-->

0858.6507.9257 NASI KOTAK TUMPENG NASI KUNING SEMARANG TERBAIK !!!

 HARGA NASI KOTAK SEMARANG 

Price list Nasi kotak Nasi Boks Nasi Dus Semarang mengalami perubahan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Moment lebaran, tahun baru dan natal, hari-hari besar nasional mempengaruhi harga bahan baku pembuat nasi bento, tumpeng dan jajanan pasar di kota-kota besar Indonesia. 


a. Rp 10.000,- 

Merupakan menu terbaik nasi mika dengan isian : 
  1. Nasi Putih / nasi kuning 
  2. mie 
  3. timun iris 
  4. telur dadar iris 
  5. Kering tempe 
  6. Ayam Suwir 
  7. Sendok 

b.  Rp 15.000,- 

Nasi Kotak dengan menu pilihan sebagai berikut : 
  1. Nasi Putih 
  2. Mie 
  3. Lalapan 
  4. Sambal
  5. Telur Bulat 
  6. Ayam Suwir 
  7. Sendok dan Tisue

c. Rp 17.500 

Nasi Boks dengan Menu spesial :
  1. Nasi Kuning 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati
  4. Kerupuk 
  5. Ayam Bakar / Balado / Goreng
  6. Kering Tempe 
  7. Sendok dan Tisue 

d. Rp 20.000

Nasi Box dengan menu : 
  1. Nasi Kuning 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati
  4. Kerupuk 
  5. Ayam Bakar / Balado / Goreng
  6. Kering Tempe 
  7. Perkedel 
  8. Sendok dan Tisue 


e. Rp 25.000,-

Nasi Kotak dengan menu Paling laris  :
  1. Nasi Kuning 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati 
  4. Kerupuk 
  5. Telur 
  6. Ayam Bakar / Balado / Goreng
  7. Kering tempe
  8. Perkedel
  9. Sendok Tisue

f. Rp 28.000,- 

Nasi Boks dengan Menu istimewa :
  1. Nasi Kuning 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati 
  4. Kerupuk 
  5. Telur 
  6. Ayam Bakar / Balado / Goreng
  7. Kering tempe
  8. Perkedel
  9. Buah 
  10. Sendok Tisue

g. Rp  30.000,- 

Nasi Kotak Terbaik : 
  1. Nasi Putih 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati 
  4. Kerupuk 
  5. Empal Daging 
  6. Kering tempe
  7. Perkedel
  8. Buah 
  9. Sendok Tisue

h. Rp 38.000,- 


  1. Nasi Kuning 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati 
  4. Kerupuk 
  5. Telur 
  6. Ayam Bakar / Balado / Goreng
  7. Empal Daging 
  8. Kering tempe
  9. Perkedel
  10. Buah 
  11. Sendok Tisue

TUMPENG TERBAIK SEMARANG TERLARIS :


Nasi tumpeng Nasi Kuning berisi :
  1. Nasi Kuning 
  2. Mie 
  3. Sambal Goreng Kentang Ati 
  4. Kerupuk 
  5. Telur 
  6. Ayam Bakar / Balado / Goreng
  7. Kering tempe
  8. Perkedel
Nasi Putih berisi :
  1. Nasi Putih 
  2. Mie
  3. Ikan Asin / Gereh 
  4. Tempe / tahu 
  5. Kerupuk 
  6. telur 
  7. Ayam Bakar / Goreng / Balado
Harga Nasi tumpeng : 
  • 10 Porsi : Rp 350.000,-
  • 20 Porsi : Rp 600.000,- 
  • 30 Porsi : Rp 850.000,-
  • 40 Porsi : Rp 1.100.000,-
  • 50 Porsi : Rp 1.350.000,- 

 NASI TUMPENG MINI (TUMINI) : 

Dengan menu terbaik, seperti di atas Per tumpeng kecil : Rp 35.000,- Boleh request nasi putih atau nasi kuning, 

Cara Pesan Sebaiknya Jangan Mendadak

Karena kami full order dan agar dapat kami jadwalkan untuk proses masak dan on time pengiriman ke lokasi pemesan, baiknya order H-3 atau lebih lama dari tanggal event (ulang tahun, tasyakuran, selamatan, wisata, dan momen lainnya).
  

