-->

Komunitas Penulis Indonesia di Semarang




 

1. Diprakarsai Afsoh Publisher

Komunitas penulis tersebut dipelopori oleh Ilyas Afsoh (penulis Blog pelatihan trainer surabaya) yang tinggal di Kedungmundu tembalang Semarang, ide hadir atas keinginannya mempraktekkan kiat-kita menulis bagi penulis baru. Terbukti kiprahnya ditengok dan diliput wartawan suara merdeka dengan tulisan Geliat Penerbit indie Indonesia.

Kegiatan dilaksanakan di beranda rumah Afsoh Publisher dihadiri sekitar 10 an peserta yang antusias mengikuti dan praktek setor tulisan di fanpage Groups Cara Menulis dan menerbitkan buku. Inti pertemuan, satu materi- satu tugas menulis, menulis mengalir tanpa editing. 

Peserta berasal dari berbagai latar belakang ada yang rias pengantin, blogger, penjual online, pengrajin sepatu sampai seorang guru sekolah- ibu-ibu dengan semangat bara membaja mengikuti kelas dan menulis tanpa malu-malu dari skilll terbaikyang dimiliki.  

2. Menulis di Era Pandemi Covid-19 

Perbedaan komunitas penulis indonesia ini semakin terasa saat covid-19 mewabah dimana pertemuan kerumunan mulai dibatasi, maka aktiflah kembali komunitas menulis online melalui facebook group Afsoh Publisher dan info diupdate di blog Menulis lepas ini. 

Alasan kuat menulis karena ada bisnis besar dari kegiatan menulis. Selain menyalurkan hobi menulis, menulis dapat dijadikan sebagai terapi diri sendiri, menulis melepaskan emosi negatif, menulis mengobati luka batin, menulis meningkatkan rasa percaya diri, menulis mendapatkan uang dan pengakuan. 

Saya sebagai admin blog ini, belum ada rencana zoom meeting menulis online, belum berpromosi juga, karena memang saat ini belajar menulis telah diakomodasi di berbagai platform digital, dan saya lebih asyik menekuni menulis blog untuk monetize :D 

3. Apakah Masih Cetak dan Menerbitkan Buku? 

Sementara ini, kegiatan cetak dan terbit masih dibatasi untuk peserta Training Menulis dan menerbitkan buku saja, Apalagi sejak ongkos cetak dan terbit mengalami perubahan bersama moment natal tahun baru, dan pandemi corona. 

Alasan lainnya karena lebih mudah menerbitkan karya buku dalam versi digital seperti pdf dan mendaftarkan ke google book semakin mudah. Kemudian kami sadari ternyata pangsa pasar buku cetak tidak pernah berkurang sampai saat ini. 

Beberapa tokoh terkenal memonitize karya-karyanya menjadi milyaran rupiah melalui penjualan buku-buku selling, motivation dan buku genre lainnya. Buku novel, buku tema spiritual dan pencerahan diri tak luput dari bidikan. Jadi, mari menulis, menari di atas kertas dan halaman laptop .

 

4. Benarkah Menulis sebagai Warisan? 

Bisa ya, bisa juga tidak, kembali pada tujuan awal sang penulis naskah. Terus bagaimana dengan penulis senior yang novel-novelnya diangkat jadi sinetron dan drama? Menurut saya, itu suatu bukti dari kualitas cerdas penulisnya sehingga diangkat menjadi layar lebar. 

Kabar gembiranya, menulis tidak selalu di buku sobat, sekarang orang menulis di blog, sosial media, menulis dalam bentuk gambar dan poster-poster di Instagram, menulis di youtube, proses kreatif tidak pernah dibatasi, dan tak terbatas kecuali batasan-batasan yang dimiliki oleh pikiran. 

Saya jadi ingat dengan pujangga jawa yang menulis kidung- tembang jawa yang nuansanya sangat terasa, bahkan kadang terkesan mistis, termasuk ramalan jangka jayabaya yang sangat terkenal, semua abadi oleh tulisan. 

Ilyas Afsoh | Owner Afsoh Publisher 
0858.6507.9257 Tinggal di Semarang 

Baca Juga Artikel Kami Cara Kirim Naskah ke Afsoh Publisher 




Pages

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top