. Saya dapat dihubungi di nomor 081945580488 atau lewat FB: Anisa Swedia.

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top