-->

Sunnah-sunnah Tayammum

Ketika kita hendak melakukan tayammum, sudah sepantasnya kita juga memperhatikan hal-hal yang disunnahkan oleh syariat. Karena dalam setiap kesunnahan yang kita kerjakan, terdapat potensi besar untuk kita meraih keridloan Allah SWT. 

Pada dasarnya terdapat dlobith/kaidah yang memudahkan kita untuk memahami sunnah-sunnah tayammum. Yakni bahwa segala kesunnahan dalam wudlu yang memungkinkan untuk dilakukan dalam tayammum, maka itu disunnahkan dalam tayammum. Dalam kitab Al FIqhul Manhajiy juz 1 hal 95 disebutkan:

يسن فيه ما يسن في الوضوء، من التسمية أوله، وأن يبدأ بأعلى الوجه، ويقدم اليد اليمنى بالمسح على اليسرى، كما علمت، وأن يمسح جزءاً من الرأس وجزءاً من العضد، وأن يوالي بين مسح الوجه واليدين، وأن يتشهد بعده ويدعو بالدعاء المأثور بعد الوضوء.

"Disunnahkan dalam tayammum apapun yang disunnahkan dalam wudlu. Diantaranya yang berupa membaca basmalah di awal, hendaknya memulai dari bagian atas wajah, mendahulukan mengusap tangan kanan dibandingkan kiri sebagaimana yang anda ketahui. Dan hendaknya mengusap bagian (lebih dari batas) kepala dan lengan. Dan hendaknya bersambung antara usapan wajah dan dua tangan. Dan hendaknya bersyahadat setelahnya dan berdoa dengan doa yang diriwayatkan usai wudlu"


Disamping Sunnah-sunnah tersebut, terdapat beberapa Sunnah tambahan khusus dalam wudlu, yaitu:

1. Merenggangkan jari jemari agar ketika memukulkan tangan, ada debu yang berterbangan mengenai sela-sela jari.

2. Menipiskan debu pada telapak tangan pasca memukulkan tangan untuk mengambil debu.

Dalam suatu hadits, Al Bukhari meriwayatkan dari sahabat Ammar bin Yasir RA.:

أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال له: " إنَّما يَكْفيكَ أَنْ تصْنَعَ هَكَذَا" فضرب بكفيه ضربة على الأرض ثم نفضهما - وفي رواية أخرى: ونفخ فيهما - ثم مسح بهما.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada beliau, "Sesungguhnya cukup untukmu melaksanakan seperti ini" maka beliau memukulkan dengan kedua telapak tangan beliau dengan satu pukulan pada tanah kemudian mengetukkan keduanya - dalam riwayat lain: meniup keduanya - kemudian mengusap dengan keduanya.

3. Hendaknya tidak mengangkat tangan dari area yang diusap sebelum selesai dari setiap usapan. Agar jika masih ada bagian yang belum terusap tidak perlu mengulang mengambil debu lagi.

4. Melepas cincin. Imam Ibnu Ruslan dalam kitabnya Shofwatuz Zubad menyebutkan:

ونَزْعُ خاتَمٍ لأُولَى تُضْرَبُ # أمَّا لثاني ضربةٍ فيَجِبُ

Dan melepaskan cincin untuk pukulan pertama (itu Sunnah) # adapun untuk pukulan kedua adalah wajib

5. Tidak menghapus debu yang menempel kecuali setelah usai sholat.

Semoga bermanfaat, barokah dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.

Rukun Tayammum di sini

WaLLOHU a'lam

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad



| 8:58 PM |

RUKUN RUKUN TAYAMMUM

Dalam sebuah ayat Al Qur'an, Allah berfirman:

... فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

"... maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."(QS. An-Nisa' Ayat 43)

Dari ayat inilah, secara detail para ulama Syafi'iyah menyebutkan bahwa rukun tayammum ada 5(lima) hal. Yaitu:


1. Memindahkan debu dari tempat manapun ke wajah dan dua tangan. Syaikh Muhammad Nawawi Al Jawy dalam karyanya yang berjudul Kasyifatus Saja menyebutkan:

