-->

INDONESIA MENULIS FIKSI DAN ISI HATI

| 2:13 PM |

 

Senyum di Akhir Petang

Oleh: Aliyah Sekar Ayu

 

Menjelang petang, Aliya semakin gelisah saja. Langkahnya perlahan tak tentu arah, pandangannya menerawang ke bukit seberang. Alangkah hijaunya bukit di sana, begitu damai kehidupan burung-burung yang bersarang di tiap ranting pohonnya. Diperhatikannya bagaimana burung-burung itu terbang bebas menjelajahi angkasa yang tiada berbatas, membentangkan sayap dan mencipta kepak demi kepak menuju satu tujuan yang jauh di depan mata, tetapi bukan tak mungkin untuk dicapai asalkan ada usaha yang nyata.

Sungguh ingin Aliya menjelma menjadi burung, meraih kebebasannya sendiri, keluar dari sangkar yang selama ini mengekang bak penjara. Ia ingin berbagi cerita tentang segala yang ia rasa, akan tetapi siapa pula yang berkenan mendengarkan?

Lembut hembusan angin menyapu kulit seiring sang surya yang kian tergelincir di barat. Aliya duduk memeluk lutut di bawah cemara kipas, tatapannya masih terpaku pada merpati-merpati kelabu yang kini terbang berputar-putar membentuk formasi di atas bukit seberang. Lantas sayup di dengarnya suara angin berbisik, “Ambil secarik kertas dari tasmu... Jangan ragu untuk tuangkan perasaanmu ke dalam kertas itu...”

Meresapi bisikan angin yang turun ke kalbu, Aliya pun mulai menulis. Digoreskannya pensil ke kertas, dicurahkannya segenap rasa yang menumpuk di dasar jiwa. Tentang kegelisahan yang melanda ketika ia bingung mencari cara untuk membuat senyum terkembang di bibir orang-orang di sekitarnya, tentang keinginan untuk meningkatkan semangat belajar serta prestasi di sekolah, tentang keinginan untuk mempererat persahabatan dengan teman-temannya, dan keinginan untuk berbakti kepada keluarga.

Ditulisnya segala detail tentang dirinya sendiri. Hobi untuk berekspresi tanpa tahu bagaimana mengungkapkan ekspresi tersebut, rasa penat yang sering kali menjadi penghalang untuk berkarya, tak lupa target-target yang ingin ia wujudkan di masa mendatang.

Dalam sekejap, Aliya merasakan beban berat itu sudah tak lagi menggelayuti bahunya. Aliya merasa ringan dan lega, puas membaca tulisannya yang kini memenuhi permukaan beberapa lembar kertas. Ia mengetahui jawaban atas pertanyaannya sendiri, tentang cara untuk berekspresi. Ya, dengan menulis. Melalui tulisan, Aliya percaya ia bisa terbang bebas meski tanpa sayap di punggungnya. Petang itu, ketika mentari sudah kembali ke peraduannya, justru senyum cerah menghias wajah Aliya. Damai terasa di hatinya kala ia menyadari makna sebuah frase, keajaiban menulis, telah menyentuhnya.

***

Biodata Penulis

Menyandang nama Aliyah Sekar Ayu dan lahir pada 22 September, itulah saya. Beralamat di Rotowijayan KP II No. 10 B, Kadipaten, Kraton, Yogyakarta, dan dapat dihubungi di nomor ponsel 087738205897.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa Menulis?

 

Menulis itu nyaman, damai, dan tenang. Tulisan itu sebuah keindahan, sebuah seni, sebuah hiburan, sebuah keajaiban, karena dari tulisan kita bisa menciptakan buku untuk para pembaca. Dengan buku, kita bisa memberikan informasi bagi para orang yang haus ilmu. Dengan ilmu kita bisa melakukan sesuatu, dan dengan itu semua, kita semakin pandai memanfaatkan ilmu yang kita dapat sesuai dengan bidang dan kemampuan masing-masing.

Coba sejenak kita bayangkan bagaimana jika tidak ada tulisan, jika tidak ada sebuah buku, tidak ada informasi tentang hal yang tidak kita diketahui, tidak ada ilmu yang bisa kita nikmati, bagaimana jadinya dunia ini? Ilmu adalah sebuah kenikmatan untuk kehidupan kita, ilmu merupakan pelajaran secara teori untuk menjalani kehidupan (untuk bekerja, untuk berusaha, untuk maju, dan berkembang).

Bagi pembaca yang haus akan ilmu, tulisan merupakan makanan yang harus ia temui setiap harinya untuk menambah wawasan dan pengetahuan, dan bagi penulis menulis merupakan napas, nadi, darah yang mengalir, serta hidup dan mati mereka. Penulis sangat menikmati di saat mereka berpikir untuk membuat tulisan yang bermanfaat, sedangkan pembaca yang haus ilmu sangat menikmati dengan penuh penghayatan ketika ilmu hadir di hadapan mereka.

Jadi, menulis itu merupakan sebuah proses yang dapat menciptakan sebuah keajaiban besar, karya besar, bahkan pengetahuan yang besar. Dan kita harus berterima kasih pula untuk para penulis yang bersedia memberikan informasi dan ilmu yang diberikan oleh tuhan untuk dapat kita nikmati bersama.