TESTIMONI :

Rating kami 4,8 di Google Map, Detail lengkapnya dapat di cek di Nasi Kotak Tumpeng Semarang Neo Catering 919 - Terpercaya. 

Neo Catering 919 : 
Perum Sinar Bukit Asri Kav 141 Kedungmundu tembalang Semarang Jawa Tengah 
hp/ wa 0858.6507.9257 
CP : Ibu Umi Yani 



JANGAN BERHENTI MENULIS

 

Energi itu Mengalir

Oleh: Maya Lupita

Manusia terlahir dengan panca indra yang dianugerahkan Tuhan padanya. Dengan serangkaian proses belajar, manusia dapat mengenali dunia. Dapat menyimpan memori tentang hal-hal di luar tubuhnya. Juga dapat mengeluarkan apa pun yang ada dalam pikiran dan perasaannya, mengekspresikannya!

Banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk berekspresi.  Kadang cara itu efektif, namun tak jarang juga cara yang digunakan justru membuat keadaan yang disfungsional. Maka mulailah menulis. Dan kau akan memiliki energi untuk mengungkap apa pun yang ada di otakmu. Jangan biarkan dirimu bungkam.

Energi itu akan mengalir. Seperti sambaran listrik yang dengan cepat berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Alami begitu saja. Ketika jemari menari di atas keyboard, di atas kertas, di mana saja. Semua tahu, secara fisik hubungan otak dan tangan itu berjauhan. Dibatasi oleh bagian-bagian tubuh seperti kerangka kepala beserta isinya, leher, dada, lengan atas, lengan bawah, dan barulah jari-jari tangan. Namun semua orang juga tahu, bahwa otak dan tangan memiliki kabel penghubung, yaitu saraf. Saraf akan menghantarkan apa yang ingin kaulakukan dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Menulis sebenarnya bukan hal rumit. Tak serumit menghitung persamaan linear dan aljabar, pelajaran sekolah dulu. Bahkan dengan menulis, kau akan merasa senang dan ringan. Menemukan akses untuk membebaskan dirimu. Dan yang penting untuk kita ingat bahwa, energi tersebut hanyalah sebagian kecil dari keajaiban yang diberikan Tuhan untuk kehidupan kita. Dan jangan pernah berhenti untuk mengungkap lebih banyak keajaiban-keajaiban dari Tuhan.

 

 

 

Menulis: Mesin Waktu dan Motivator Handal

Oleh: Khatarina Meldawati Pasaribu

Menulis, hmmm... Aku ingat betul, mulai menulis sejak kelas dua SMP. Sejak aku mengenal yang namanya puisi, aku sangat menyukai puisi. Kesukaanku terhadap puisi berawal karena aku tak suka menceritakan kisah kehidupanku kepada orang lain melalui kata-kata. Ya, rasanya sulit sekali menggerakkan lidah untuk memulai berbicara tentang hari-hariku.

Aku sebagai manusia biasa tentunya juga tak bisa menyimpan perasaan bahagia ataupun sedih hanya untukku sendiri. Sejak aku mengenal puisi, aku mengabadikan kisah-kisah istimewaku ke dalam tulisan berbentuk puisi. Sampai kini, puisi yang kutulis masih ada dan sesekali kubaca. Senyuman, tawa, bahkan rasa sedih kembali terputar jelas di ingatanku dan mulai dipertontonkan saat aku membuka kisah yang kubingkai melalui puisi. Walaupun ada beberapa puisi yang ketika kubaca, aku lupa apa maknanya. Wajar saja, waktu itu aku masih SMP, sehingga terkadang penggunaan katanya berlebih-lebihan agar terkesan lebih mendramatisir.

Setelah duduk di bangku SMA, aku mulai mendalami dunia kepenulisan lewat ekstrakuriler menulis, kemudian aku juga tergabung dalam pelatihan jurnalistik. Hingga akhirnya karya pertamaku terbit di media cetak lokal. Karya inilah yang terus menerus membuatku tak tidur nyenyak, menghantui, dan terus memaksaku untuk menyulam untaian kata yang layak dibaca. Akhirnya aku mengaku kalah pada karya yang terus menghantuiku ini dan mulai mengikuti kemauannya dengan rajin menulis. Hingga akhirnya aku mengirimkan sebuah cerpen untuk dilombakan di media cetak provinsi Jambi.