ومثل المتيمم مأذونه، ولو كان المأذون كافراً أو صبياً لا يميز أو أنثى حيث لا مماسة ناقضة أو مجنوناً أو دابة كقرد فلا بد من الإذن في جميع ذلك

"Dan sebagaimana orang yang bertayammum, begitu pula (wajib memindahkan debu) bagi yang diberi izin untuk mentayammumkannya. Walaupun yang diberi izin tersebut orang kafir / anak kecil / belum tamyiz ataupun perempuan sekiranya tidak ada persentuhan yang membatalkan, ataupun juga orang gila atau (bahkan) seekor hewan seperti kera, maka harus ada izin dalam semua itu"


Bila ada debu berterbangan hingga mengenai wajah dan tangan kita lalu kita niatkan tayammum dengan debu itu, maka tidak sah tayammum tersebut karena tanpa usaha memindahkan debu. Kesimpulannya, harus ada usaha dan maksud untuk memindahkan debu ke area wajah dan tangan.


2. Niat tayammum dengan maksud istibahah yakni agar diperbolehkan menjalankan sholat. Perlu kita ketahui bahwa tayammum ini tidak dapat mengangkat hadats apapun. Namun hanya sebagai bentuk keringanan syariat agar diperbolehkan melakukan sholat dan sebagainya. Bila seseorang tayammum dengan niat mengangkat hadats, maka niat tersebut tidak dianggap sah.

Adapun contoh pelafalan niat tayammum tersebut adalah

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ فَرْضِ الصَّلَاةِ للهِ تَعَالَى

"Aku berniat tayammum agar diperbolehkan (melakukan) fardlunya sholat karena Allah."


3. Mengusap wajah secara keseluruhan. Dalam mengusap wajah ini Syaikh Nawawi Al Bantani menambahkan:

ولا يجب إيصال التراب إلى منابت الشعر الذي يجب إيصال الماء إليها بل ولا يندب ولو خفيفاً لما فيه من المشقة

"Dan tidak wajib menyampaikan debu ke tempat tumbuhnya rambut yang mana wajib disampaikan air dapanya (saat wudlu) bahkan (sampainya debu pada tempat tumbuhnya rambut) tidak disunnahkan walaupun tipis, karena didalamnya ada unsur memberatkan"

Adapun batas wajah secara detail telah kami jelaskan pada bab wudlu yang telah lewat.


4. Mengusap dua tangan.

Teknis pengusapan yang disunnahkan adalah meletakkan jari-jari tangan kiri pada punggung jari-jari tangan kanan, sekiranya ujung jari kanan tidak melewati batas jari telunjuk kiri. Kemudian menjalankan jari-jari tangan kiri tersebut pada bagian punggung tangan kanan. Ketika mencapai pergelangan kanan, genggamlah pergelangan tersebut dengan jari-jari kiri (tanpa telapak tangan). Hingga saat menyentuh bagian lengan atas dari tangan kanan, putarlah siku kanan hingga siku kanan bagian dalam menyentuh telapak kiri. Kemudian jalankan telapak kiri kearah pergelangan kanan bagian dalam. Lalu sentuhlah pangkal tulang ibu jari kanan (bagian punggung/luar) menggunakan telapak ibu jari kiri dan jalankan hingga menyapu ujung ibu jari kanan. Setelah itu gunakanlah cara tersebut secara berlawanan untuk mengusap tangan kiri.


5. Urut antara dua basuhan tersebut.

Yakni harus dengan mengusap wajah terlebih dahulu kemudian barulah mengusap dua tangan.


Semoga bermanfaat, barokah dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.


WaLLOHU a'lam 🙏🏻

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad




| 9:36 PM |

Syarat Sah Tayammum

Baca Artikel Mencari Air Sebelum Tayammum ,

Apa Saja Syarat Sahnya Tayamum? 

Dalam kajian fiqh Syafi'i, tayammum memiliki 7 syarat. Bila ada (walaupun) satu syarat saja yang tidak terpenuhi, maka hukum tayammum tersebut tidak sah. Ketujuh syarat tersebut adalah:


1. Hendaknya menggunakan debu.

Dalam suatu ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗوَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُوْرًا


 Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati salat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar akan apa yang kamu ucapkan dan jangan (pula menghampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu (saja) sehingga kamu mandi (junub). Jika kamu sakit, sedang dalam perjalanan, salah seorang di antara kamu kembali dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan sedangkan kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik. Usaplah wajah dan tanganmu (dengan debu itu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. 

