-->

KUMPULAN ARTIKEL MENULIS TERBARU

| 2:21 PM |

 

Tulisan adalah Jiwa Saya

Oleh: Adi Ibnu Khaldun

Sejak SMP saya sudah mulai menulis. Saat itu tulisan saya baru masuk di mading dan majalah sekolah. Di waktu SMP saya pernah beberapa kali melayangkan karya ke redaksi mading dan akhirnya dimuat. Di saat saya SMA, dalam semalam saya menulis cerpen berjudul aku dan anak adam, dan kembali tembus masuk ke majalah sekolah.

Saat itu saya ragu kualitas tulisan saya. Ketika masuk ke majalah dan karya saya terbit, guru saya mengakui karya saya. Walau saat itu editing tulisannya tidak sesuai harapan saya. Minat saya menulis saya teruskan dalam puisi-puisi yang saya nilai sebagai puisi picisan. Namun, beberapa di antaranya diakui teman tulisan saya bagus, padahal selalu saja merasa tulisan saya belum berkualitas.

Selepas SMA, saya vakum dalam dunia tulis menulis khususnya cerpen. Saya pernah beberapa kali ikut pelatihan menulis. Saya pernah mengikuti bedah bukunya Izatul Jannah. Saat itu saya bersua beliau waktu SMA. Sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan beliau lagi dan bisa belajar menulis di bawah arahan beliau.

Satu lagi penulis favorit saya, yaitu Habiburrahman El Sirazi. Saya pernah sekali mengikuti bedah novel beliau. Ada pula keinginan untuk belajar beliau. Tapi tampaknya belum ada waktu. Yang berkesan dari tulisan dari beliau sampai sekarang adalah cerpen di atas sajadah cinta. Rasanya bergetar mengingat cerpen itu.

Dunia menulis, walau sampai sekarang saya vakum, saya merasakan keajaiban sungguh luar biasa. Terkadang sesekali merasakan penat yang luar biasa. Saya bingung bagaimana saya akan mengatasi penat yang tidak jelas asal usulnya. Pernah suatu ketika saya mencoba mengeluarkan apa yang saya rasakan dalam bentuk tulisan.

Perlahan, Alhamdulillah, saya menemukan ketenangan setelah mengungkapkan perasaan hati saya. Serasa semua masalah pergi bersama tinta yang mengering di atas kertas putih. Saya menemukan ketenangan setelah saya menulis. Saya cinta menulis, minat saya adalah menulis. Sekarang saya akan berusaha terus konsisten untuk menulis. Tulisan akan menjadi jiwa saya dan gambaran jiwa saya, karena tulisan mewakili pikiran dan perasaan saya.

***

Biodata Penulis

Adi Ibnu Khaldun adalah nama pena dari Adi Widodo. Tempat tanggal lahir: Banjarnegara, 10 juli 1986. Alamat surat: Luwung RT 01/RW 03, Kecamatan Rakit, Banjarnegara, Jateng 53463. Pendidikan: Prodi Sosiologi Agama pada fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mempunyai hobi membaca dan menulis. E-mail: adi_ibnukhaldun@rocketmail.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika Menulis adalah Cinta

Oleh: Rendra Mochtar Habibie

Apa pun tulisannya, ujungnya adalah kebaikan, selama apa yang kita tulis tak lepas dari nilai-nilai kebajikan dan mengusahakan tulisan kita untuk dapat menuntun pada kebermanfaatan sesama. Ya, semuanya berawal dari kata “menulis” yang ternyata mampu memberikan sebuah energi besar dalam peran kehidupan, yaitu mengubah cara berpikir lalu bersiap untuk melakukan tindakan.

Menulis? Saya memang tak tahu, bahkan tak mengerti dalam kehidupan tentang arti itu. Ya, itu anggapan saya dulu. Sekali lagi, itu dulu, ketika saya belum merasakan kecintaan terhadap dunia tulisan apalagi membaca. Karena yang saya tahu orang bisa menulis karena bisa membaca, apa saja bacaannya. Membaca buku-buku ataupun membaca peristiwa di lingkungan sekitar, lalu menumpahkannya dalam beraneka macam jenis kata.

Lantas saya? Bagi saya, dulu saya membaca saja tak suka, apalagi harus menulis. Sudah pasti sahabat semua juga tahu jawabannya! Ya, saya pasti tidak bisa menulis. Sekali pun bisa, tulisan saya tak mungkin bagus dan biasa-biasa saja.

Nah, kini menurut saya, menulis adalah sebuah petualangan yang berusaha membebaskan diri dan orang lain dari belenggu keterpurukan. Kenyataannya, sebuah tulisan adalah bukti tertulis nyata yang dibuat penulis untuk mengajak pikiran dan hati pembaca mengikuti jejak-jejak pikirannya dalam menjumpai amanat mulia yang ingin disampaikan oleh penulis. Di samping itu, dalam menulis pula kita akan mendapatkan sebuah pengetahuan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Dan, selain itu masih banyak lagi.

 

 

 

 

Tulisan yang Menyembuhkan

Oleh: Ocha Thalib

            Menulis merupakan kegiatan yang sering kulakukan sedari kecil. Tepatnya sejak kelas satu SD. Menghabiskan masa kecil di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan merupakan saat-saat yang menyenangkan. Tak ada waktu bersedih, semua kujalani dengan riang gembira. Semua keceriaan di masa kecil selalu kutuangkan dalam bentuk tulisan.

Saat berhasil naik sepeda pertama kalinya, saat melihat kupu-kupu cantik melayang-layang di taman bunga, memberi makan ayam-ayam peliharaan, semua kucurahkan dalam buku harian. Sesekali, di saat kejahilan muncul, aku kerap menuliskan apa pun di dinding kamar, bahkan juga di dalam buku pelajaran sehingga sering mendapat teguran  dan hukuman dari orangtua maupun guru di sekolah.