Kabar membahagiakannya, cerpenku terpilih menjadi pemenang terbaik kategori lingkungan. Kemenangan ini juga terus menerus memaksaku untuk memenangkan pertandingan yang lain. Inilah keajaiban menulis yang aku rasakan. Melalui menulis, aku dapat kembali ke masa lalu. Hal mustahil, tapi berhasil aku lakukan saat membaca kembali tulisanku. Dengan membaca tulisanku, aku dapat melihat masa lalu dengan jelas, mencium aromanya, dan menyentuhnya. Di dalam menulis juga aku merasakan ada motivasi yang terus memaksaku untuk sukses dalam hidup.

***

Biodata Penulis

Nama: Khatarina Meldawati Pasaribu. Nomor HP: 085664352566. Nama FB: Khatarina Meldawati

                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menjadi Manusia Baru melalui Tangkai Pena

Oleh: Melly Wati

            Aku tidak pernah bermimpi untuk punya banyak teman di seluruh Indonesia, tapi aku pernah bermimpi untuk menjadi penulis yang karyaku dimuat di berbagai media. Sejak aku masuk dalam sebuah grup penulis, aku seperti menjadi manusia baru. Manusia dengan sejuta cerita, manusia dengan sejuta impian dan motivasi, serta manusia dengan sejuta teman di seluruh Indonesia.

Awal menulisku adalah dari media on line. Aku bergabung dalam grup penulis di mana aku dipercaya sebagai koordinator kisah inspiratif. Ada rasa bangga dalam diriku. Sejak itu banyak yang meng-addku untuk jadi teman. Aku senang sekali. Walaupun kami belum pernah bertemu, tapi keakraban sudah menyelimuti pertemanan kami. Semakin banyak ilmu yang kudapat dari hari ke hari. Aku benar-benar menjadi manusia baru yang terlahir dari tangkai pena. Kreativitasku juga bertambah, dari yang sekadar coba-coba, lalu sekarang aku benar-benar ingin menekuni dunia penulis.

            Sepertinya impianku akan jadi kenyataan, karena jalan sudah membentang di hadapanku. Pastilah banyak rintangan, tapi aku yakin Allah akan menuntun jemariku untuk menulis yang indah dan bermanfaat. Aku pun bisa belajar berdakwah melalui tulisanku. Sungguh keajaiban yang luar biasa untuk menjadi manusia baru dengan sejuta impian melalui tangkai pena.

| 2:25 PM |

BELAJAR MENULIS OPINI : TERBIT DI MEDIA NASIONAL

 

Memaksaku untuk Cinta Baca

 

Oleh: Wahyu Widayati

 

Terlintas sebuah ingatan tentang ucapan salah seorang pemateri dalam acara launching sekolah menulis di Surabaya. Dengan samar memori ini kembali memperdengarkannya, “Aksi terbaik setelah membaca adalah menulis,” kata beliau yang juga praktisi salah satu lembaga survei di Indonesia. Ya, memang perlakuan pasca membaca adalah menulis, agar apa yang telah terserap dari proses membaca akan membentuk suatu rangkaian pemahaman wawasan yang kemudian berkembang menjadi lebih. Adapun yang berkata bahwa menulis itu jodohnya membaca, dan keduanya tak akan terpisahkan seperti dua sisi mata uang.

Begitulah seorang penulis bersikap dalam memperkaya khasah ilmunya dengan membaca. Namun, tak sama apa yang telah terjadi di saat pertama keinginan menulisku menggebu-gebu dengan motivasi membacaku, sangatlah di bawah semangat menulis. Lantas, yang terjadi adalah kualitas tulisanku yang tak lebih dari sebuah tulisan diary, hanya coretan-coretan pengalaman dengan minim sentuhan sastra.

Pelan-pelan, perubahan ini harus aku paksakan. Membaca harus jadi aktivitas wajibku agar kualitas karya fiksiku yang bisa berbau diksi sastra. Memang tak mudah untuk mengubah sebuah aktivitas yang awalnya dianggap membosankan, menjadi sebuah aktivitas yang dibutuhkan untuk menyuplai pilihan kata. Ya, merasakan sekali kebutuhan membaca yang lebih agar menulis menjadi berarti. Sedikit demi sedikit kesukaan itu mulai memberi semangat untuk terus menggoreskan pena.