(An-Nisā' [4]:43)


Dari ayat ini, para ulama memberikan beberapa kriteria untuk debu yang baik tersebut, yakni:

a. Debu itu harus suci / tidak najis

b. Debu itu harus bisa mensucikan / tidak musta'mal

c. Tidak bercampur dengan materi lain seperti tepung ataupun bedak walaupun sedikit

d. Sekiranya bisa menempel / berbekas pada bagian yang diusap.


2. Hendaknya memang bermaksud menggunakan debu tersebut.
Maka jika ada seseorang bermaksud menggunakan bedak, namun ternyata setelah diusapkan ke wajah baru diketahui bahwa ternyata itu debu, setelah itu baru diniatkan usapan tersebut sebagai tayammum, maka hukumnya tidak sah.


3. Hendaknya bertayammum dengan dua kali tepukan ke tanah atau yang lainnya untuk mengambil debu.
Maka jika ada seseorang menggunakan selembar kain yang luas dengan sekali tepukan untuk mengambil debu, kemudian menjadikannya dua bagian untuk diusapkan ke wajah dan tangan, maka itu tidak sah.

Pengertian Tayammum baca di sini

4. Hendaknya mensucikan anggota badan yang terkena najis terlebih dahulu seperti kemaluan setelah buang air ataupun sebab najis lainnya.
Hal ini disebabkan karena tayammum adalah bentuk thoharah / bersuci yang lemah. Syaikh Nawawi al-Bantani dalam syarahnya menjelaskan:

"Di antara syarat-syarat tayammum adalah menghilangkan najis terlebih dahulu. Berbeda dengan wudlu, maka tidak disyaratkan hal tersebut. Karena wudlu itu untuk mengangkat hadats, dan itu bisa dicapai meskipun dengan tanpa menghilangkan najis terlebih dahulu. Adapun tayammum bertujuan agar diperbolehkan melakukan sholat, yang mana tujuan itu berkaitan dengan hal-hal lainnya. Sedangkan sholat tidak diperbolehkan tanpa mensucikan najis terlebih dahulu. (Syarh Kasyifatis Saja 'Ala Matni Safinatin Naja)


5. Hendaknya berijtihad/berusaha untuk menghadap kiblat sebelum memulai tayammum.
As Sayyid Ahmad bin Umar As Syathiri dalam suatu catatan kaki mengenai syarat ini dari kitabnya Al Yaqutun Nafis menjelaskan:

هذا ما اعتمده ابن حجر، وقال الرملى له التيمم قبل الإجتهاد


 "Ini adalah tumpuan pendapat Imam Ibnu Hajar. Dan berkata Imam Ar Ramli bahwa seseorang boleh bertayammum sebelum berijtihad (menghadap qiblat)" 


6. Hendaknya bertayammum setelah masuknya waktu.
Dalam kitab Kifayatul Akhyar, Al Allamah Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Ad Dimasyqi memberikan alasan logis pada syarat ini dengan ungkapan beliau:

ولأن التيمم طهارة ضرورة، ولا ضرورة إليه قبل دخول وقت الصلاة

 "Dan karena tayammum ini merupakan (bentuk) bersuci yang darurat, sedangkan tidak ada kedaruratan padanya sebelum masuknya waktu sholat" 


7. Hendaknya bertayammum untuk setiap sholat fardlu.
 Satu kali tayammum untuk sekali sholat fardlu. Maka tidak diperbolehkan mengumpulkan dua sholat fardlu 'ain menggunakan tayammum. Namun, diperbolehkan jika mengumpulkan satu sholat fardlu 'ain dengan fardlu kifayah, atau dengan beberapa kali sholat sunnah seperti qobliyyah dan ba'diyyah dalam satu kali tayammum.


Semoga bermanfaat, barokah dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin

WaLLOHU a'lam

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

Baca Artikel : Sebab Tayammum



| 4:00 AM |

Mencari Air Sebelum Tayammum

Tulisan ini dicopy paste dari wa Group Ngaji yang diasuh oleh Bang Ubaid, dan tulisan sudah mendapat ijin untuk dijadikan konten blog Afsoh Publisher. 