Kedua hal tersebut tak menyurutkan kegemaranku menulis. Hukuman dari guru membuatku makin tergila-gila dengan dunia menulis. Bagaimana tidak, guru menghukumku dengan mengharuskan aku menulis kalimat, “Aku berjanji tak akan mencoret-coret buku pelajaran lagi” sebanyak seratus kali di beberapa lembar kertas. Hukuman yang menyenangkan bagiku.

            Saat memasuki usia remaja, aku mulai jarang menulis kecuali tugas-tugas menulis yang diberikan guru di sekolah. Begitu pun saat memasuki usia dewasa, tak ada lagi menulis dalam kamus kehidupanku. Tugas kantor, rapat, dan menghadapi pelanggan sangat menyita waktuku. Pada masa itu semua kujalani dengan rutinitas yang membosankan, tapi harus kulakukan disesuaikan dengan jadwal yang telah kubuat. Hidupku seperti sebuah robot yang telah diatur kehidupannya, sambil menunggu rusak dan menjadi besi tua. Sungguh menyedihkan.

            Suatu ketika, aku menghadapi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dikarenakan kantorku mengalami krisis ekonomi, sehingga pegawainya terpaksa dirumahkan. Pada awalnya aku kecewa dan khawatir akan masa depan. Namun ternyata Tuhan Maha Adil. Dengan kondisi ini aku dapat kembali ke dunia menulis yang dulu sangat kugemari. Menulis menyembuhkan aku dari rasa sedih, kecewa, krisis percaya diri, dan hal-hal yang sulit kuucapkan dengan kata-kata dapat dengan mudah aku tuangkan dalam tulisan.

Manfaat menulis pun dapat langsung aku rasakan dalam kehidupanku kini. Dengan menulis, aku ingin berbagi pengalaman kepada sesama dan berharap tulisanku dapat bermanfaat dan memotivasi banyak orang untuk mejadi manusia yang lebih baik.

***

Biodata Penulis

Ocha Thalib, lahir di Plaju  9 November. Pendidikan terakhir di Sastra Inggris,  Universitas Nasional Jakarta. Penggemar cokelat, musik, travelling, dan dunia penulisan. Sempat bekerja di beberapa perusahaan multi nasional dan perusahaan asing, sebelum memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mencoba menjadi penulis lepas. Saat ini telah dikarunia satu orang putra. Untuk kontak lebih jauh, bisa mengirim e-mail ke areek99@yahoo.com atau facebook.com/rosanthythalib

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menulis itu Ibadah

Oleh: R. Chanin SF

            Menulis, menulis, dan menulis. Dengar kata ini, sudah tidak asing lagi bagi kita dan bagiku pribadi yang baru-baru ini menyukai dunia kepenulisan. Sekitar tiga bulanan ini, aku mengekspresikan keinginan hati dan pikiranku yang kemudian kutuangkan dengan tinta-tinta cinta yang berbalut kemesraan dalam merangkai  sebuah kata. Sampai kuterbesitkan rasa yang tak kunjung kuredupkan, menebar bunga-bunga cinta lewat tulisan, hingga kutemukan satu kalimat indah nan memesona, “Menulis itu ibadah”.

Menurutku, itulah definisi menulis versiku, karena setiap apa yang ingin kutuangkan itu bertujuan menumbuhkan semangat dan motivasi, agar semua orang tahu bahwa setiap usaha, perbuatan, dan tindakan harus berdasarkan dengan Islam. Mengapa demikian? Tulisan-tulisan yang baiklah yang dinikmati oleh para pembaca kebanyakan, namun, aku mungkin terlalu mempunyai obsesi yang besar tentang keinginanku itu dan aku ingin selalu menghadirkan Islam di dalam setiap tulisanku.

            Kurangkai kata demi kata, kuikutkan dalam sebuah lomba, namun belum terlalu banyak yang kupahami tentang menulis yang benar, dan itu semua tak pernah menyurutkan langkahku untuk terus menulis dan menulis dalam waktu-waktu senggangku. Kala itu, ketika aku harus mengumpulkan sebuah cerpen, puisi, dan esai yang diperintahkan oleh ketua FLP Kalteng, aku pun sangat kaget. Dalam waktu yang singkat, aku pun tak segera mengumpulkan persyaratan menjadi anggota baru FLP. Namun, aku berpikir, kalau aku tidak mencoba, kapan lagi aku harus nulis dengan baik dan benar?

Dalam waktu sebulan lebih, aku menyelesaikan tulisanku itu dengan rasa semangat karena ingin mendapatkan tulisan yang baik seperti kebanyakan para penulis hebat itu. Saat itu juga, perasaan takut dan rasa tidak percaya diri sangat menggugah diriku. Namun apa yang terjadi? Akhirnya aku pun bisa, karena aku berpikir aku pasti bisa.

Akhirnya aku menyelesaikannya dengan baik, walau mungkin hasilnya kurang baik, yang penting usaha. Yang dilihat Allah itu ialah usaha kita bukan hasilnya.

***

Biodata Penulis

Aku Rina Rizkiana, nama penaku R. Chanin SF. Aku masih kuliah semester tiga jurusan Matematika Universitas Palangkaraya. Aku aktif di berbagai organisasi, dan Alhamdulillah, aku bahagia ada di dunia baruku ini, berdakwah dan menulis. Aku sangat ingin menjadi penulis berideologikan Islam. Dapat dihubungi melalui FB: Rina Rizkiana sb dan nomor handphone: 085750672952

 

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top