Alhamdulillah, proses ini membawaku pada suasana nyaman ketika membaca dan menimbulkan keajaiban, juga memberi impact bagi sisi kehidupan yang lain. Membaca, membaca, dan membaca, agar ide mudah muncul dan mudah menggambarkan setting sebuah peristiwa dalam bentuk tulisan. Dan aksi ini akan terus beraji sampai kapan pun. Tak hanya aktivitas menulisku, tapi aktivitas yang lain dengan hikmah dari bacaan yang berkualitas.

Jadi, menulis ini telah membawaku ke dalam keajaiban merasakan zona nyaman sebuah aktivitas yang dinamakan “membaca”. Sebuah proses yang indah dengan menggabungkan dua hobi yang berjodoh, yakni menulis dan membaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wonderful of Write

Oleh: Nura Risala Kerinduan

Sebuah kajaiban biasanya hadir disanding ketakjuban yang mengalaminya, termasuk keajaiban dalam menulis. Dengan menulis dapat memperindah tutur bahasa dan bahkan dapat  melihat keajaiban dunia lewat perantara membaca.

Seorang penulis tentu saja tidak bisa lepas dari membaca. Baik itu membaca buku atau hal yang berkenaan dengan tulisan maupun membaca keadaan atau peristiwa tertentu. Intinya, penulis adalah insan pembelajar. Ia dapat belajar di mana pun dan kapan pun lewat peristiwa yang menjadi inspirasi dalam tulisannya. Dengan perantara membaca, penulis juga dapat memperindah tutur bahasanya, misalnya membaca novel dan puisi, dan membaca yang lainnya. Tentu saja hal tersebut merupakan anugerah yang mungkin orang lain tidak mendapatkannya.

Keajaiban dunia yang dapat dilihat sebagai bias keajaiban menulis, bersumber dari goresan aksara yang tersusun rapi. Aksara itu dapat membawa pencerahan bagi umat manusia. Dengan kata lain tulisan itu telah go internasional dan secara otomatis  diterjemahkan ke dalam bahasa lain selain bahasa asal sang penulis.

Bagiku sendiri keajaiban menulis itu terletak pada kelihaian dalam menyusun aksara itu sendiri. Aku sama sekali tidak pernah belajar tata bahasa dan EyD, bahkan aku agak alergi untuk serius mempelajarinya walaupun aku ingin sekali menjadi penulis. Seiring berjalannya waktu, aku cukup takjub tatkala aku sanggup menyusun aksara dengan rapi, padahal aku hanya mengandalkan partisipasi mengikuti ajang kepenulisan saja.

Ternyata menulis bisa disebut kebudayaan atau perubahahan atau lebih singkatnya pembangunan dari jiwa untuk dunia.

 

 

 

 

Pilihanku

 

Raut mukaku mulai mengkerut, tapi bukan tua yang keriput. Memerah pula muka ini dengan tertunduk. Aku duduk di kursi tempatku bekerja dengan meja biru yang selalu kupandang tak kenal jemu. Suara bising mesin yang tak pernah bisu jadi nada merdu yang temaniku hampir setiap waktu. Memang, seperti inilah nasibku bekerja di sebuah pabrik minyak di Kalimantan. Hidup di tengah kepungan prajurit-prajurit hijau berbaris rapi. Jauh dari glamorisasi kota, berjarak dengan hiburan penyemangat jiwa, kerinduan akan keluarga hingga kehilangan yang tercinta.

            Tragis, kata yang cukup pantas untuk keadaanku. Bagaimana tidak. Ketika aku ingin merasakan euforia kota, hanya fatamorgananya yang aku dapat dari debu beterbangan di jalan tak beraspal. Saat rindu ingin melihat gemerlap lampu-lampu kota, hanya warna pelangi yang aku saksikan menjulang terlalu tinggi dan memanjang hingga tak nampak. Kerinduan akan dekapan hangat keluarga harus rela terganti dengan suara dari seluler. Untuk yang tercinta, sudahlah semua sudah berlalu.

            Di tengah renunganku, aku teringat akan perkataan temanku. “Ini sudah jadi risiko orang perantau, Dik, ujar lelaki tua yang bekerja satu pabrik denganku.