Sebagaimana yang telah kita ketahui, tayammum adalah bentuk keringanan syariat ketika seseorang tidak bisa berwudlu karena tidak ada / tidak menemukan air. Namun perlu kita pahami betul bahwa ketiadaan air tersebut harus benar-benar tidak ada setelah kita mencarinya. Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ad Dimasyqi menyebutkan:

طلب الماء شرط لصحة التيمم عند الشافعي ومالك، و قال أبو حنيفة ليس بشرط، وعن احمد روايتان كالمذهبين اصحهما وجوب الطلب (رحمة الأمة)

"Mencari air adalah syarat untuk sahnya tayammum menurut As Syafi'i dan Malik. Dan berkata Abu Hanifah (mencari air) bukanlah syarat. Sedangkan dari Ahmad bin Hambal terdapat dua riwayat sebagaimana dua madzhab, yang paling sah antara keduanya adalah wajibnya mencari"


Adapun ukuran standar pencarian air tersebut juga telah dijelaskan oleh para UIama.

Dalam kitab Al Aham Fi Fiqhi Tholibil 'Ilmi karya Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaf telah disebutkan bahwa terdapat beberapa tingkatan dalam pencarian air tersebut dan menghasilkan hukum yang berbeda. Adapun macam-macam tingkatan tersebut adalah:

1. Pencarian air dalam kendaraan wajib dilakukan ketika sedang menempuh perjalanan jauh. Seperti dalam mobil ataupun kereta api. Jika tidak ditemukan, maka hendaknya mencari pada rombongan yang bersamanya.

2. Mencari dalam batas terdengarnya teriakan minta tolong wajib dilakukan jika memiliki keyakinan ataupun sekedar persangkaan kuat akan adanya air. Jarak pencarian ini adalah dalam radius 300 hasta atau kurang lebih 150 meter.

3. Mencari dalam batas dekat wajib dilakukan jika meyakini adanya air pada batas ini. Jarak batas tersebut adalah radius 9000 hasta atau kurang lebih 4,5 Km. Sebagian ulama memperkirakan  batas ini dengan perjalanan kaki normal kurang lebih selama 1 jam 15 menit.

4. Mencari pada batas jauh tidak wajib dilakukan walaupun yakin ada air pada batas tersebut. Adapun jarak batas jauh tersebut adalah radius yang lebih dari batas dekat.


Sedangkan mengenai kapan aktivitas pencarian air itu dianggap, dalam Hasyiatul Bujayrimi 'ala Syarhil Khotib Asy Syarbini disebutkan:

لا بد في طلب الماء أن يكون بعد دخول الوقت يقينا

"Haruslah dalam pencarian air tersebut setelah masuknya waktu (sholat) secara yakin"

Maka apa bila seseorang sudah berkeliling namun sebelum masuk waktu sholat, maka dia masih dianggap belum mencari air, sehingga belum sah untuk dia bertayammum.


Semoga bermanfaat, barokah dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.

WaLLOHU a'lam

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad


Iqro : Ngaji Sifat Wajib Allah 



| 1:58 AM |

Sebab-Sebab Tayammum

Penjelasan Tayammumm 01 Ada di sini  

Sebagaimana yang sudah kita pahami sebelumnya, bahwa tayammum adalah solusi untuk kondisi tertentu yang menghalangi seseorang untuk berwudlu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.

(Al-Mā'idah [5]:6)


Dalam kitab Al Aham fi Fiqhi Tholibil Ilmi karya Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaf telah diperinci bahwa sebab-sebab tayammum ada 3 macam. Yaitu:


1. Tidak ada air yang dapat digunakan untuk menghilangkan hadats. Kategori ini terbagi lagi menjadi dua macam, yakni;

A. tidak ada secara nyata setelah dicari di berbagai tempat.

B. tidak ada secara syar'i seperti contoh:

    - ada air tapi untuk minum hewan yang dihormati

    - ada air tapi dijual diatas harga wajar

    - ada air tapi terdapat penghalang seperti hewan buas dsb.

    - ada air tapi takut akan penyakit jika dipakai.