Ayo! Mulai sekarang kita harus semangat menulis dan semangat membaca agar kita bisa mendapatkan sebuah keajaiban dari ilmu yang bisa kita dapatkan.

 

 

 

 

 

Kanza, Engkaulah Keajaibanku

Oleh: Aina Sofia

Ketika semua kata tak bisa lagi terucap, ketika semua tanya tak lagi terjawab, maka, semua rasa pun tak bisa terungkap, hanya bisa terpendam dalam hati. Serasa ingin menyeruak, tapi apa daya, raga tak mampu. Rasa ini semakin terenyuh, semakin terperosok dalam kelamnya hati. Ingin berteriak tapi tak mampu, ingin bercerita tapi tak ada yang mendengar. Semakin terpuruk, semakin terasa sendiri, hanya berteman sepi, dan hati pun menangis.

Tak adakah yang ingin mendengar? Keluhku. Ingin kumarah, tapi pada siapa. Pada sepikah atau pada malam penghantar pilu? Entahlah, aku tak tahu. Aku tak butuh seseorang dengan motivasi yang hebat tapi tak mendengar dengan baik. Yang aku butuhkan hanyalah pendengar yang baik, tapi tak kutemukan dalam kesendirianku dan dalam kegelapan malamku. Ketika tak seorang pun sadar akan kehadiranku, akan rasa dalam hati ini, kucari tempat untuk mengadu selain kepada-Nya tentu saja. Ya, akhirnya kutemukan juga tempat pelabuhan hatiku, tempat mencurahkan isi hatiku, mendengar keluh kesahku, dan menjadi pendengar yang baik.

            Dia adalah Kanza, panggilan sayangku kepadanya.  Ia dengan tulus mendengar kisahku yang tak hanya penuh tawa, tapi terkadang derai air mata. Dia merelakan aku menorehkan tinta hitam di tubuhnya yang penuh warna. Dengannya aku bisa menceritakan segala isi hatiku yang tak semua orang tahu, bahkan orang-orang terdekatku. Dialah buku diary-ku yang telah menemaniku selama bertahun-tahun, yang telah melihatku tumbuh dan berkembang dari anak kecil, remaja, bahkan dewasa.

            Ya, sejak itu aku mulai rajin, bahkan sangat rajin berbagi cerita dengannya. Dengannya aku berbagi tawa, duka, bahkan impian. Ia yang melatihku merangkai kata demi kata menjadi kalimat penuh makna, bahkan terkadang dalam berbahasa asing. Ia yang menjadi saksi ketika aku membawa piala kemenangan atas pidato Bahasa Inggris yang merupakan awal dari impianku.

Mungkin semua ini telah ditentukan Tuhan. Karena dengan menulis, keinginan, harapan, dan impian-impianku, semakin termotivasi untukku menggapainya. Walau terkadang jatuh, tapi aku tak ingin menyerah, aku ingin segera bangkit dan maju lagi. Kalimat favoritku ada pada halaman pertama Kanza, yakni “Jangan menyerah sebelum berperang.” Itulah yang dikatakan ayah padaku, tulisan itu tidak hanya tertulis pada Kanza, tapi juga pada hatiku. Kanza, engkaulah keajaibanku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengukir Perbekalan

Oleh: Bidadari Azzam

Orangtua dan para guru yang mendidikku senantiasa mengingatkan sebuah hadits Rasul-Nya tentang amal manusia yang tidak terputus setelah kematian, yaitu sedekah jariyah, ilmu nan bermanfaat, dan anak-anak saleh yang mendoakan kita. Setiap tulisan merupakan buah pikiran, untaian doa, percakapan kalbu, lukisan diri, perjalanan sejarah dalam tiap episode kehidupan, yang di dalamnya tergores ragam hikmah dan penyampaian ilmu pengetahuan. Sehingga karya-karya pejuang pena merupakan salah satu usaha mengukir perbekalan. Dunia hanya tempat kita memungut bekal, bukan?

Salah satu sahabat blogger dan beberapa teman dekat yang berada dalam kenikmatan ‘ikhlas diri’ saat menghadapi kanker, di penghujung hidup mereka tersenyum, merasa sangat sehat dengan rampungnya tulisan, meskipun hanya selembar surat, secuil blog, atau beberapa halaman buku. Karena kunci sehat lahir dan batin adalah semangat, saat berbagi kebahagiaan dan menularkan inspirasi bagi sesama.

Suatu hari aku bersujud, menumpahkan rasa syukur atas segala skenario-Nya. Bahagia diri ini, kuterima email-email persahabatan yang salah satunya mengatakan, “Terima kasih, teman, setelah membaca artikelmu, saya menjadi malu kepada Sang Pencipta. Saya harus bertaubat, semoga saya kuat dan teguh dalam mendekap hidayah-Nya…” Potongan kalimat nan membuatku kian gembira, sebab Allah melimpahkan ganjaran yang besar bagi insan yang menjadi wasilah kebaikan seseorang. Tulisan adalah butir-butir permata nan kita bawa sebagai bekal di akhirat kelak, Insya Allah.

Marilah kita turut ilmu padi, kian berisi, kian merunduk, fokus memperbaiki diri. Kuharapkan semoga tekad dan prinsipku tetap hadir dalam jiwa, bahwa bagiku, menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indra, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah.

 Krakow, Poland. 5:18pm.11/10/2012

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top