            Jenuh itu menghantuiku setiap waktu. Mengiringi setiap langkahku menjadi bayang dalam kehidupanku. Buku laporan di mejaku sering menjadi pelampiasan kebosananku. Coretan demi coretan tersimpan di dalamnya. Sebuah ungkapan rasa dari hari ke hari tanpa kusadari memenuhi setiap lembarnya. Aku susun setiap potongannya dan kurangkai dalam bingkai yang lebih indah. Dalam sebuah cerita lalu, sebuah rasa yang kurasakan dulu.

            Pertama kalinya aku menikmati hidup di perantauan dengan senyum terpancar saat potongan itu terkumpul menjadi sebuah naskah. Tak henti-hentinya aku membaca dan mengenang apa yang aku alami dulu. Hingga kusadari hidupku begitu indah dan berarti. Ini semua bukan tentang apa yang aku alami sekarang, tapi tentang konsekuensi jalan yang aku pilih dulu. Aku salah bila menyesali pilihanku, karena aku punya seribu alasan untuk mensyukuri pilihanku. Aku tak berharap menjadi seorang penulis, meski menulis membuatku bertahan hidup. Aku hanya ingin memuntahkan rasa bila hanya ada secarik kertas di depanku, itu pilihanku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seni Menulis dengan Bahasa Jiwa

Oleh: Dito Anurogo

 

Tulisan jiwa itu abadi sebab berisi sabda suci Ilahi.

 

Andai umat manusia memahami betapa indah menulis dengan bahasa jiwa, dan merangkai makna tanpa kata, maka akan terkuak bagaimana jiwa berkata dan bagaimana hati berkomunikasi. Lalu, yang ada hanya melodi cinta kasih yang bersemi, damai menghiasi bumi pertiwi.

Diamlah

Dalam diam, biarkanlah jiwamu untuk mengembara. Bebaskanlah pikiranmu untuk berkelana. Istirahatkanlah nafsumu untuk sementara. Dalam keheningan, jiwa akan menemukan jalan yang membimbing kita menuju cahaya. Cahaya yang menerangi kehidupan. Kehidupan menuju keabadian.

            Pandanglah

Pandanglah pagi dan hendaklah sejenak melupakan malam. Sebab pagi selalu membawa harapan dan malam selalu menawarkan kegelapan. Bagi jiwa-jiwa yang merindukan pencerahan, pandanglah pagi, nantikanlah mentari berseri. Namun hendaklah kita mengingat bahwa ada bintang yang menerangi malam dan ada mendung yang menyelimuti pagi. Malam tak selamanya kelam, dan pagi tak selamanya berseri.

            Renungkanlah

Kehidupan selalu menawarkan sejuta keajaiban. Renungkanlah. Betapa jiwa-jiwa yang rindu akan keajaiban dan berusaha untuk terus mencapainya, pastilah akan mendapatkan. Bukan sekadar memimpikan atau menginginkan, melainkan menciptakan. Renungkanlah. Cinta adalah keajaiban dan Kasih adalah keabadian, sehingga jiwa yang bersahabat dengan Cinta dan berkerabat dengan Kasih akan mudah menciptakan keajaiban yang menuntun ke jalan Keabadian.

            Dengarkanlah

Jiwa mampu berkata. Hati mampu bermelodi. Nurani mampu bersimfoni. Dengarkanlah. Tiada yang lebih mesra dari perkataan jiwa. Tiada yang lebih murni dari melodi hati. Tiada yang lebih menawan dari simfoni nurani. Dengarkanlah. Jeritan kaum papa. Ratapan orang teraniaya. Jiwa mereka menjelma doa. Hati mereka menjelma kidung. Nurani mereka menjelma solilokui. Dengarkanlah.

            Bersyukurlah

Ada sesuap nasi. Ada sekuntum melati. Bersyukurlah. Nikmat bertambah. Rezeki berlimpah. Syukur merupakan karunia mulia bagi jiwa. Jiwa mencerahkan dunia dengan kemuliaan syukur. Bersyukurlah. Merindu hari cerah. Mengharap hidup berkah.