2. Sakit

Hukum tayammum saat sakit terbagi dalam beberapa macam, yaitu:

A. Wajib jika dengan menggunakan air dapat menyebabkan kematian.

B. Mubah jika dengan menggunakan air dapat menyebabkan penyakit tambah parah, lama sembuhnya, menimbulkan bekas yang jelas di bagian yang tampak ataupun hilangnya fungsi bagian dari tubuh.

C. Haram jika penyakit tersebut ringan atau tidak terpengaruh oleh air.


Jika terdapat penyakit namun ragu apakah berbahaya oleh air ataukah tidak, maka hukum tayammum tersebut boleh menurut Imam Ibnu Hajar dan tidak boleh menurut Imam Ar Romly.


3. Air dibutuhkan untuk haus/minumnya hewan yang dihormati.

Dalam kitab tersebut telah dijelaskan bahwa hewan yang dihormati adalah hewan yang tidak boleh dibunuh tanpa sebab. Maka kita perlu mengutamakan air untuk minum mereka daripada untuk wudlu. Sedangkan hewan yang tidak dihormati adalah jenis hewan yang boleh dibunuh, dan jenis ini ada 6 macam, yaitu:

1. Orang yang meninggalkan sholat baik karena menentang ataupun malas

2. Orang yang berzina muhson, yaitu berzina padahal dia berada dalam ikatan nikah yang sah

3. Kafir harby, yaitu orang kafir yang tidak ada perjanjian damai bahkan jelas-jelas memerangi kaum muslimin.

4. Murtad, yakni orang yang memutuskan keislamannya baik dengan niat, ucapan ataupun perbuatan.

5. Anjing gila, yakni jenis anjing yang menyakiti/membahayakan seseorang.

6. Babi, karena babi lebih buruk daripada anjing.

Keenam kategori diatas tidak perlu kita utamakan atas air yang kita gunakan untuk wudlu. Terkecuali nomer 1 sampai 4 dapat kita berikan air kepada mereka jika mereka mau bertaubat dari kesalahannya.


Semoga bermanfaat, barokah dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.



WaLLOHU a'lam



Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

TAYAMMUM - NGAJI FIQH IBADAH 101

 KAMIS SELALU OPTIMIS

Muntilan, 12 Agustus 2021 M

٣ محرم ١٤٤٣هـ

=======================

Fiqh Ibadah, Bab 08

TAYAMMUM  

(bag. 01)
Definisi & hukum TAYAMMUM


Pengertian tayammum menurut ahli bahasa bermakna القصد atau maksud. Sedangkan menurut istilah para ahli fiqh, tayammum adalah perbuatan menyampaikan debu ke wajah dan dua tangan dari tempat manapun dengan niat yang khusus.

Hukum tayammum secara rinci ada empat macam. Yaitu:

1. Wajib jika takut binasa sebab menggunakan air, dan jika tidak ada air secara nyata.

2. Mubah jika mampu berwudlu dan menggunakan air, namun harus dengan cara membeli dengan harga diatas kewajaran. Begitu pula jika tidak ada air di awal waktu tapi dia tahu / meyakini / ada persangkaan kuat bahwa akan ada air di akhir waktu.

3. Makruh jika diulang-ulang tanpa alasan.

4. -Haram tapi sah jika bertayammum dengan debu ghosob (tanpa izin pemilik)

    -Haram dan tidak sah jika ada air yang dapat digunakan tanpa halangan.


Tayammum dapat menggantikan kedudukan wudlu untuk hadats kecil. Dapat pula menggantikan mandi besar untuk hadats besar. Jika seseorang bertayammum untuk hadats kecil, maka akan menjadi batal bila terkena hal-hal yang membatalkan wudlu. Sedangkan jika bertayammum untuk hadats besar, maka akan menjadi batal jika menemukan air dan mampu menggunakannya. Adapun untuk teknisnya, tidak ada yang membedakan keduanya selain niat.


Semoga bermanfaat, barokah dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.

