-->

RINTANGAN PENULIS MERAMPUNGKAN NASKAHNYA

| 12:00 AM |

 Hambatan Dalam Menulis

Hambatan dalam menulis sangat wajar kita temui ketika kita mulai mendapatkan sepertiga bahkan setengah dari target penulisan buku kita. Tanpa berpolemik apakah hambatan itu ada atau sebetulnya tidak ada? Coba saja kita cek keadaan kita saat kita menulis, apakah benar-benar lancar sesuai dengan jadwal yang kita tetapkan? Atau tertunda karena ada kesibukan lain? Apabila ada kesibukan lain yang membuat aktivitas menulis Anda terganggu maka saya menyebutnya itu sebagai hambatan dalam menulis.

Hambatan yang pernah saya alami adalah ketika menuliskan buku ini, saya dihadapkan dengan pekerjaan proyek try out kelas 6 sd Se Kota Semarang yang dibagi dalam beberapa kecamatan. Dalam proyek tersebut, saya terlibat dalam satu tim yang harus mengkoordinasikan bagaimana naskah soal sesuai dengan kisi-kisi skl terbaru, lay out, mencetak, set naskah, packing, distribusi dan pengkoresksian LJK, print nilai dan pembuatan CD Interaktif. 

Kegiatan tersebut benar-benar menyita waktu saya karena saya bersama tim harus bekerja 24 jam penuh. Otomatis karena tuntutan pekerjaan tersebut maka saya harus rela memendam aliran ide menulis sampai ada waktu yang tepat untuk menuangkannya di draft buku saya.

HIKMAH PERJUANGAN MENULIS

Yang sangat saya syukuri adalah saya menemukan sebuah keasadaran baru bahwa saya bisa memaknai kembali kehidupan saya, menikmati seluruh detil kehidupan saya, karena saya berjanji akan menuliskan setiap detil hidup yang saya jalani menjadi buku demi buku yang menginspirasi. 

Tanpa harus ada keluhan mengenai dahsyatnya tantangan saya dalam hidup, saya mensyukuri hidup yang saya jalani, menjalaninya dengan semangat dan kebahagiaan, memberikan emosi terbaik pada setiap detiknya. Saya tidak mungkin menuliskan kehidupan yang penuh keluhan dan penderitaan atau tekanan batin. Saya punya cara untuk memilih menjalani hidup sebagai pemain utama, sebagai sutradara pribadi dan penulis skenario terbaik untuk diri saya sendiri.

Sebagai penulis yang belajar dan terus belajar termasuk dalam menulis, saya menempatkan hambatan dalam menulis sebagai satu inspirasi tersendiri bagi saya. Inspirasi tersebut berupa sebuah komitmen berbagi, berkontribusi bagi kehidupan dengan membentuk Komunitas Penulis. 

Dalam komunitas tersebut, saya memposisikan diri sebagai sahabat dan kawan bertanya dalam menuliskan buku, menerbitkan karya dari A sampai Z penerbitan buku. Saya percaya dengan berbagi pengalaman dengan penulis baru atau penulis senior di komunitas penulis bentukan saya, saya pasti menjadi semakin kaya dengan ilmu-ilmu baru yang belum terpikirkan selama ini.

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top