            Berbuatlah

Sepenuh hati. Seluruh diri. Berbuatlah. Sekarang. Selekasnya. Kehidupan tak pernah menanti. Menanti tak pernah jemu. Jemu tak pernah berjumpa. Berjumpa tak pernah bersatu. Bersatu tak pernah abadi. Abadi tak pernah berharap. Berharap tak pernah bermimpi. Bermimpi tak pernah berbuat. Berbuatlah. Demi Kehidupan. Demi Tuhan. Sahabatku… inilah seni tertinggi. Seni menulis dengan bahasa jiwa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

| 2:22 PM |

TULISANKU MEMBUATKU ABADI

 

Menulis, sebuah Komunikasi dan Ekspresi

Oleh: Murni Oktarina

Rinai hujan menemani langkah rindu ini yang tertatih. Kala malam kelam membisikkan kepedihan pada jiwa rapuh yang terpaku. Masihkah kemampuan mendalih menguntai setiap tetesan bulir bening yang kian letih? Tercampak menyandarkan keraguan dalam guratan wajah malam yang tengah merintih mengadu. Malam kini telah berganti dengan kesejukan embun pada dedaunan. Kelopak mawar melebar, menyambut mentari pagi yang berjanji mengoyakkan kepedihan. Tapi, lagi-lagi yang didapat hanyalah kekosongan mengelabui setiap desah penantian. Makin melebarkan luka yang menganga, membanjiri dengan lelehan panas lilin-lilin kematian.

Cukup…. Cukup…. Kukatakan sudah cukup pada terpaan angin yang membelai menghibur. Biarlah kurasakan terik matahari siang yang seolah menggugurkan segenap susunan harapan. Tak berani lagi membuka mata mencari pengharapan pada setiap inci jalan setapak yang berjamur. Kesadaran diri ini sudah sangat cukup melukiskan betapa dia di sana telah melupakan.

Sedikit tulisan di atas merupakan contoh lantunan sebuah perasaan yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Tak banyak orang yang mampu meluapkan perasaannya secara langsung lewat lisan dan berkata pada seseorang. Tapi, hampir semua orang memiliki kemampuan menuliskan setiap hal yang dirasakannya. Kenapa begitu? Karena menulis adalah ekspresi jiwa yang dapat dengan bebas dituangkan tanpa merasa akan bersalah atau tanpa ada rasa takut akan mendapat marah. Menulis, mencairkan kebekuan hati. Menenangkan pikiran kalut yang tengah bersarang. Juga tempat berkeluh kesah mengeluarkan setiap beban pikiran sekali pun itu yang terberat.

Bagi yang berprofesi sebagai penulis, menulis merupakan pintu rezeki. Bagi pendakwah, tulisannya dapat menjadi salah satu wadah untuk menjalankan dakwahnya. Bagi seorang motivator, tulisannya akan menjadi ajang yang dapat memotivasi para pembacanya, dan bagi saya, menulis adalah laksana komunikasi dengan diri saya sendiri tanpa takut diketahui oleh orang lain jika komunikasi itu mengganggu atau menimbulkan amarah. Dengan kata lain, keajaiban menulis bagi saya adalah saya dapat berbicara, berkomunikasi dan berekspresi dengan bebas hanya dengan kegiatan sederhana namun menghasilkan kepuasan yang dasyat, yaitu menulis.

***

Biodata Penulis

Nama: Murni Oktarina. Tempat, tanggal lahir: Palembang, 27 Oktober 1990. Berstatus mahasiswi dan administrasi bimbel kampus. Alamat di Jl. A. Yani Lr. Manggis No. 85 Palembang 30252. Dapat dihubungi melalui nomor HP: 08994455499, facebook: http://www.facebook.com/murni.dudidam.7?ref=tn_tnmn, dan e-mail: murnioktarina@ymail.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelangi Aksara

Oleh: Nurul Rina Budiarti

Huruf demi huruf kurangkai menjadi sebuah kata. Kata demi kata kusulam menjadi sebuah kalimat. Kalimat demi kalimat kusatukan dalam peraduan paragraf. Mengalir begitu saja. Semuanya berkeliaran di luar kepalaku. Mencoba menggodaku untuk kutangkap, walau tak serapi keramik yang ditata di lantai rumah tetangga, walau tak seperti tatanan batu bata yang ditumpuk oleh tukang, namun kata-kataku tetap menjadi pelangi dalam imajinasiku. Imajinasi yang ingin selalu kutuang agar mereka bisa menikmatinya. Apa pun rasanya. Dengan menuangkan ide dalam bentuk menulis, semua serasa lepas dan bebas. Semua terasa ringan untuk dipikul. Seberat apa pun beban itu, semua akan kubagikan dengan yang lain. Seindah apa pun masaku, akan kubagikan, agar mereka bisa berbagi sepertiku, walau berupa tulisan.