WaLLOHU a'lam

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

Lanjut Tayammum 02 

| 10:00 AM |

WAJIB MANDI / FIQIH ISLAM

 KAMIS SELALU OPTIMIS

Muntilan,  1 Juli 2021 M

۲۰ ذو القعدة ١٤٤٢هـ

=======================

Fiqh Ibadah, Bab 06


MANDI   

 (bag.02)

(Hal-hal yang mewajibkan mandi)


Dalam beberapa kondisi, mandi menjadi syarat yang wajib dilakukan sebelum melakukan ibadah seperti sholat dan lain sebagainya. Hal-hal yang mewajibkan seseorang melakukan mandi wajib ada enam hal. Dari keenam hal ini, terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama khusus terjadi pada Wanita saja. Seperti haid, nifas dan wiladah (persalinan). Sedangkan bagian kedua terjadi baik pada Wanita maupun pria, yaitu jima’ (bersenggama), keluarnya mani dan kematian. Akan kita bahas hal itu satu persatu.

1. Jima’ (bersenggama)

Jima’ adalah masuknya hasyafah (bagian kepala dzakar) kedalam farji. Dalam hal ini Rosulullah telah bersabda dalam salah satu haditsnya

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : ” إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ “.

Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda : “Apabila (seseorang pria) duduk di antara kedua tangan dan kaki kemudian bersungguh-sungguh (melakukan hubungan) maka telah wajib untuk mandi” (HR. Bukhari, no. 291)


Yang dimaksud farji disini adalah segala hal yang biasa disebut sebagai kemaluan. Baik qubul maupun dubur, dari manusia ataupun hewan, dalam keadaan hidup maupun mati. Walaupun sebagian besar dzakar belum masuk kedalam farji, bila sekiranya hasyafah sudah masuk dalam farji hingga tak terlihat  maka wajiblah atasnya mandi.

2. Keluarnya mani

Dalam tinjauan fiqh, ada tiga cairan hampir serupa. Yakni;

- Mani (cairan berwarna putih, keluar secara tersendat-sendat sebab syahwat dan biasanya diakhiri dengan lemas setelahnya)

- Madzi (cairan berwarna putih dan encer yang keluar ketika bangkitnya syahwat yang belum sempurna)

- Wady (cairan putih keruh yang keluar setelah kencing atau saat mengangkat benda berat)

Hukum keluarnya mani adalah suci dan mewajibkan mandi. Sedangkan madzi dan wady adalah najis dan hanya membatalkan/mewajibkan wudlu. Dalam salah satu hadits disebutkan:

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ 

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa'id al-Aili telah menceritakan kepada kamiIbnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru bin al-Harits dari Ibnu Syihab telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman telah meriwayatkan kepadanya dari Abu Sa'id al-Khudri dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda "Sesungguhnya air (mandi wajib) itu disebabkan karena (keluarnya) air mani".(HR. Muslim, no. 519)

Jika terjadi keraguan atas cairan yang keluar apakah itu mani ataukah madzi/wady, maka kita diberikan kesempatan untuk memilih antara hukum keduanya dengan konsekwensi masing-masing. Dengan artian, bila kita memilih menganggapnya sebagai mani, maka hukum cairan tersebut suci tapi diwajibkan mandi. Dan bila menganggap sebagai madzi, maka tidak diwajibkan mandi dan cairan tersebut dihukumi najis.

3. Haid

4. Nifas

5. Wiladah (bersalin)

6. Kematian 

Insyaallah akan kita sempurnakan pembahasan secara rinci pada bab masing-masing


Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.



WaLLOHU a'lam




Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

| 8:18 PM |

RUKUN MANDI / SYARIAT ISLAM

 KAMIS SELALU OPTIMIS

Muntilan, 8 Juli 2021 M

٢٧ ذو القعدة ١٤٤٢هـ

=======================

Fiqh Ibadah, Bab 06


MANDI   

 (bag. 03)

(Rukun Mandi)


Para ulama Syafi'iyah menyebutkan bahwa rukun mandi wajib hanya ada dua macam, yaitu:


1. Niat

Niat dalam hati ini wajib dilakukan ketika basuhan pertama kali mengenai tubuh. Sedangkan contoh lafadz yang sah untuk mandi besar ini adalah;

- نَوَيْتُ فَرْضَ الْغُسْلَ 

Saya niat wajibnya mandi

Atau 

- نَوَيْتُ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ 

 Saya niat mengangkat hadats besar

Dan lain sebagainya.