Sidoarjo, 14 oktober 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menulis Membuat Bangkit

Oleh: Irka Maharani

Seberapa berartikah menulis bagimu? Kalau bagiku, menulis adalah hal yang amat luar biasa. Ketika aku memiliki banyak permasalahan yang rumit, ketika aku merasa otak ini rasanya penuh sesak, aku selalu menulis. Menulis semua yang terasa membebani hidup, aku menuliskannya dalam selembar kertas.

Percaya atau tidak, permasalahanku terasa berkurang. Kalian mungkin tak akan percaya jika tak membuktikannya sendiri. Coba buktikan sekarang juga! Ambil selembar kertas dan sebuah pulpen. Sekarang, tuliskan semua hal yang menjadi permasalahanmu! Mulai dari permasalahan yang besar hingga permasalahan yang amat sepele. Setelah itu, coba lihat kembali seluruh daftar permasalahanmu. Terkadang saat itu aku merasa bodoh, karena hal yang terlalu sepele pun bisa menjadi beban buatku.

Setelah kalian menemukan hal-hal yang sebenarnya tidak pantas mengisi daftar permasalahanmu, segera coret dengan pulpen, rasakan perbedaannya pada dirimu. Aku yakin hatimu akan selangkah lebih baik. Dengan hati yang semakin yakin, teruskan langkah-langkah berikut ini. Urutkan semua daftar permasalahanmu mulai dari yang menurut kalian paling ringan hingga yang paling berat. Kemudian tuliskan permasalahan apa yang ingin kalian selesaikan terlebih dahulu dan jangan lupa menulis tahap-tahap kemungkinan penyelesaiannya.

Aku yakin, meskipun kalian belum bertindak apa pun terhadap permasalahan kalian, hati kalian pasti akan terasa lebih baik dan memiliki arah atas permasalahan itu. Kalian tidak akan merasa kebingungan lagi dengan apa yang akan kalian lakukan. Oh iya, buat kalian yang suka menulis diary, itu merupakan kebiasaan yang baik juga, mengungkapkan perasaan dengan menulis dapat membuat hati akan lebih tenang. Sebenarnya apa yang menjadi permasalahan kita kadang bukanlah sebuah masalah, yang menjadi permasalahan adalah reaksi kita terhadap masalah itu. Jadikan itu semua sebagai tantangan hidup. Ayo kita bangkit lagi dengan menulis!

***

 

Biodata Penulis

            Nama saya Irka Maharani. Saya tinggal di Ds. Sawentar RT 03 RW 01 Kanigoro-Blitar, Jawa Timur. Nomor HP saya 085645791689. Terimakasih.

                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rencana yang Indah

Oleh: Veronica Gouw

Tak terbayangkan menjadi seorang penulis sebelumnya, bahkan saat pertama kali aktif di facebook. Hanya semata mengusir rasa jenuh yang kian menggelora. Ya, rasa bosan yang tak dapat kubendung. Satu-satunya tempat untuk mengusir rasa jenuh itu dengan bermain internet, browsing, atau sekedar update status via facebook.

Perjalanan pun dimulai dengan bergabung di dalam grup-grup kepenulisan. Mencoba menulis dan mengikuti event demi event. Walau sepertinya jalan terasa buntu. Tak satu pun tulisanku lolos, bahkan untuk masuk dalam antologi. Rasa putus asa mulai menggelayut. Menyerang tiada henti. Apakah aku memang tidak berbakat? Atau aku terlalu bermimpi besar? Rasanya tak mungkin menjadi penulis.

Sampai ternyata sebuah kejadian keajaiban menulis terjadi. Bergabung dalam grup kepenulisan Cendol Jakarta Universal Nikko. Aku mendapat tawaran menarik yaitu menulis novel komedi Bab 6. Karena itu merupakan  novel estafet yang ditulis oleh sembilan orang perempuan dan seorang laki-laki.

Keajaiban menulis pun terjadi, novel estafet pertamaku sudah beredar. Betapa aku senang sekali rasanya. Kini aku berhasil menjadi seorang penulis.

***

Nama asli: Veronica. Nama pena: Vera. Nomor HP: 08569873605. E-mail: v3ron1ca78@ymail.com

 

 

| 2:24 PM |

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top