2. Meratakan air ke seluruh badan.

Wajib hukumnya meratakan air basuhan ke seluruh permukaan anggota tubuh. Bila ada sedikit bagian yang tidak terbasuh, maka belum dianggap sah mandi wajibnya.

سُئل جابرٌ رَضِيَ اللهُ عنه: كيف الغُسلُ مِن الجَنابة؟ فقال: ((كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يأخُذ ثلاثةَ أكُفٍّ ويُفيضُها على رأسِه، ثم يُفيضُ على سائِرِ جَسَدِه. (رواه البخاري (256))

 Telah ditanya Jabir R.A. bagaimana (cara) mandi sebab janabat? Maka beliau berkata, "Dulu Nabi SAW. mengambil tiga tangkup air dan menuangkannya ke atas kepala Beliau, kemudian menuangkannya ke seluruh jasad Beliau." (HR. Bukhori, 256)


Yang harus menjadi perhatian kita juga adalah bahwa seluruh lipatan-lipatan tubuh haruslah terbasuh semuanya. Maka jika asal siram tanpa diusap/digosok untuk memastikan ratanya air ke seluruh area lipatan, besar kemungkinan ada bagian yang tak terbasuh. Di antara lipatan-lipatan yang rawan tersebut adalah telinga, ketiak, pusar, lipatan perut, area kelamin, lipatan pantat, dsb. Cara mengatasinya adalah menggosok bagian² tersebut sambil menyiramkan air.


Dan yang tidak kalah penting juga adalah seluruh basuhan wajib tersebut harus menggunakan air mutlaq. Tidak sah hukumnya jika kita meratakan basuhan mandi wajib sambil menggunakan sabun ataupun shampo. Bila basuhan sudah merata, barulah kita diperbolehkan menggunakan sabun ataupun shampo tersebut.


Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.

WaLLOHU a'lam

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

Lanjut Artikel WAJIB MANDI 

| 8:15 PM |

SUNNAH SUNNAH MANDI JINABAT /SYARIAT ISLAM

 KAMIS SELALU OPTIMIS

Muntilan, 15 Juli 2021 M

٥ ذو الحجة ١٤٤٢هـ

=======================

Fiqh Ibadah, Bab 06


MANDI   

 (bag. 04)

(Sunnah-sunnah Mandi)


Para pembaca yang dirahmati Allah. Sebagai hamba yang ingin mendapatkan keridloan Allah, tentunya kita perlu memaksimalkan segala bentuk ibadah kita kepada Allah. Dengan cara menjalankan sesempurna mungkin ibadah kita tersebut baik secara rukun, syarat maupun kesunnahan di dalamnya. Dalam kita melakukan mandi wajib ataupun sunnah, kita juga mendapatkan anjuran-anjuran kesunnahan yang sebaiknya selalu kita perhatikan. Sebenarnya banyak sekali detail-detail sunnah dalam mandi yang diajarkan oleh Rasulullah, seperti pada hadits:

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اغتسل من الجنابة غسل يديه ، ثم توضأ وضوءه للصلاة ، ثم اغتسل ، ثم يخلل بيده شعره حتى إذا ظن أنه قد أروى بشرته أفاض عليه الماء ثلاث مرات ، ثم غسل سائر جسده


Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; dia berkata, “Bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dari janabah, maka beliau mulai dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhunya untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air kemudian menyela dasar-dasar rambutnya, sampai beliau menyangka air sampai ke dasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan kedua tangannya sebanyak tiga kali kemudian beliau menyiram seluruh tubuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Untuk memudahkan pelaksanaan sunnah-sunnah tersebut, secara teknis, para ulama telah mengajarkan kepada kita setiap langkah dalam melakukan mandi agar dapat mencakup semua kesunnahan yang diajarkan oleh Rasulullah.


Urutan teknis yang disunnahkan dalam mandi;

1. Hendaknya menghilangkan segala macam kotoran sebelum memulai mandi. Seperti tetesan mani, najisnya kencing, maupun berbagai materi yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit seperti cat, pewarna kuku sintetis, dsb. Termasuk pula materi yang dapat merubah mutlaqnya air, seperti bedak, makeup, pelembab kulit, dsb.

2. Hendaknya menghadap kiblat, membaca basmalah, bersiwak, membasuh dua telapak tangan, berkumur, dan membersihkan hidung masing-masing tiga kali, dan berniat melakukan sunnah-sunnahnya mandi dalam semua yang dilakukan tersebut.

3. Membasuh area kemaluan dan sekitarnya dengan niat mengangkat hadats besar darinya, atau dengan niat mandi sunnah jika mandi tersebut dalam rangka mandi sunnah.

4. Berwudlu secara sempurna dengan melakukan sunnah-sunnahnya wudlu termasuk mengulangi berkumur dan lain sebagainya karena itu mengandung unsur pahala.

5. Hendaknya menutup aurat ketika mandi, yakni qubul dan dubur. Dan disunnahkan menutup sisa aurat yang lain.

6. Mengalirkan air ke bagian kepala sambil menyela-nyela rambut dengan berniat mengangkat hadats dari seluruh tubuh. Atau berniat mandi sunnah jika mandi tersebut bertujuan sunnah.

7. Menggosok dan mengaliri lipatan-lipatan tubuh yang rawan tidak terbasuh air.

8. Meratakan air dengan urutan bagian depan sebelah kanan, lalu bagian belakang sebelah kanan, kemudian bagian depan sebelah kiri, dan selanjutnya bagian belakang sebelah kiri. Urutan basuhan ini dapat diulangi tiga kali.


Lanjut : RUKUN MANDI

Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, aamiin.

WaLLOHU a'lam

Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

| 8:14 PM |

NAJIS SULIT DIHILANGKAN

 KAMIS SELALU OPTIMIS

Muntilan, 29 Juli 2021 M

١٩ ذو الحجة ١٤٤٢هـ

=======================

Fiqh Ibadah, Bab 07



NAJIS  

(bag. 02)


Najis adalah sesuatu yang sering bersinggungan dengan kita. Dalam aktivitas sehari-hari, kita tidak mungkin menghindari najis karena memang selalu ada di sekeliling kita. Namun, syariat telah memberikan solusi untuk mengatasi benda yang terkena najis tersebut agar kembali suci. 

Sayangnya, tidak semua najis mudah dihilangkan begitu saja. Kadang kita jumpai materi najis yang sudah menyatu dengan benda yang terkena sehingga bekas najis tersebut sulit sekali untuk dihilangkan.


Bila najis tidak bisa dihilangkan dengan satu kali basuhan, maka wajib kita tambah dengan basuhan kedua. Jika masih belum hilang, maka wajib kita tambah dengan basuhan ketiga.

Jika setelah diulangi basuhan tapi belum juga hilang, maka dalam ilmu fiqh kondisi ini disebut dengan حَالَةُ التَّعَسُّرِ (kondisi sulit).

Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaf dalam kitabnya Al Aham fi fiqhi tholibil 'ilm menyebutkan:

الحكم فى حالة التعسر ننظر؛

١. إن بقي اللون فقط أو الريح فقط :حكمناه بطهارة المحل.

٢. إن بقي اللون و الريح معا أو الطعم وحده: وجب زيادة الغسلات حتى تزول مع الإستعانة بنحو صابون

Hukum (najis) dalam kondisi sulit (dihilangkan) dapat kita lihat;

1. Jika tersisa warna saja atau aroma saja maka kita menghukuminya dengan kesucian tempat.

2. Jika tersisa warna dan aroma secara bersamaan atau rasa saja maka wajib ditambahkan basuhan sampai hilang dengan bantuan semacam sabun.

(Al Aham fi fiqhi tholibil 'ilmi, hal.48)


Jika sekiranya ada orang berpengalaman mengatakan bahwa najis ini tidak akan bisa hilang kecuali dengan dipotong, maka kondisi ini disebut dengan حَالَةُالتَّعَذُّرِ (kondisi 'udzur). Hukum najis kondisi seperti ini adalah dimaafkan dan sah jika terbawa dalam sholat. Jika di kemudian hari ditemukan teknis untuk menghilangkan bekas najis tersebut maka wajib dihilangkan.


Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan kita memperoleh keridloan Allah SWT, Aamiin.


WaLLOHU a'lam


Abu Muchammad, Ubaidillah bin Muchammad

| 8:10 PM |

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top